Untuk muslimah berhijab di manapun kalian berada, maaf kami kurang memahami kalian yang masih berproses untuk menjadi muslimah yang baik.

Kami tidak tahu latar belakang dan beragam kisah yang entah pahit, getir, maupun kisah manis yang menggerakkan hati kalian untuk menutupi mahkota kalian. Yang kami inginkan hanyalah menyampaikan sepotong ayat yang menjadi dasar untuk menutupkan jilbab ke seluruh tubuh kalian.

Karena hijab adalah perjalanan hati, maka izinkan kami menyampaikan dengan hati.

Kalian yang sudah memutuskan untuk berhijab memang tidak dapat dipungkiri mempunyai nilai lebih, karena itu merupakan bentuk ketaatan kalian dalam menjalankan ajaran agama yang kalian anut. Kami salut dengan kalian, ketika beberapa muslimah masih enggan untuk menutupi tubuh mereka dengan dalih,”Lebih baik jilbabin hati dulu, daripada jilbabin diri tapi masih munafik.”

Kalian sudah berani mengubah penampilan dengan harapan, “semoga keputusanku untuk mulai berhijab ini, bisa memudahkan jalanku dalam mendalami agamaku.

Kewajiban saling mengingatkan dalam kebaikan memang nyata adanya. Kami mengingatkan bukan karena kami lebih baik.

Tidak. Banyak orang yang berpendapat bahwa mereka yang mengenakan hijab lebih besar, bertumpuk-tumbuk hingga lekuk tubuh tersamarkan, dengan warna-warna pastel-atau gelap- jauh dari kesan cerah, memiliki ilmu agama yang lebih luas daripada yang berpenampilan biasa. Tapi yang kalian lihat hanyalah cover, penampilan luar, sebagaimana kami melihat kalian dari penampilan luar.

Bisa jadi kalian yang belum sempurna dalam memakai hijab memiliki akhlak yang lebih indah. Santun dalam berbicara, cerdas dalam memberi argumen, sopan saat berhadapan dengan orang yang lebih tua. Bisa jadi kalianlah yang selalu menghidupkan malam-malam dengan bermesraan dengan Sang Khaliq. Mengurangi waktu tidur demi tunduk bersujud di atas sajadah.

Advertisement

Bisa jadi kalianlah yang tidak enggan menyisihkan separuh lebih pendapatan untuk fakir miskin dan papa. Bisa jadi kalianlah yang selama ini memanfaatkan waktu untuk mendidik dan membina anak-anak gelandangan di rumah-rumah singgah, berbagi kisah hidup kalian agar bisa menjadi pelajaran bagi yang lain.

Kami tidak tahu itu, yang bisa kami lihat adalah apa yang tampak, apa yang kalian kenakan. Ketika kami mengingatkan dalam kebaikan, bukan menjadi ajang pamer bahwa kami lebih baik. It’s not about,” I am better than you”. It’s about “Let me show something better for you..”

Memang, syar’i dan tidak syar’i, benar dan tidak benar, bukan urusan manusia. Kami bukan hakim yang memutuskan kalian akan masuk neraka bila melanggar, dan masuk surga bila patuh.

Bukan kapasitas kami, menuding kalian untuk menyalahkan atau membenarkan apapun keputusan kalian dalam berhijab. Di hari perhitungan kelak, kami, polisi moral yang vokal mengomentari sempurna atau tidak hijab yang dikenakan, akan berada pada barisan yang sama dengan kalian yang kami komentari.

Berdiri menunggu pertanggungjawaban atas perilaku kita semasa hidup. Bahkan, hukuman kami akan lebih berat bila komentar atau ceramah yang kami sampaikan justru tidak kami lakukan.

Jika ternyata nasihat-nasihat ini justru membuat kalian enggan untuk berhijab lebih sempurna, kami mohon maaf.

Tidak ada maksud untuk menakut-nakuti kalian dengan gambaran neraka bagi yang membangkang. Bukan soal surga atau neraka. Mari bicara dari hati ke hati. Pernahkan saat masih kecil, kalian dipuji karena telah menghabiskan makan tanpa sisa, atau berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan guru dengan nilai sempurna? Bagaimana rasanya, bahagiakah? Banggakah?

Bagaimana perasaan kalian ketika nama kalian termasuk dalam daftar peserta yang diterima dalam perguruan tinggi negeri favorit atau perusahaan bonafit yang sangat kalian inginkan? Ketika kita mendapat reward atas prestasi yang kita capai, adakah rasa untuk bersorak sekeras-kerasnya, keinginan untuk menunjukkan pada dunia hasil jerih payah kita? Menyenangkan bukan?

Rasakan bagaimana hati kita menjadi hangat hanya dengan mengingat momen bersejarah itu. Sekarang, bagaimana bila apresiasi itu kita dapat dari dzat yang menciptakan kita, sang Pemilik langit dan bumi? Bagaimana perasaan kalian bila namamu disebut oleh Nya, sebagai hamba yang taat, yang dengan ketaatan itu membuatmu dicintai tidak hanya oleh Nya, tapi juga seluruh penduduk langit dan bumi?

Tanpa perlu bercerita pada teman atau keluarga, kalian sudah mendapat reward yang tidak ternilai. Dicintai Allah, dicintai malaikat penghuni langit, setelah itu rasa cinta terhadapmu juga ditumbuhkan pada diri orang-orang shalih yang ada di muka bumi. Adakah hadiah yang lebih layak dari itu?

Kami mohon maaf, jika selama ini komentar kami terkesan menghakimi, terkesan keras, tanpa mau tahu alasan maupun latar belakang kalian mengenakan hijab.

Kalau kalian justru tersinggung, berarti ada yang salah dalam penyampaian kami. Ada yang perlu dibenahi dalam tingkah laku kami, karena untuk urusan saling menasihatipun ada adab yang mengatur. Hanya saja, yang kami tahu, ketika sudah memutuskan untuk berhijab, berarti kalian sudah memahami tujuan berhijab, seperti lanjutan ayat di atas, agar lebih mudah dikenali.

Dengan hijab itu kami mengenali kalian sebagai saudara. Satu tubuh dengan kami. Karena itulah, sebagai bagian yang tidak terpisahkan, kami akan selalu “cerewet” mengingatkan dalam kebaikan. Agar kalian terjaga, agar kalian tidak diganggu dengan bisikan dan godaan mereka yang tidak suka dengan perubahanmu ke arah yang lebih baik.

Karena ketika satu bagian tubuh ini tersakiti, perihnya akan terasa hingga ke bagian tubuh yang lain. Kami mencintaimu, perempuan muslimah yang mau menutup auratnya karena ketaatan pada Allah.