Jujur, aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan ini padamu. Aku terluka. Sangat terluka. Tapi haruskah dunia tahu jika hatiku dikalahkan olehmu? Haruskah dunia turut menyaksikan bahagiaku yang perlahan luntur mengiringi kepergianmu? Tapi, biarlah! Biarlah kau pikir aku baik-baik saja. Biarlah kau pikir aku tidak terluka. Lebih baik begitu. Kamu tidak akan memberiku tatapan penuh rasa kasihan.

Rasa sakitku tertutupi oleh pernah bahagia bersamamu. Aku pernah jadi alasan mata itu menyipit karena tertawa. Aku pernah jadi alasan kamu tidak berhenti tertawa saat membaca pesan singkat dariku. Kamu pernah jadi alasan tawaku untuk beberapa waktu. Sampai saat ini, kamu masih jadi alasan untuk kesedihanku. Jangan sedih. Aku tidak mengutukmu. Tapi, jangan senang dulu! Aku tidak mendoakan kebahagianmu.

Mereka bilang, tidak ada salahnya menangis. Mereka bilang, luapkan air matamu agar kamu lega. Padahal aku lega tanpa perlu menangis. Aku lega saat akhirnya kita bisa saling melepaskan. Aku lega saat akhirnya aku akan berhenti merasa tidak percaya diri lagi setiap hari. Tenang saja! Aku terlalu fokus akan bahagia kita dulu sehingga tak punya alasan untuk menangisimu.

Waktu kamu memilih pergi, aku belum selesai bergelut dengan masalah yang lain. Mungkin kamu tahu masalahku tidak sepele dan kamu memutuskan untuk angkat kaki. Tak ingin terlalu terlibat penuh pada masalahku. Tak apa, kamu sudah dimaafkan. Jika aku bisa lari dari diriku sendiri pun, akan aku lakukan. Karena sesungguhnya, aku benci tidak punya kendali atas kejadian mengerikan yang berlalu-lalang di hidupku.

Aku memilih tegar dan menghadapi masalahku dengan tawa. Menutupi dengan senyum. Sekali lagi, dunia tidak perlu tahu aku bersedih. Biar hatiku yang mencari cara sendiri untuk bisa terobati. Tenang, saja! Aku akan selalu baik-baik saja. Bukankah itu alasanmu dulu memilihku?