Kepalaku memang terlalu rumit. Hati apalagi, terlalu pemilih untuk hanya membuka pintu walau hanya sedikit. Itulah kenapa saya terlalu berencana bahkan terlampau matang. Pernah kau mendengar, "Orang diam adalah orang dengan pikiran sibuk"? Sialnya, seringkali apabila saya bertemu dengan engkau, maka matamu yang seperti busur panah itu senantiasa menghilangkan susun kataku. Tergagu. Padahal saya selalu tidak mau dikalahkan dalam perdebatan manapun. Ah, apalah artinya perdebatan jika perbedaan adalah pertanda bahwa hidup itu menarik.

Kuceritakan sebuah kisah.

Dahulu kala, pernah terkabulkan sebuah harap dari seekor itik buruk rupa yang berharap menjadi angsa.

Jika kisah ini belum cukup, mari menyeberang jauh dalam kisah-kisah yang memecah imajinasi, menghempas keras di satu titik akhir. Akan kau dapati pada suatu masa Ada yang memuji-mujimu setinggi langit seolah-olah kau langit itu sendiri. siapa kau? mereka tahu pun tidak. Jadi Jangan kaget, ketika kau tak memiliki apa-apa. Padahal waktu itu kau sedang mengantongi berlian. Berlian kecil memang. Tapi Mereka takkan melihatmu. menyapamu? Jangan Harap!

Di lain waktu, saat pada akhirnya ia tahu di kantongmu ada berlian, jangan terkejut bila tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahmu ketika hari masih begitu pagi. Membawakan sarapan, alasannya. Jadi, kau masih berpikir mereka akan memahamimu? Mustahil. Isi kepalamu terlalu rumit, hatimu bahkan lebih sulit. Setidaknya kau tahu bahwa langit tidak perlu mengatakan dirinya tinggi.

Advertisement

Maka, membandingkan konsep kepalamu dengan kepala oranglain dan jalan kebahagiaan yang sedang kau pilih ke kepala semua orang sepenuhnya merupakan upaya intimidasi. Mencoba menanyakan “Bagaimana jika kau berada diposisiku? Ah serius, Kenapa kita tidak bertukar hati saja? Maka kan kau dapati, hatiku tidak dalam posisi baik-baik saja seperti Asumsimu. Cerita-cerita yang berbungkus kemasan ‘Telah berbahagia, kamu kapan?

Hati yang sedang berusaha bangkit bahkan hati itu telah menemukan ikhlas yang luas. Luarbiasa, pertanyaan sederhana tanpa koma telah merapuhkan kepercayaan dirinya kembali.

Tahukah kau, Hati yang berkabut itu suatu kali pernah menciptakan pelangi dan melarutkan senja, sehingga banyak orang mengabadikannya dalam ceruk kenangan, hingga menanamnya juga di bawah jendela kamarnya. Sebagai penghibur kala mereka patah hati, mereka ingat untuk tetap semangat. Mungkin itulah sebagian dari kenapa Tuhan menciptakanmu sepaket dengan kekecewaan adalah Karena kamu mampu, Maka kamu lagi, kamu lagi.

Ada masanya bagi kamu, seperti Tuhan telah menjadwalkan kapan mawar harus mekar. Bersabarlah menunggu, jika kau ingin tahu. Mereka tak lama lagi hadir untukmu.