Tuhan, lilin kecil di depanku menari membiarkan sebagian tubuhnya terbakar oleh api. Ia adalah sumber bahagia bagi setiap orang yang merayakan pergantian usia. Seharusnya seperti itu. Akupun ingin seperti itu. Tapi kali ini, aku memandanginya dengan rentetan air mata kesedihan. Angka 25 di depanku, cahaya lilin di gelap malamku tak dapat menerangi apapun. Tak dapat menghiasi apapun. Kesedihan ini menggenapi semuanya. Duka dan luka ini melengkapi semua nya.

Tuhan, ketika aku berkata "Aku tak ingin merayakan ulang tahun u kali ini," bukan berarti aku menginginkan ini semua terjadi. Bukan berarti senyuman bahagia itu harus terganti dengan ribuan tetesan air mata ini. Aku hanya sedang tak ingin pesta mewah. Aku hanya menginginkan satu ucapan ulang tahun dari semua orang yang aku sayang. Hanya itu saja rasanya cukup untukku.

Tuhan, akan aku hentkan ribuan doa untuk hari ini. Aku hanya meminta satu. Bahagiakan aku, satukan semuanya. Jangan ambil apapun dariku. Setidaknya, sebelum aku lengkapi semua kebahagiaan ini dengan ribuan mimpi yang menanti untuk terkabul.

Tuhan, hilangkan dia boleh? Dia yang sudah menjadi perusak. Dia yang sudah mengambil semua. Kembalikan apa yang menjadi milik kami. Bila ini satu hal yang sangat tidak mungkin, bukankah denganMu segala tak ada yang tak mungkin? Senyuman masa kecilku yang telah dia ambil, bisakah dia kembalikan? Atau hal yang paling sederhana di hari ini, ucapan selamat ulang tahun dari seseorang yang dari dulu selalu menjadi orang kebanggaanku.

Dia juga telah mengambil semua itu. Hari yang seharusnya jadi hari bahagia dia juga yang telah merubahnya, dia mengambil senyum ku, merubahnya menjadi air mata.

Advertisement

Tuhan, dulu matanya adalah segala masa depanku. Pintanya seolah perintah bagi hidupku. Sebelum di suatu pagi, kutemukan api tertanam dalam matanya. Api itu membakar semua. Api itu membumihanguskan bahagiaku. Api itu merubah semuanya. Hingga kutemukan dari mata yang lain, lembah kesedihan tiada tara. Lembah kesedihan yang mengalirkan sungai air mata penuh darah. Merobohkan kekuatan hatinya yang terbakar habis oleh api di sudut matanya

Tuhan, malam ini, dengan lilin kecil di depanku. Dengan segala yang telah terjadi. Aku akan tetap percaya, bahwa rentetan air mata ini akan Kau ganti dengan jutaan senyum kebahagiaan di kemudian hari. Aku percaya, bila ini inginMu mengajarkan aku sebuah kedewasaan akan Kau kuatkan segenap hati ini. Aku percaya, semua akan indah karenaMu. Seperti aku percaya, bahwa mentari esok akan kembali lagi.