Setahuku definisi bahagia itu luas. Bahagia tak hanya bersumber dari satu pintu. Ada ratusan, bahkan ribuan pintu kebahagiaan yang Tuhan siapkan dan lebih dari sebagian pintu itu telah Dia berikan untuk kita. Kita tidak berhak men-judge seseorang tidak bahagia karena ia belum memiliki apa yg telah kita punya, atau sebaliknya, kita juga tidak pantas menganggap diri kita terlalu melas, karena belum memiliki apa yang orang lain punya. Begitu juga halnya dengan aku dan statusku yang mungkin sering dipandang menyedihkan oleh kalian.

Perkenalkan, aku single. Single murni yang taken pun belum. Aku bahkan tidak dekat dengan pria manapun, kecuali hanya sebatas teman. Tapi aku tidak seperti yang kalian pikir. Aku selalu merasa bahagia. Aku bahagia ketika duduk di samping jendela rumahku sambil menikmati secangkir teh dan cemilan setiap pulang kerja. Aku bahagia ketika aku dan keluargaku bisa menghabiskan malam minggu bersama. Aku bahagia ketika hari Minggu terasa begitu cepat karena pekerjan rumah yang terus sambung-menyambung menjadi satu. Aku juga bahagia ketika sesekali menghabiskan waktu bersama teman-teman yang sudah membawa pacar, calon, atau bahkan pasangan sahnya. Aku memang bahagia, karena aku percaya bahagia itu sederhana. Aku percaya bahagia itu punya banyak pintu. Aku punya orang tua yang romantis, baik, bijak, dan penuh kasih. Aku punya adik yang sangat menyayangiku. Aku punya pekerjaan yang cukup bisa dibanggakan. Aku punya cukup tabungan dan aset. Aku punya teman-teman yang baik, setia, meski kadang suka bercanda dan ngebully kelewat batas. Aku sehat wal afiat. Aku punya waktu luang yang cukup. Apalagi? Masih pantaskah aku menggerutu padahal diberi kenikmatan yang begitu berlimpah ini?

Mungkin kalian masih belum mengerti. Di mata kalian aku tetaplah sosok yang cacat. Aku tetaplah sosok nelangsa yang bertopeng kebahagiaan. Sebanyak apapun alasan yang aku utarakan tentang sebab-sebab aku bahagia, mungkin kalian anggap hanyalah kedok. Aku akan tetap terlihat menyedihkan di mata kalian selama aku sendirian. Senyum bahagia yang keluar dari bibirku tetap kalian anggap palsu sebelum aku menggandeng seseorang yang akan aku perkenalkan sebagai pasangan hidupku.

Kalian memang tak sepenuhnya salah. Setiap wanita pasti menginginkan untuk segera menikah dan kemudian menjadi seorang ibu. Pernikahan memang impian besar kebanyakan wanita, termasuk aku. Kadang aku juga merindukan adanya pendampingan, kasih sayang, dan kekuatan yang diberikan oleh seorang laki-laki yang akan menjadi Imamku kelak. Mungkin kebahagiaan yang kurasakan saat ini akan terasa lebih lengkap. Namun pada kenyataannya, aku belum menemukan pasangan yang tepat. Bukan berarti aku tak serius. Aku selalu berusaha memperbaiki diriku menjadi yang lebih baik dalam segala hal. Aku juga tidak pernah menutup diri dari cinta dan laki-laki. Aku juga sadar siapa diriku sehingga aku tidak mematok kriteria yang muluk untuk calon Imamku kelak. Beberapa kali aku telah mencoba berkomitmen, tapi tidak berakhir seperti yang aku harapkan. Kadang aku bertanya-tanya, mengapa dia yang cocok belum juga datang. Padahal aku selalu berusaha melakukan yang terbaik demi keutuhan hubunganku dengan mereka-mereka yang terdahulu.

Walau demikian, tak selayaknya keadaan itu membuatku berduka dan terus dirundung kesedihan. Tuhan memang belum menakdirkan. Dan aku akan selalu berprasangka baik pada-Nya. Mungkin dia yang ditakdirkan bersamaku sangat istimewa, sehingga aku perlu banyak memperbaiki diri agar sepadan dengannya. Atau mungkin, waktunya belum tepat. Bukankah Tuhan adalah penulis skenario yang paling baik?

Advertisement

Wahai kalian, sekali lagi aku tegaskan, bahwa aku bahagia lahir dan batin. Kalian harus percaya hal itu. Banyak pintu kebahagian yang telah aku miliki dan patut aku syukuri. Aku juga bersemangat untuk meraih pintu-pintu kebahagiaan lain yang belum ada di genggamanku saat ini. Termasuk meraih dia, pasangan hidup yang masih menjadi rahasia-Nya. Untuk sekarang, temanilah saja aku. Tertawalah bersamaku sebelum seseorang mengajakku masuk ke dalam lingkarannya dan membuat batas untuk kalian. Bukankah hal itu lebih membahagiakan kita semua? Daripada terus-terusan membicarakan getirnya kesendirianku yang justru akan membuatku benar-benar merasa tidak bahagia?