Rokok, barang yang bukan hal asing bagi kita. Sebagian besar orang sudah mengetahui seluk beluk mengenai rokok, meski tidak semuanya sebagai konsumen dari rokok itu sendiri. Sejak di bangku sekolah, kita sudah diajarkan hampir semua hal mengenai rokok. Dari segi kesehatan, ekonomi atau mungkin juga sosial. Selama belajar mengenai rokok di bangku sekolah, satu hal yang paling lumrah adalah bahwa kita lebih banyak diajarkan mengenai dampak rokok dari segi kesehatan. Biasanya kita diajarkan mengenai zat-zat yang terkandung dalam rokok dan yang membuat rokok itu berbahaya. Tidak bisa di pungkiri bahwa memang sudah ada penjelasan ilmiah dalam dunia medis yang menjelaskan bahwa rokok memiliki dampak buruk bagi kesehatan, apalagi jika dikonsumsi secara berlebihan. Akan tetapi, di samping banyaknya penelitian yang menjelaskan dampak buruk dari rokok, ternyata tidak menyurutkan beberapa pihak untuk tetap atau bahkan mencoba untuk menjadi konsumen rokok itu sendiri.

Kemelut soal rokok ini memang seakan sudah menjadi perdebatan yang panjang dan seperti tidak ada ujungnya. Sebab, dampak buruk yang ditimbulkan rokok memang pernah memunculkan wacana untuk meminimalisir penggunaan rokok di masyarakat. Inilah yang memicu perdebatan tentang rokok itu sendiri.

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya bahwa mereka yang mengecam penggunaan rokok memang menggunakan dalih dalam sudut pandang kesehatan. Dengan didukung berbagai penelitian dan penjelasan medis, mereka terus mengkampanyekan untuk pemberhentian penggunaan rokok di kalangan masyarakat. Jika kita menanggapi mereka yang berpandangan seperti itu, maka tentunya itu adalah hal yang benar. Selain didukung penelitian dan penjelasan medis, kasus mengenai dampak buruk yang ditimbulkan rokok bagi kesehatan pun memang sudah banyak bermunculan. Tak hanya mereka yang sekedar mengalami gangguan kesehatan, tak sedikit pula kasus di mana rokok dapat merenggut nyawa seseorang. Meski demikian, tidak sedikit kalangan yang justru tidak mendukung upaya meminimalisir penggunaan rokok di masyarakat. Yang unik adalah bahwa sebetulnya mereka tidak menampik adanya dampak buruk yang ditimbulkan rokok. Mereka juga sebenarnya sudah paham bahwa rokok bisa menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, bahkan sampai kematian. Ini sesuatu yang unik bagi saya.

Lantas apa yang membuat mereka tidak mendukung upaya meminimalisir penggunaan rokok di masyarakat? Sejauh yang saya ketahui, ada dua hal yang mendorong hal tersebut. Pertama, dari sudut pandang ekonomi, mereka merasa bahwa ketika konsumsi rokok menurun, salah satu hal yang paling dirugikan adalah mereka yang terlibat dalam industri rokok, entah karyawan pabrik, pengusaha dan juga petani tembakau yang memasok kebutuhan produsen rokok. Sejauh ini, alasan ini lah yang memang menjadi hal yang paling disoroti. Namun, kita tidak akan membahas itu dengan lebih eksplisit, mungkin di lain waktu.

Selain alasan di atas, hal lain yang menjadi pendorong adanya perdebatan ini adalah terkait konsumen rokok itu sendiri. Sebab, inti dari perdebatan yang sudah terjadi memang kaitannya dengan konsumen. Meski sudah ditunjukkan dengan berbagai bukti mengenai dampak buruk penggunaan rokok, tidak sedikit konsumen yang tidak mempedulikan hal tersebut. Mereka yang demikian, memiliki berbagai alasan sehingga mereka seolah-olah tidak memedulikan dampak negatif rokok bagi kesehatan dan tetap menjadi konsumen rokok. Namun, yang paling utama adalah biasanya mereka memang telah kecanduan terhadap rokok itu sendiri. Kecanduan ini memang menjadi inti pendorong yang membuat mereka tetap setia menjadi perokok. Selain itu, jika berbicara mengenai kecanduan, maka ini menjadi masalah yang cukup rumit. Rumit penyebabnya, rumit dampaknya dan rumit cara menghilangkannya.

Advertisement

Semua orang saat pertama kali dilahirkan ke dunia hakikatnya tanpa memiliki kecanduan atas apapun. Kecanduan yang dimiliki seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri. Semua perokok, pada awalnya bukanlah seorang pecandu. Itu semua ditentukan dari "langkah pertama". Awal mula kiprah para perokok sebagian besar bisa disebabkan oleh rasa penasaran, kondisi ekonomi, dan pengaruh lingkungan sekitar.

