Seharusnya kamu sadar bahwa aku sangat mencintaimu sejak lima tahun yang lalu dan ketika itu kamu sangat bersikap dingin kepadaku. Aku selalu berdoa setiap hari pada Tuhan supaya cintaku bisa terbalaskan olehmu. Lima tahun telah berlalu dan aku telah pergi ke kota lain untuk melanjutkan studiku. Akhirnya doaku terjawab, dan dengan seiring berjalannya waktu kamu mencintai dan menyayangiku.

Saat itu, kamu rela menemuiku ke kota di mana aku tinggal demi untuk bertemu denganku. Aku sangat bahagia karena aku merasa dicintai dengan orang yang aku cintai. Sikapmu kepadaku sangat spesial yang membuat aku layaknya seperti ratu. Lalu setelah kita bertemu, kamu melanjutkan pekerjaanmu di kota tempatmu dibesarkan. Saat itu aku sangat merasa kehilangan, kesepian, dan sangat sedih karena kita akan menjalani hubungan jarak jauh.

Tetapi tak apa, karena walaupun jarak memisahkan kita berdua, rasa cintaku tak akan pernah berkurang padamu. Selama kita berdua menjalani sebuah hubungan jarak jauh, kamu berkata kepadaku untuk komitmen menjalin hubungan kepadaku. Akupun sangat percaya kepadamu, dan aku juga akan memutuskan komitmen serius untuk kedepannya menjalin hubungan denganmu.

Setiap hari, kita berdua selalu chatting. Di pagi hari, kau selalu mengucapkan salam dan saat siang hari disaat kita sama-sama bekerja masing-masing, kau iseng dengan mengirim fotomu dimana kau sedang mengerjakan pekerjaan di kantor. Aku sangat bersemangat menjalani hari- hariku, walaupun jarak memisahkan tetapi hati kita akan selalu dekat dan tak pernah merasa kesepian. Kau berkata kepadaku "Walaupun aku sibuk, tetapi aku akan selalu meluangkan waktu untukmu dear". Aku masih ingat perkataan itu yang membuat aku merasa berarti bagimu. Tapi, kini semua musnah.

Suatu hari kau sangat cuek terhadapku, akupun tahu jika kamu memang banyak pekerjaan, aku memberimu waktu untukmu sendiri. Aku pikir, selama satu atau dua hari itu cukup untukmu meluangkan waktu, beristirahat untuk dirimu sendiri. Tapi, selama empat hari kau tak menghubungiku dan tak memberi kabar terhadapku. Aku sangat-sangat kuatir dengan dirimu, hari-hariku murung karena tak ada kabar dariku. Dan singkat waktu aku menghapus akun BBM mu karena aku merasa tak penting lagi bagimu. Aku berharap kamu menyadari arti diriku saja.

Advertisement

Tapi, semua berubah, dirimu berubah, dirimu menjadi orang lain yang tak aku kenal. Kau menilaiku dengan paradigma yang lain, sehingga posisi kita sama-sama serba salah. Berulang kali aku menjelaskan kepadaku jika aku sangat-sangat kuatir, tapi kau tak mau dengar. Kini sekarang, kamu memblokir semua alat komunikasi denganku, untuk menelepon atau SMS saja sekarang tidak bisa.

Maafkan aku, maafkan sifatku yang mungkin terlalu kekanak-kanakan. Karena aku sangat menyayangimu, dan sangat ingin mempertahankan komitmen kita dari awal. Tetapi, jika Tuhan berkehendak lain, aku tak apa. Aku hanya berharap yang terbaik untuk kita berdua. Jika kamu jodohku, kamu akan kembali kepadaku, tapi jika kamu tidak berjodoh denganku kita akan sama-sama mendapatkan pasangan yang terbaik dari Tuhan.