Catatan ini untuk kamu…

Wanita yang sekarang menjadi miliknya. Milik laki-laki yang pernah begitu aku kagumi tapi kemudian aku memutuskan hanya akan menganggapnya kakak laki-lakiku saja.

Kamu begitu beruntung kalau pada akhirnya kamulah yang dipilihnya.

Dia, yang sudah aku anggap sebagai kakak laki-lakiku sendiri. Dia sudah memantapkan hatinya untukmu setelah ada kisah yang begitu memilukan hatinya. Kamu datang layaknya seorang tabib untuknya. Mengobati luka-luka lebam di hatinya. Menyatukan lagi setiap kepingan-kepingan rasa yang telah hancur itu.

Pada akhirnya memang aku harus berbesar hati menerima bahwa memang bukan aku, perempuan yang dia cari itu, tapi kamu.

Advertisement

Aku harus menerima dan aku mohon yakinkan hatimu bahwa saat ini aku hanya menganggapnya kakak laki-lakiku saja. Tidak ada niatan untuk merebutnya dari pelukanmu.

Aku, adik perempuannya. Aku hanya ingin memastikan bahwa kakak laki-lakiku itu bersama wanita yang tepat. Bukan wanita yang akan menyakitinya lagi.

Kamu selalu mengatakan keinginanmu untuk menemukan sosok laki-laki yang bisa menerimamu apa adanya. Kamu sudah menemukannya. Aku sangat yakin bahwa kakak laki-lakiku ini bisa menerimamu apa adanya.

Tapi aku pun mohon kepadamu. Jika suatu saat nanti ada banyak hal tentang kakak laki-lakiku ini yang ternyata tidak sesuai dengan harapanmu selama ini. Aku mohon, terimalah dia sebagai pribadi yang utuh, bersama kelebihan dan kekurangan yang dia miliki. Jadikan dia sebagai laki-laki teristimewa yang pernah kamu temui di dunia ini.

Dan jika suatu saat nanti ada hal yang membuatmu ingin pergi menjauhinya atau pun meninggalkannya. Ingatlah bahwa kalian berdua pernah begitu saling tergila-gila. Ingatlah bahwa kalian berdua pernah berjuang dengan sekuat tenaga untuk bisa bersama. Ingatlah bahwa kalian berdua pernah menikmati begitu indahnya saat-saat kalian bisa bersama berdua. Ingatlah bahwa jalan yang begitu sulit pernah kalian jalani berdua hingga akhirnya bisa bersatu. Ingatlah segala hal-hal indah yang pernah kalian lalui bersama-sama. Ingatlah segala hal baik yang pernah dia lakukan. Ingatlah pengorbanannya untukmu yang selama ini telah dia lakukan.

Terakhir kalinya, aku ingin meminta maaf kepadamu. Bahwa aku pernah begitu cemburu ketika melihat kedekatan kalian berdua. Maaf bila aku pernah menatapmu begitu sinis karena aku belum rela melihatnya bersanding denganmu. Maaf bila sikapku pernah menyakitimu atau tidak berkenan di hatimu. Maaf bila aku pernah begitu mengagumi laki-laki itu, laki-laki yang kini telah menjadi milikmu. Maaf bila aku terkadang masih ingin menatap matanya, melihat senyumnya.

Tapi aku ingin meyakinkanmu bahwa aku tidak punya niatan memilikinya atau merebutnya darimu.

Aku punya kebahagiaanku sendiri. Yang bisa aku dapatkan tanpanya.

Jaga hatinya. Jangan sampai kakak laki-lakiku ini terluka. Ingatkan dia untuk selalu memperbaiki diri. Ingatkan dia untuk selalu menyayangi dirinya sendiri dan menjaga tubuhnya. Aku paham betul kakak laki-lakiku ini. Jika dia sudah bekerja dan beraktivitas seringkali dia tidak mempedulikan tubuhnya sendiri. Ingatkan dia untuk selalu menjalankan perintah agamanya. Hingga kelak dapat menjadi imam yang baik bagi keluarga kalian. Menjadi ayah yang teladan dalam mendidik anak-anak kalian.

Suatu saat izinkan aku mengunjungi kalian. Aku akan datang bersama dengan keluarga kecilku dan mengenalkan kalian kepada anak-anakku. Bahwa kalian adalah sahabat dari bundanya.

Dari aku, perempuan yang pernah mengagumi laki-lakimu dan kemudian memutuskan untuk merelakannya dan menganggapnya sebagai kakak laki-lakinya saja.

Aku akan selalu mendoakan untuk kebahagiaan kalian berdua.