Kita berada pada umur di awal 20-an, yang bisa dikatakan sudah bisa mulai bersikap dewasa. Hubungan kita juga masih hangat-hangatnya. Satu bulan masa perkenalan dan kamu dengan berani mendeklarasikan bahwa kamu memiliki rasa terhadapku. Kamu bukan seseorang yang baru kukenal. Kamu teman sekolahku dulu dan aku cukup mengenal bagaimana lakumu saat itu.

Kamu kuterima dan kita menjalani hubungan ini dengan jarak yang membuat kita tidak bisa dengan mudah bertemu, saling berpegangan tangan dan menguncinya, pelukan dan ciuman mesra, saling menatap mata dari jarak dekat, serta membisikkan kata cinta di telinga masing-masing. Tidak, kita tidak sedang dalam hubungan yang bisa melakukan itu.

Hubungan kita hanya dibantu oleh salah satu aplikasi chat online. Saling membalas chat dan stiker. Hanya itulah alat bantu komunikasi kita sejak perkenalan. Hingga sampai saat ini, aku menikmatinya.

Detik di saat aku menerima pernyataan cintamu, detik itu juga aku sudah mempersiapkan diri untuk menyayangimu dari jarak ribuan kilometer ini.

Kita sama-sama pendatang baru untuk hubungan jenis ini. Ya, hubungan yang di mata orang sangatlah rentan dan penuh tantangan. Jelas bahwa tantangan terbesar kita ialah jarak ini. Seandainya peta Indonesia ini bisa kusihir agar kotamu dan kotaku menjadi berdampingan, maka itu akan sangat menyenangkan.

Lucu ketika mengingat minggu-minggu awal hubungan kita. Aku merajuk kepadamu ingin bertemu. Stiker menangis yang kukirimkan padamu di Line, kamu balas dengan stiker senyuman khasmu dan kamu menenangkanku. Ternyata hubungan ini memang tidak mudah. Apalagi kita belum pernah bertemu sekalipun karena terakhir pertemuan kita ialah di waktu sekolah dulu.

Advertisement

Alasan itu pula yang membuat keinginanku untuk bisa bertemu muka denganmu sangat besar. Namun sayang, pendidikan kuliahmu di sana masih belum selesai. Kamu juga memiliki kesibukan di sana. Komunikasi kita pun tidak pernah sering. Hanya saat siang atau malam hari saja. Itu pun via chat. Tidak ada telepon untuk mendengar suara masing-masing atau video call. Namun, itu sudah cukup bagiku.

Jarak yang mampu memisahkan seseorang yang kucintai sehingga tak mampu bertemu dengannya, tak lantas membuatku membencinya.

Jarak tidak salah dalam hubungan kita. Jadi, untuk apa aku membencinya? Inilah takdirku. Menjalin hubungan dengan seseorang yang jauh, malah membantuku dalam kehidupanku. Aku yang sebelumnya sangatlah manja, tapi berkat dirimu ditambah jarak ribuan kilometer ini, aku belajar bahwa kekuatan cinta yang dipisahkan jarak bisa lebih kuat dibanding yang bisa sering bertemu.

Sama seperti orang sukses di luar sana, tidak semudah itu dia meraih kesuksesan. Dia pasti menghadapi banyak halangan dan rintangan untuk suksesnya. Walau hubungan ini rentan dan banyak tantangan, hanya orang hebat yang mampu menjalankannya. Karena untuk mencapai kebahagiaan ini, kebahagiaan yang sebenar-benarnya dalam mencintai ialah mereka yang mampu melewati semua halangan di depannya.

Aku ingin menjadi orang hebat itu bersama denganmu.

Pun aku bangga memilikimu. Masalah-masalah yang kita hadapi, dengan aku yang masih belum bisa berpikir ke depan yang hampir membuat hubungan kita berakhir. Namun dengan kedewasaan yang kamu miliki, kamu mampu menyadarkanku dan memperbaiki kembali hingga kita bisa sampai di waktu sekarang ini. Aku yang masih bisa menerima perlakuan sayang dan godaan manjamu hingga sekarang ingin terus bersamamu.

Aku menyayangi dari jarak yang jauh ini.

Terakhir dariku untukmu sayang, kita tahu bahwa hubungan kita baru saja dimulai. Namun besar keinginanku untuk bisa bersamamu hingga nanti. Terhitung dari awal perkenalan kita, kesalahanmu yang tidak bisa kumaafkan ialah kamu membuatku mencintaimu sekuat ini. Maka dari itu, kumohon jangan pergi dan tetaplah di sisiku selamanya.