Namun, entah apapun alasannya, lagi-lagi saya harus menyinggung hal unik yang sudah saya sampaikan sebelumnya. Mereka menjadi perokok di saat mereka mengetahui bahwa rokok dapat membahayakan dirinya. Ini hal unik yang justru menjadi masalah tersendiri. Berbagai alasan yang mereka miliki seakan-akan tidak bernilai karena justru mereka sendiri mengetahui bahwa rokok berdampak buruk jika mereka menjadi konsumennya.

Tidak hanya sampai di situ, dalam kemasan rokok, khususnya di Indonesia-karena saya belum pernah melihat kemasan rokok di negara lain-dalam kemasan rokok bahkan tertera berbagai penyakit yang bisa diderita oleh mereka yang menjadi konsumen rokok. Saya yakin, kebanyakan perokok merupakan orang-orang yang pernah atau bahkan sedang mengenyam pendidikan, minimal bisa membaca. Lantas, kenyataannya tidak banyak perokok yang berhenti merokok meski mereka sendiri mengetahui konsekuensi buruknya. Jika dibilang heran atau tidak, saya rasa hal tersebut memang mengherankan. Para pembaca bisa mencari tahu langsung kepada perokok, tanyakan apakah mereka mengetahui dampak buruk rokok, kita fokuskan saja dahulu bagi kesehatan mereka. Sekali lagi, saya yakin dan percaya bahwa mereka bukan hanya mengetahui, bahkan mungkin mereka mengerti atas pengaruh buruk yang ditimbulkan rokok. Karena, tidak sedikit pula konsumen rokok yang memiliki tingkat pendidikan tinggi. Permasalahan seperti ini sebetulnya tidak akan terlalu rumit, seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya bahwa kuncinya ada pada para konsumen itu sendiri. Kuncinya ada pada kesadaran masing-masing individu, khususnya konsumen rokok. Sekeras apapun kampanye 'stop merokok', jika kesadaran itu tidak muncul dalam diri perokok, semua itu akan sia-sia. Meski sebetulnya tujuan kampanye tersebut demi kebaikan perokok itu sendiri, tapi tetap kuncinya ada pada kesadarannya sendiri akan dampak buruk yang ditimbulkan rokok.

Saat ini, tidak bisa dipungkiri bahwa membuat perokok berhenti merokok merupakan sesuatu yang tidak mudah. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, para perokok memang kebanyakan sudah mengalami yang namanya kecanduan. Dan menanggapi alasan kecanduan, memang ada beberapa terapi yang bisa menghilangkan rasa candu tersebut. Akan tetapi, lagi-lagi semuanya tergantung dari diri perokok itu sendiri. Sebab, tidak perlu melakukan terapi, sebab bukti konkret mengenai dampak buruk dari rokok sudah ada di masyarakat, bahkan tidak sedikit pula yang sampai merenggut nyawa seseorang. Disamping itu, edukasi terhadap mereka yang belum tersentuh rokok memang saat ini menjadi satu hal yang krusial, apalagi jika menyangkut para pemuda atau pelajar. Bukan tanpa alasan, jika memang alasan kecanduan merupakan salah satu alasan utamanya, maka kita semua mesti mencegah agar mereka yang masih belum bersahabat dengan rokok tidak sampai benar-benar menjadi sahabat dari rokok. Sebab, semua kecanduan yang menyangkut berbagai hal, semua timbul dari satu tindakan yang pertama, lalu diikuti dengan yang kedua, ketiga dan seterusnya.

Di sisi lain, edukasi tentang bahaya rokok memang masih diperlukan. Namun sayangnya, hal tersebut bukanlah satu-satunya hal yang mesti digencarkan. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa kebanyakan perokok justru mereka yang mengetahui bahwa rokok berdampak buruk. Ini yang saya dan kita semua harus soroti. Maka dari itu, sebenarnya perdebatan mengenai pro dan kontra tentang rokok tidak akan berhenti jika para perokok tidak memiliki kesadaran akan konsekuensi terburuk yang mungkin bisa diterimanya dari kegiatan konsumsi rokoknya.

Satu hal yang ingin saya sampaikan, kita mesti mengubah konsep bahwa tidak akan ada konsumen jika tidak ada produsen. Kebanyakan kalangan memang meng'iya'kan konsep ini. Saya merasa ini merupakan miskonsepsi. Justru, tidak akan ada produsen jika tidak ada konsumen. Sebelum membuat produk, suatu perusahaan terlebih dahulu mencari dan menganalisa permintaan dan pasar. Saat mereka melihat peluang yang besar dan bahkan semakin besar, mereka terus memproduksi produk tersebut. Lagi pula, industri ini memang di'iya'kan oleh regulasi yang ada, meski dengan beberapa ketentuan. Dan inilah yang membuat industri ini ilegal, meski ditunggu beberapa konsekuensi bagi konsumennya. Terakhir, mereka yang mengetahui sesuatu tetapi tidak memanifestasikan apa yang mereka ketahui jauh lebih buruk dibanding mereka yang melakukan sesuatu karena mereka memang tidak benar-benar mengetahuinya. Terima kasih. Semoga bermanfaat.

Artikel ini sudah dipublikasikan di blog pribadi saya dengan judul yang sama.