Sebelumnya, tulisan ini tidak bermaksud untuk menghakimi siapapun atau pihak manapun. Ini hanya sebuah refleksi yang memang terjadi pada negeri tercinta ini untuk diri saya sendiri, kita, dan semua yang mengaku muda dan berbahaya.

Jaman memang semakin berubah. Sekarang dan sepuluh tahun yang lalu sangat berbeda 180˚. Semakin canggih dan berkembangnya teknologi, benarkah kita semakin mudah melakukan apa saja dengan bijaksana? Mungkin semua memang menjadi lebih mudah dan praktis. Tapi apa benar kita juga sudah bijaksana?

“I fear the day that technology will surpass our human interaction. The world will have a generation of idiots.”

-Albert Einstein

Mari berkaca pada diri sendiri!

Alih-alih melek teknologi, nyatanya kita tenggelam dalam ilusi.

Gadget terbaru sudah pasti ditunggu-tunggu. Apalagi yang dicari? Kecanggihan, kepintaran, kecepatan, dan mungkin derajat juga status sosial? Apapun alasannya, memiliki smartphone yang canggih menjadikan kita merasa nyaman karena bisa mencari informasi apapun dengan mudah. Itu buat mereka yang memang menggunakan sesuai kebutuhan dengan jam mobilitas yang tinggi, bisa dibilang wajar.

Advertisement

Tapi bagaimana itu bisa berlaku untuk anak SMP 13 tahun yang kewajibannya belajar dan mengerjakan PR? Jangankan SMP, bahkan anak SD sudah tidak kaget lagi banyak yang mempunyai smartphone sekelas "pineapple". Salah siapa jika anak SD sudah kenal dengan pacaran dan ngomong cinta yang nggak tahu apa arti sebenarnya? Tak perlu menyalahkan siap-siapa.

Semua menjadi bukan serba mudah lagi, tapi serba tergantung. Gak tahu jalan, tinggal buka GPS. Mau belanja, tinggal buka online shop. Kalau bosen, tinggal update status, nge-twit ngeluh ini itu, maen games berjam-jam, dan masih banyak lainnya. Lalu, sadarkah lebih banyak porsi manfaatnya atau kerugiannya? Padahal waktu itu dibuang sayang, limited, nggak bisa balik lagi, sekarang nggak bisa balik kemaren, besok juga nggak bisa balik sekarang.

Mendingan buat baca buku, jauh lebih bermutu kan? Kasihan juga kan tuh tulang leher kalau nunduk terus.

Katanya sih pecinta alam, tapi naik gunung cuma cari pengakuan

Lagi-lagi, ngerasa nggak sih kalau kita jadi korban vandalisme dari semua apa yang kita lihat? Karena percaya atau nggak, kita diprogram untuk sangat percaya terhadap pandangan kita, sama apa yang kita lihat. Apalagi kalau pandangan pertama yang langsung turun ke hati, bener nggak? Sebut saja film 5 cm. Film yang menceritakan tentang kisah persahabatan dan cinta, bukan kisah pecinta alam itu.

Pada salah satu adegan, diceritakan mereka sedang naik Gunung Semeru yang merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa. Tapi tahu nggak proses pembuatan filmnya? Menurut beberapa sumber, ternyata sebenarnya mereka dilarang syuting karena pada waktu itu kondisi Semeru sangat memprihatinkan. Banyak sekali sampah dan pohon-pohon yang ditebang. Kerasa juga kan dari adegan yang nggak terlalu detail pengambilannya saat mereka melakukan pendakian?

Belum lagi scene yang salah satu teman mereka terperosok dan tertimpa batu, tapi masih juga selamat. Baru-baru ini pasti tahu kan nasib Dania salah satu pendaki Semeru yang meninggal karena tertimpa batu waktu longsor? Miris dan semoga tidak ada lagi kejadian seperti itu. Memang pengakuan itu penting, ya. Mengaku pecinta alam ya harus naik gunung dulu, padahal naik gunung tidak semabarang asal naik kawan. Mendaki gunung itu ada kode etiknya.

Dalam pendakian gunung, kita wajib mematuhi kode etik berat yang telah disepakati oleh seluruh Pecinta Alam di dunia.

– Jangan mengambil apapun kecuali gambar.
– Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak.
– Jangan membunuh apapun kecuali waktu.

Yang terpenting bukanlah pengakuan yang kita dapat, tapi seberapa sering kita mengingatkan diri sendiri dan sadar untuk lebih menjaga bukan apa yang kita punya saja, tapi juga apa yang ada di sekitar kita termasuk alam.

Serakah, kunci utama dari bencana.

“Greed is the core of all disasters”

-Diana Rikasari, #88LoveLife

Semua manusia memang ditakdirkan untuk tidak pernah puas. Tapi semua ada porsi dan batasnya. Untuk apa kita harus marah kalau bisa sabar. Untuk apa harus sedih kalau ada bahagia. Untuk apa benci kalau ada maaf. Untuk apa iri kalau ada potensi. Semua sudah diukur. Tuhan mencipatakan sifat baik dan buruk bukan tanpa alasan. Orang baik kadang juga harus curiga karena itu sebagai benteng bertahan dari pengkhianatan.

Orang jahat juga harus punya hati karena siapa yang mau punya musuh walaupun cuma satu? Seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak. Kita adalah milik kita seutuhnya. Bukankah musuh terberat adalah diri sendiri? Kita harus bisa mengendalikan diri sendiri dan tidak sebaliknya, harus peka sama apa yang ada di sekeliling kita. Semua manusia juga pasti akan mati, tapi jangan sampai hati dan nama kita juga ikut mati.

Saling berbagi dan saling mengingatkan. Jika kita tidak bisa menahan gedung-gedung untuk tidak berdiri demi tanah yang hijau untuk cucu kita nanti, mulailah dari diri sendiri dari hal yang paling kecil. Setidaknya, jangan buang sampah sembarangan dan jangan merusak alam.

Jika tak bisa mengendalikan pabrik yang limbahnya membuat pencemaran perairan, setidaknya berpikirlah bagaimana cara kita bisa melihat cucu kita 20 tahun lagi menikmati air bersih dan melihat sungai yang mengalir jernih. Semuanya sudah terlalu. Kita tidak bisa melakukannya sendiri, berteriak mungkin tak semua mau mendengar, diam pun bukan pilihan tetap bertahan tanpa bertindak.

Yang harus kita lakukan adalah saling mengingatkan. Bumi sudah terlalu tua. Bagaimana kita bisa tetap hidup dengan layak dan menghirup udara segar.

Sebab kita masih muda, sebab kita berbahaya. Kita lahir tidak untuk menjadi perusak. Kita lahir karena memiliki potensi yang sama. Siapa kita di Indonesia? Berbangga dan mengakui saja tidak cukup. Tak ada kata terlambat. Mari buat perubahan. Kita kreatif, idealis, dan eksis. Semua pasti setuju. Kita bukan pemuda yang apatis tanpa memberi kontribusi untuk negara tercinta yang sebenarnya kaya.

Mari belajar menghargai bukan hanya dengan membaca dan tahu dari sejarah, tapi belajar benar-benar menghargai negeri sendiri. Jadilah pemuda yang memang berbahaya. Berbahaya karena kita bersikap. Berbahaya karena kita tahu bagaimana menjadi bijak.

"Semoga tetap berjaya, tak akan habis air mata, tak akan lelah jiwa untuk membela. Kita adalah satu, jangan bertikai, jangan bercerai. Semoga damai selalu Indonesiaku."