Beberapa bulan lalu, sebelum terjadi krisis rupiah, dunia sempat tersentak dengan fenomena super dollar. Dollar Amerika menguat bersamaan dengan jatuhnya harga minyak. Secara politis hal ini terjadi karena negara Barat, terutama Amerika berstrategi untuk menjatuhkan harga minyak, sehingga menimbulkan kesulitan bagi Russia , Timur Tengah dan Amerika Selatan. Perlu diingat bahwa pada masa itu Russia sedang mengadakan gerakan untuk menguasai Ukraina. Sulit bagi Blok Barat untuk membendung gerakan mereka dengan cara militer, sehingga pilihan jatuh pada gerakan yang tidak terlalu frontal, yaitu melalui perang ekonomi. Hasilnya cukup bagus, karena rubel Russia langsung rontok.

Perang ekonomi sebenarnya tidak menyasar Tiongkok (China) sebagai target. Tetapi menguatnya Dollar seperti memberi ide tersendiri bagi Tiongkok untuk melakukan gerakan yang "kreatif". Seperti kita ketahui, hampir semua produk di dunia entah di Barat maupun di Timur merupakan buatan Tiongkok. Iphone tercanggih pun diproduksi di Tiongkok, begitu juga dengan merek-merek produk ternama seperti Nike, Adidas, dan lain-lain. Tiongkok sangat kuat dalam memproduksi dan mengekspor produk mereka ke luar negeri.

Dollar Amerika mengalir deras hanya dengan ekspor produk Tiongkok. Maka bila mata uang Yuan dijatuhkan, Tiongkok bisa mendapatkan Dollar dengan nilai yang lebih tinggi. Itulah yang dilakukan sekarang oleh Tiongkok. Menjatuhkan mata uang sendiri untuk mendapatkan keuntungan dari nilai Dollar yang tinggi. Tentunya mereka tidak peduli dengan nasib dunia yang berantakan karena ulah kreatif mereka.

Yang dirugikan dari tingginya Dollar adalah negara-negara yang bergantung pada impor, seperti Indonesia. Mulai dari bahan pangan sampai teknologi sebagian besar diimpor dan dibayar dengan Dollar Amerika. Sehingga ketika Dollar naik, maka ongkos yang harus dibayar untuk segala sesuatu yang diimpor juga melonjak tajam. Hal ini cepat atau lambat akan menimbulkan krisis ekonomi.

Berbanding terbalik dengan Indonesia, Singapura merupakan negara kecil dengan sumber daya yang terbatas. Namun mereka memperoleh pendapatan dari biaya masuk kapal dan barang yang melintasi negaranya. Negara kecil ini memang menjadi semacam pelabuhan untuk distribusi barang dari Asia ke Amerika dan Australia dan arah sebaliknya. Ekonomi mereka cenderung stabil karena negara-negara besar mau tidak mau harus melintas dari tempat mereka, yang perijinannya tidak seberbelit-belit bila melalui Indonesia.

Advertisement

Bisa disimpulkan bahwa memang naik turunnya ekonomi Indonesia memang sangat dipengaruhi situasi dunia. Karena Indonesia belum memiliki landasan ekonomi yang stabil. Sangat disayangkan bila apa yang terjadi sekarang digunakan untuk menyerang tokoh tertentu, seperti Bapak Jokowi misalnya. Menurut saya bisa dikatakan beliau sedang "apes" karena apapun yang beliau lakukan akan sulit membawa dampak yang besar bila negara besar masih terus melanjutkan perang ekonomi.

Yang dilakukan Bapak Jokowi dan jajarannya bisa dibilang sudah cukup baik. Tidak ingin mengulangi peristiwa krisis 98, pemerintah berusaha agar rakyat tidak anarkis. Dengan jurus kartu-kartu ajaibnya, kebutuhan rakyat bisa dipenuhi (walau untuk sementara). Berita mengenai krisis pun tidak di blow up besar-besaran. Selain itu kalau diperhatikan, jajaran pemerintah sering melakukan blusukan sehingga terkesan dekat dengan rakyat.

Namun kita tidak tahu sampai kapan hal ini bisa dilakukan, bergantung pada gerakan-gerakan instan yang hasilnya tidak signifikan.

Menurut pandangan saya, krisis yang akan datang merupakan proses seleksi alam. Orang yang berhasil meningkatkan kualitas hidupnya (banyak belajar, tidak malas, kreatif) akan tetap bertahan. Sedangkan orang yang berpasrah diri, galau, menyalahkan pemerintah (terus menerus) hanya akan jadi bagian yang level kehidupannya jatuh ke bawah. Mulailah berpikir untuk berbisnis atau berusaha sendiri daripada hanya menggantungkan penghasilan dari perusahaan (perlu diketahui, saham perusahan besar sudah jatuh cukup dalam, kalau terus seperti ini akan ada PHK besar-besaran).

Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah memulai usaha secara online, karena biayanya lebih murah, tidak perlu sewat tempat. Selain itu usaha online juga sudah mulai membudaya di Indonesia. Modalnya pun bisa mengambil dari distributor (sistem dropshipper).

Yang berikutnya adalah memperdalam kemampuan bahasa asing, kalau bisa mengambil sertifikasi. Melalui penguasaan bahasa asing, akan lebih mudah bagi kita untuk bekerja di perusahaan multinasional atau NGO (Non Government Organization) dimana umumnya pekerjaan tipe ini penghasilannya cukup besar, karena dinilai dengan mata uang asing (biasanya Dollar Amerika atau Euro).

Bila memang cukup percaya diri, kita juga bisa terjun dalam industri kreatif, misalnya mencoba peruntungan sebagai stand up comedian atau membuat video youtube yang unik. Bukan rahasia lagi, kalau artis dadakan bisa menangguk keuntungan finansial yang besar.

Tulisan ini saya akhiri dengan menyimpulkan bahwa krisis memang terjadi karena akibat global. Namun di balik krisis kita juga masih memiliki peluang untuk meningkatkan taraf hidup kita.

Selamat berjuang!