Aku tak tahu. Rasanya aku selalu berdiri di persimpangan. Tak pernah tahu harus melangkah ke mana. Kuakui, dulu aku pernah menyiman rasa padamu. Bisa dibilang kamulah cinta pertamaku. Aku menyukaimu. Aku mengagumimu, mungkin bahkan hingga sekarang. Entah apa yang membuatku suka padamu, sampai-sampai aku pernah merasa sangat kehilangan ketika kau tak lagi di depan mata. Namun aku terlalu pengecut untuk mengungkapkannya padamu. Aku menyimpan sendiri rasa itu. Cukup lama. Yang ku ingat, aku menyukaimu sejak berada di bangku sekolah dasar. Aku tak berani mengungkapkan isi hatiku. Aku terlalu minder. Aku tak seberani wajahku. Akhirnya aku memilih diam dan mundur perlahan. Mungkin itu awal mula terbentuknya aku yang sekarang. Tetap tak pernah berani mengungkapkan perasaan. Setelah terpisah cukup lama, satu hal yang membuatku merasa berada di matamu. Kau masih mengingatku! Kau ingat? Ketika malam itu tetiba kau menampakkan diri di depan kosku? Rasanya aku ingin cepat-cepat merengkuhmu dalam pelukan kecil. Namun aku memilih meneriakkan namamu sambil menutup mulut agar suaraku tak terlalu bising. Itu pertama kali kita bertemu setelah kau menghilang cukup lama.

Setelah pertemuan kecil itu, harapanku untuk bersamamu muncul kembali. Sayangnya, kala itu kau sudah menambatkan hati pada yang lain. Kembali aku berpikir, tak mungkin juga aku menjadi seorang yang lebih dari sekedar teman lama. Teman masa kecil. Aku mulai menepiskan niatku untuk berharap lebih. Hingga hatiku terisi dengan nama baru. Nama yang menghiasi hati dan hari-hariku. Yang menguatkan sekaligus menghancurleburkan diriku. Sekian lama hati ini sibuk dengan upaya untuk bangkit dari keterpurukan. Hingga kau datang lagi menawarkan hal baru. Betapa kagetnya aku ketika kau bilang sayang padaku. Entah mengapa aku sangsi dengan ungkapanmu. Kau menyatakan menyesal, tak pernah tahu sejak dulu bahwa ada aku yang berharap padamu. Entah kau tahu dari mana tentang hal itu. Kau bilang kau tak ingin kehilanganku lagi.

Sungguh aku tak tahu harus senang atau tidak.

Sebab hatiku telah mati olehnya. Aku tak tahu harus bersikap bagaimana padamu. Bukan maksudku mempermainkamu. Maaf. Sampai saat ini aku pun masih tak mengerti mengapa dulu akhirnya aku menerimamu. Mencoba kembali cinta pertama yang telah mati? Mungkin saja. Menjadikanmu pelampiasanku darinya? Bisa jadi.

Sungguh aku terlalu jahat padamu. Yang ku tahu, kau datang terlambat!

Advertisement

Dan aku sempat menyalahkanmu atas keterlambatanmu. Sebenarnya salah kita berdua. Aku pengecut dan kau terlambat. Sampai pada akhirnya, aku merasa hubungan ini tak baik jika diteruskan. Toh hati tak pernah bisa dipaksa. Hatiku masih berkiblat padanya yang menghancurkan. Walau begitu, kau adalah salah satu yang menjabat tanganku dan mengukir senyum. Terima kasih! Kau salah satu lelaki yang paham tentang diriku. Entah kau tahu atau tidak, kau telah membatuku bangkit dan sempat membuatku merasa dicintai. Mungkin harusnya aku tetap memilihmu dan bersamamu. Namun hatiku meragu. Hingga detik ini. Entah mengapa. Kau tahu bukan bila jodoh tak akan kemana? Jika nantinya aku harus bersamamu dalam pernikahan, memang seharusnya kau untukku. Jika tidak, semoga kita bahagia dengan apa yang dipilihkan Allah untuk kita. Jangan pernah kita saling benci. Karena kita pernah tertawa bersama, dulu kala. Teman masa kecil.