Romantisisme adalah suatu zaman pergerakan revolusi melawan norma-norma kebangsawanan, sosial dan politik yang dipelopori oleh Jean Jacques Rousseau (Prancis). Epistemologi didasarkan terhadap alam pada seluruh kegiatan manusia dalam bidang seni, sastra, dan intelektual. Romantisme bukan hanya terkait soal perasaan cinta lawan jenis, tetapi bagaimana pelopor amat terbuka mengungkapan perasaan mereka mengenai hak-hak manusia dan kebebasan individu (Syosofyan, 2011).

Dalam buku Rousseau, “Emile: Ou de l’education” (1938) terdapat gagasannya tentang pendidikan yang mempengaruhi perkembangan teori pendidikan barat. Yaitu, manusia harus dididik sejak anak-anak dan pendidikan hendaknya disesuaikan dengan prinsip “back to nature” (Suhelmi, 2001). Oleh karena itu, kaum romantik membenci kehidupan modern, industrialisasi, dan ekspansi kapitalisme yang merusak tatanan hidup masyarakat tradisional dan kehidupan alamiah.

Rousseau menentang teori pendidikan "abad pencerahan" dengan menyatakan bahwa pendidikan seharusnya mengembangkan potensi yang dimiliki siswa, dan tidak memaksakan apa yang tidak ada dari diri siswa. Pendidikan tidak hanya sebatas mengajarkan ilmu, karena pengalaman adalah guru yang terbaik (Kesuma, 2003). Tetapi, pengalaman juga tidaklah cukup dalam menjelaskan segala sesuatu dalam epistemologi Kristus.

Rousseau juga berpendapat bahwa anaklah yang menjadi pusat dalam pendidikan. Jadi, saya menyimpulkan tujuan pendidikan menurut Rousseau adalah pembelajaran seharusnya dilakukan secara nyata (Contextual Learning) dan Student-center (Kontruktivisme) untuk dapat meningkatkan mutu pembelajaran.

Dalam perspektif Kristen, pendidikan merupakan suatu jalan dalam kegiatan penebusan oleh Yesus Kristus kepada umat pilihannya (Knight, 2009). Para murid dapat dilihat sebagai anak-anak Tuhan yang segambar dan serupa dengan Tuhan dan merupakan alasan untuk siapa Yesus mati (Kejadian 1:27).

Advertisement

Tujuan Pendidikan Kristen ada terdapat dalam Lukas 15, tentang perumpaan domba yang hilang, yaitu melalui pendidik yang berusaha mengembalikan gambar dan rupa Tuhan dalam setiap murid dan rekonsiliasi antara para murid dengan Tuhan, sesama murid, diri mereka sendiri, dan alam (Knight, 2009). Jadi bisa dikatakan guru adalah agen-agen rekonsiliasi.

Gagasan Rousseau sangat membantu dalam perbaikan pendidikan yang lebih bermutu. Tetapi ada beberapa hal yang perlu di kritisi sebagai calon pendidik Kristen nantinya, yaitu bahwa metode pembelajaran yang benar adalah God-centered, Teacher-direct dan Student-oriented. Pusat dari segala sesuatu di kehidupan ini adalah Tuhan Yesus, dan setiap manusia harus berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan. Setiap guru harus mampu menjadi penuntun yang membawa para murid berjalan bersama Tuhan di dalam kelas-Kolose 3:16 (Brummelen,1998).

Rousseau berpendapat bahwa penilaian tidak penting dan tidak baik karena merusak individualis seseorang. Hal ini tidak dapat disetujui sesuai dengan kriteria sekolah Kristen. Penilaian memang tidak selamanya harus menjadi titik acuan dalam suatu standar pendidikan, tetapi penilaian dan evaluasi dapat menimbang sudah sejauh mana pengetahuan anak selama proses pembelajaran anak tersebut.

Kesimpulan yang dapat diterima melalui zaman romantisisme yang dipelopori oleh Jean Jacques Rousseau, bahwa pendidikan sangat penting, tetapi manusia sebagai makhluk sosial tidak boleh memandang pendidikan hanya sebatas pemuasan pengetahuan akan kebutuhan diri sendiri. Oleh karena itu pendidikan ada untuk kebutuhan hidup masa depan bersama dalam kalangan sosial masyarakat.

Seorang guru Kristen harus mampu mentransformasikan dirinya ke dalam tujuan pendidikan yang benar. Guru Kristen dapat mengambil beberapa gagasan Rousseau, tetapi yang telah dimodifikasikan dalam kebenaran pendidikan menurut Kristus. Supaya kehidupan anak juga dapat ditransformasikan melalui pendidikan yang menjadi penghubung dalam penebusan bersama dengan Allah. Guru harus dapat membawa anak untuk dapat mengenal Allah dan Kebenaran FirmanNya melalui Alkitab dalam pengetahuan pendidikan yang bermutu.