Tak ada satupun anak di dunia ini yang tidak menginginkan kebahagiaan bagi Orang tuanya. Membuat mereka tersenyum, membuat mereka bangga hingga menangis terharu, seakan telah menjadi tujuan hidup seorang anak yang tak perlu diikrarkan di depan banyak orang, namun selalu tertanam kuat dalam hati & pikiran. Hal itulah yang juga ingin ku lakukan pada kalian Bapak dan Ibu, aku ingin menghujani kalian dengan kebahagiaan yang berlimpah.

Dulu aku pernah berangan-angan. Selepas kuliah nanti, aku akan pergi berpetualang. Seperti dalam kutipan Buku ketiga dari Tetralogi Laskar Pelangi Edensor karya Andrea Hirata,

“ Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecah misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan. Aku ingin ketempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penakhlukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!"

Ah, sebenarnya tidak selebay itu juga. Aku hanya ingin pergi ke dunia yang baru, jauh, asing, memulai petualangan baru, berkenalan dengan orang-orang baru, dan yang paling penting, mendulang rupiah sebanyak-banyaknya demi kebahagiaan kita sekeluarga.

Membayangkan hal itu, membuatku semakin semangat untuk segera menyelesaikan kuliahku. Ya, aku ingin sering-sering membelikan baju baru untuk kalian, membelikan Ibu perhiasan, mengajak kalian makan enak. Kalian tidak perlu lagi bekerja terlampau keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Biarkan aku yang bekerja jauh ke luar sana, dan mengambil alih tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan finansial keluarga. Jangan anggap aku sombong Pak, Bu, atas cita-citaku waktu itu. Aku hanya ingin membuat kalian bahagia.

Advertisement

Tapi ternyata, waktu itu aku salah. Kondisi ekonomi kita yang di bawah rata-rata, membuatku menilai bahwa uang adalah hal terbaik yang bisa membuat kalian bahagia. Padahal tidak. Uang hanyalah salah satu sumber kebahagiaan. Memiliki uang yang berlimpah memang bisa membuat kita bahagia. Seharusnya waktu itu aku tahu, bahwa kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang. Ada hal yang jauh lebih berharga bagi kalian, bahkan bila seluruh komponen yang ada di bumi ini dinilai dengan uang, kemudian kalian diminta menukarkan dengan hal yang kalian anggap jauh lebih berharga itu, aku tahu kalian tidak akan pernah sudi.

Ya, hal yang lebih berharga itu adalah aku. Aku, anak perempuan yang kalian besarkan dengan penuh perjuangan dan cinta kasih. Anak yang selalu membuat kalian rindu ketika semasa kuliah aku pernah tidak pulang ke rumah sampai 5 minggu padahal jarak kita hanya sekitar 70 Km. Anak yang bandel karena sering melakukan penghematan dengan cara-cara ekstrim agar uang sakunya tetap bersisa setiap bulannya. Anak perempuan itu, tidak akan pernah kalian biarkan pergi jauh dari kehidupan kalian.

Jujur aku sempat gundah waktu itu. Ketika kalian benar-benar serius melarangku untuk pergi, aku sempat merasa terkungkung dalam sangkar sepasang bidadari. Aku seperti kehilangan harapan untuk membahagiakan kalian. Lalu apa yang harus aku lakukan? Iya,, aku memang masih bisa bekerja disini. Tapi mungkin aku tidak mendapatkan pekerjaan impianku. Ilmu yang ku pelajari selama empat tahun di bangku perkuliahan seakan sia-sia. Terlebih, aku tidak bisa menghujani kalian dengan rupiah.

Sampai sekian lama aku merenung, & aku menyadari bahwa tak seharusnya aku bersikap demikian. Jika memang aku tulus menginginkan kebahagiaan kalian, aku tidak akan menyiksa kalian dalam kekhawatiran setiap hari. Jika aku menyayangi kalian, maka aku akan senantiasa menentramkan hati kalian. Bukankah ketentraman hati adalah sumber kebahagiaan yang paling hakiki?

Kalian pernah mengatakan padaku kan, bahwa kalian lebih senang jika aku memberikan cangkang siput yang ku temukan di antara pasir pantai, dibandingkan dengan menerima mutiara yang cantik dan berkilau yang aku dapatkan setelah aku menyelam di kedalaman laut tertentu. Meskipun kita sama-sama tahu resikonya, dengan tetap disini, mungkin aku akan jadi orang yang biasa-biasa saja. Mungkin akan sulit bagiku untuk membahagiakan kalian dengan kemewahan seperti apa yang pernah kuimpikan.

Tapi apalah arti menjadi orang hebat, sementara aku membiarkan orang lain, atau justru kalian yang mengurus diri kalian sendiri. Apalah arti kemewahan, sementara untuk mencium tangan kalian saja aku harus menunggu waktu. Tak apa aku biasa saja di mata mereka, asalkan aku senantiasa mampu menjadi superhero untuk keluargaku tercinta.

Pak, Bu, aku akan tetap disini. Aku akan tetap berada di samping kalian. Aku tidak akan pergi jauh. Aku akan menemani kalian minum teh setiap pagi dan sore hari, menemani kalian menonton TV, saling berbagi cerita tentang kehidupan. Aku akan selalu ada kapanpun kalian membutuhkanku untuk sekedar memijat bahu kalian yang lelah. Aku akan merawat kalian ketika kalian sakit. Yakinlah Pak, Bu, aku akan mendampingi & memastikan dengan mata kepalaku sendiri bahwa kalian selalu bahagia hingga ujung usia.