Mungkin tidak ada yang mampu membayangkan, bahkan menerka pun sangat tidak sesuai dengan penalaran.

Bisakah kau menerka, bagaimana rasanya berpisah sementara waktu? Atau Bisakah kau menebak bagaimana rasanya harus berpisah karena waktu?

Saya mengulang-ulangi kalimat itu sampai terdengar basi. Bukan karena saya mulai mempertanyakan tentang takdir Ilahi, bukan sama sekali. Jadi jangan berasumsi. Saya hanya mengulang-ulang setiap katanya sebagai pengingat bagi kepala. Sebab menurut ketentuan-Nya. Lebih baik berpisah untuk sesuatu yang sah. Nanti dan itu pasti.

Ya, pada akhirnya akan saya dapati sebuah kejenuhan. Penasaran. Keterburu-buruan. Namun pada satu titik, saya berhenti sejenak. Memberi jarak. Menghilangkan segala kerak kenangan dalam benak. Dan sekarang, saya tak pernah bosan. Yang dirasakan, jauh adalah kenikmatan yang bisa kau bagi pada penciptamu. Jauh adalah cinta dan rindu yang terikat dalam doa. Jauh adalah dekat yang tertunda.

Lalu, mereka mengira dengan berdua bisa lebih dahulu mengetahui tentang kenyamanan satu sama lain. Jika benar adanya. Mungkin Allah tidak akan melarang pegangan tanpa ikatan. Ah, Allah hanya terlalu baik. Dia tidak mau wajah cantikmu luntur oleh airmata.

Advertisement

Kini, yang saya rasakan, jauh adalah ikatan yang menguat. Niat yang mengikat. Setia yang tertambat. Dan yang semakin saya rasakan, jauh adalah waktu yang nantinya sama-sama kita nikmati.

Ini hanyalah perpisahan yang telah disepakati waktu. Yang saat jauh, Rindu hadir dengan berbagai macam rasa hingga berbagai macam jenisnya. Dan walau kadang kita mengkhayalkan tentang segala hal. Membayangkan pertemuan dengannya yang sedang asyik membangun masa depan.

Yup, Kadang realita membuyarkan khayal yang belum sampai rampung.

Dan saya semakin harus mempersiapkan segalanya. Memperbaiki diri. Menjadi pribadi baru kembali. Mempercantik hati. Membuat senyum terbaik.

Yah, walau sekarang kita harus menikmati sendiri yang beda. Karena jauh yang harus selalu kita. Karena cinta yang baik membutuhkan hati yang cantik untuk bertumbuh kembali. Dan walau sekarang kita saling merasa ada yang mengetuk-ngetuk dalam dada. Rindu yang menjadi semacam fantasi yang membuat kita selalu memiliki rasa yang sama. Rasa ingin segera bersua.

Jangan berasumsi bahwa jauh yang kita rasakan saat ini adalah semacam konspirasi pemilik semesta agar kita saling menyepakati waktu. Bukan. Tuhan hanya sedang butuh waktu mempersiapkan segala kebahagiaan.

Tenang. Adzan dan iqamah selalu datang tepat waktu. Bagaimana mungkin Dia telat mempertemukan.