Beberapa waktu lalu saya sempat menulis artikel dengan judul Travel ke Luar Negeri, Obat Mujarab untuk Memulihkan Hati yang Patah. Ketika tulisan tersebut dibuat, harga Dollar Amerika berada di kisaran 13.500 rupiah. Sementara saat ini Dollar Amerika semakin jauh meninggalkan posisi 13.000 rupiah, menuju ke posisi 14.000 rupiah. Dalam jangka pendek, menengah maupun panjang, belum terlihat tanda-tanda Dollar akan kembali ke posisi yang "enak" untuk traveler Indonesia.

Tulisan tersebut mungkin terdengar bagai impian di siang bolong. Membicarakan mengenai travel ke luar negeri saat Dollar Amerika sedang terbang tinggi.

Secara realistis, Dollar Amerika pasti mempengaruhi budget seorang traveler. Mulai dari tempat tinggal yang dipesan sampai tiket pesawat, semuanya terkait dengan penggunaan Dollar. Meskipun kita menggunakan mata uang negara tujuan, tetap saja mata uang tersebut dipatok menggunakan acuan Dollar, bukan Rupiah. Bila Dollar menguat, mata uang negara tujuan umumnya juga ikut naik, dari sudut pandang rupiah.

Contoh nyatanya bisa dilihat dari Thailand Baht, sebelum Lebaran , mata uang ini ada di kisaran 380-390 Rupiah, per Baht. Setelah lebaran mata uang ini dihargai 410 Rupiah per Baht. Entah berapa harganya sekarang, yang pasti masih di atas 400 Rupiah. Hal yang sama juga terjadi dengan Dollar Singapura , Ringgit Malaysia dan Peso Filipina.

Travel ke luar negeri pasti akan memakan biaya. Namun menurut saya, bila kita mengunci diri kita dengan nilai Dollar Amerika, kita tidak akan melangkah semeter pun keluar dari Indonesia. Kita tidak mungkin menunggu agar Dollar Amerika turun ke posisi 12.500 baru mulai travel ke luar negeri (target pemerintah dalam jangka pendek adalah 13.400). Bila memang sudah ada budget, ya tinggal disesuaikan. Jangan membatalkan perjalanan!

Advertisement

Move On dan jangan berandai-andai Dollar kembali ke 12.500 atau bahkan 9.000

Selama saya menjadi warga negara Indonesia, dari tahun ke tahun harga cenderung naik. Tetapi apakah ini membuat saya harus menunggu untuk menjalankan suatu rencana ? Ilustrasi sederhananya, bila sepasang kekasih sudah yakin untuk menikah (dan sudah direstui kedua pihak keluarga), lalu ekonomi memburuk. Saya yakin pasangan tersebut akan tetap melangsungkan pernikahan, hanya saja dengan cara yang lebih sederhana.

Begitu juga dengan traveling ke luar negeri….

Dengan bijaksana kita bisa mencari penginapan dalam bentuk dorm yang lebih murah. Juga kurangi budget belanja, ingat ini traveling, bukan shopping! Selain itu, yang juga biasanya memakan biaya besar adalah oleh-oleh. Tidak perlu merasa tidak enak hati kalau memang sama sekali tidak beli oleh-oleh. Nggak dosa kok, kalau kita pulang dari luar negeri tanpa bawa oleh-oleh.

Semakin muda usia kita, semakin baik untuk pergi ke luar negeri. Kita masih memiliki kesehatan yang menunjang untuk mengeksplorasi tempat-tempat yang belum pernah kita lihat. Saat sudah berusia lima puluhan nanti, walaupun memiliki uang berlimpah, belum tentu kita kuat menjelajahi Angkor Wat di Kamboja atau berjalan kaki menikmati kota tua di Hanoi. Ketika itu mungkin kita bisa pergi ke luar negeri, namun kita akan lebih banyak menghabiskan waktu di hotel atau mau tidak mau ikut bus rombongan tour yang biasanya lebih banyak menggiring kita ke toko atau pabrik tertentu agar kita menghabiskan uang disana.

Pergilah selagi bisa, selagi sehat dan selagi ada kesempatan!

Atau…..tidak sama sekali.

Sekarang mengenai tidak sama sekali

Bagian ini juga cukup realistis untuk dipikirkan. Dalam pelajaran SD ketika saya bersekolah dulu, travel tidak termasuk dalam kebutuhan primer. Sehingga kalau memang tidak ada budget, ya sudah lupakan dulu impian untuk pergi ke luar negeri. Jangan pernah bermimpi kalau memang tidak ada niat untuk mewujudkannya. Karena kalau seperti itu kita akan merasa stress, ingin ke luar negeri tetapi tidak ada biaya. Setiap hari hanya baca-baca pengalamanan perjalanan orang lain di luar negeri atau melihat-lihat gambar di internet.

Tidak setiap orang harus pergi atau ingin ke luar negeri. Bila memang tidak ada biaya, tidak perlu dilakukan. Apalagi kalau memang masih ada kebutuhan lain yang lebih mendesak. Penuhi dulu kebutuhan yang lebih prioritas. Lalu menabung sedikit demi sedikit, dan pikirkan lagi impian untuk pergi ke luar negeri. Tidak perlu gengsi bila ingin membatalkan rencana perjalanan yang sudah disusun. Tetapi jangan juga dijadikan beban pikiran. Jangan pikirkan dan jangan sesali sesuatu yang sudah dibatalkan.

Ingat, pergi atau tidak sama sekali !

* tulisan ini dibuat tanpa mengurangi rasa hormat pada tujuan wisata domestik. Perlu diingat tujuan wisata domestik pun bukan berarti biayanya lebih murah. Sebaliknya bisa jauh lebih mahal daripada biaya ke luar negeri.