Fresh graduate atau istilah lain dari sarjana muda. Merupakan perubahan identitas seseorang dari sebagai pelajar menjadi masyarakat. Sebuah perubahan yang jika sebelumnya tidak disiapkan dengan baik, maka akan mendapat tamparan keras dari dunia. Dunia membentak, berteriak. ‘Apa yang selama ini kau lakukan! Kau memiliki banyak waktu saat itu. Tapi, kau sebut apa dirimu sekarang! Kau bukan siapa-siapa! Kau tak berguna! Dunia tak membutuhkan orang sepertimu!’

Kejam! Yah, itu yang akan terjadi jika tidak ada persiapan. Lalu persiapan seperti apa yang dibutuhkan?

Kurang lebih seperti ini, orang yang baru saja lulus dan keluar dari dunia pendidikan kemudian memasuki kehidupan bermasyarakat sama sekali tidak bisa disamakan. Dulu sering terdengar istilah Sarjana Pengangguran. Terpikirkan kah? Bagaimana bisa seorang intelektual tidak bisa bekerja. Lalu untuk apa mereka sekolah tinggi-tinggi? Mudah saja mengkritisi apa yang sudah terjadi, pertanyaannya adalah bagaimana semua itu bisa terjadi? Rupanya, ada sebuah kronologi menyedihkan dibalik fenomena yang dimulai dari sebuah benda bernama ‘uang’.


Karena semua orang membutuhkan uang, terfokuslah pemikiran tentang bagaimana agar kita bisa mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Mungkin memang ada yang materialistis, tapi aku rasa materialistis hanyalah hasil dari nafsu lebih yang tak tertahankan setelah apa yang sudah didapatkan. Masalah awal dan pokoknya justru ada pada kebutuhan individu itu sendiri.


Advertisement

Karena semua orang membutuhkan uang untuk hidup, maka dicarilah berbagai cara terbaik untuk mendapatkannya. Dan salah satu cara yang terkenal adalah sekolah setinggi mungkin. Tidak salah sebenarnya, hanya saja ketika sekolah disalah artikan sebagai tempat yang akan membuat mereka kaya, jadi pegawai dan sebagainya. Melupakan fungsi sekolah yang sebenarnya, yaitu untuk belajar.


Tak peduli paham atau tidak selama nilai bisa mendongkrak maka tenanglah. Score oriented more powerfull than knowledge it self. Mendapatkan nilai yang baik itu baik, tapi tidak baik jika tidak sesuai dengan kondisi individu yang sebenarnya. Tak heran jika pelajaran yang baru saja dipelajari hilang begitu saja, ketika diulang dikemudian hari.


Potensi apa yang dimiliki, bakat apa yang bisa dikembangkan, apa saja yang bisa dilakukan, ini sering kali terlupakan karena mengejar kelulusan. Ketika kelulusan pun di dapatkan dan dunia baru dalam masyarakat menanti, rasanya hampa karena tidak yakin dengan apa yang harus dilakukan. Mengingat kembali tentang apa saja yang dipelajari di sekolah? Tak ada penjelasan untuk menghadapi masa ini. Tidak ada persiapan untuk masa ini. Rasanya dulu hanya numpang lewat. Tak ada yang bisa diingat, apa lagi dipraktekkan. Walaupun hasil nilai bagus tapi ternyata tidak bisa melakukan apa pun. Bagaimana bisa?

Karena salah fokus!

Kita terlalu mengkhawatirkan kebutuhan dunia tanpa memperhatikan potensi kita. Dunia membutuhkan pegawai negeri, kita berbondong-bondong mempersiapkan diri. Dunia membutuhkan ahli IT, tanpa pikir panjang kita masuk jurusan IT. Di sini yang salah. Untuk menjadi sukses bukan berarti kita serta merta menuruti dunia. Setiap diri dari kita memiliki potensi yang berbeda-beda. Untuk itu lah kita belajar. Untuk menemukan spesialisasi diri kita masing-masing. Setiap dari kita lahir untuk tujuan tertentu. Tugas kita adalah menemukan tujuan itu, dengan menggali betul-betul potensi yang pasti tersimpan dalam diri kita.

Tidak perlu takut tentang bagaimana jika kita tidak dibutuhkan oleh dunia dan menjadi pengangguran seperti yang ditakutkan. Tenang saja. Kenapa? Karena kita semua pasti berguna. Saat potensi diri kita sudah ditemukan. Maka kita akan berada dalam barisan orang-orang hebat untuk dunia.

Jadi, pertama abaikan harta. Perhatikan dulu diri kita baik-baik. Kita itu siapa. Apa yang sekiranya bisa kita lakukan. Pekerjaan seperti apa yang kira-kira akan membuat kita bahagia. Itu amat sangat penting untuk diketahui. Setelah tau, baru pelajari.

Tidak peduli seberapa banyak pesaing kita. Tidak peduli sebesar apa biaya yang harus dikeluarkan. Tidak peduli sejauh apapun jarak yang harus ditempuh. Niatkanlah! Perjuangkanlah! Karena itu adalah pilihan. Karena kita yakin pilihan itu akan membuat kita bahagia. Kita punya tujuan. Kita punya target. Dengan begitu perjalanan yang kita lalui akan terasa bermakna. Kesulitan yang datang akan terasa indah. Karena memiliki tujuan hidup adalah kenikmatan yang tak boleh dilupakan. Memiliki tujuan yang jelas memperkecil kemungkinanmu untuk tersesat jauh. Berbeda halnya jika tak memiliki tujuan. Bukan hanya tersesat, tapi justru hanya bisa berputar-putar tak tentu arah. Bingung harus kemana.

Seperti itu kira-kira gambaran dunia setelah pendidikan. Jika kita hanya berfokus pada uang yang ingin kita dapatkan, maka semua pekerjaan pasti menawarkan uang. Tapi tentu saja tidak cuma-cuma. Tidak asal ngasih. Mereka para pemberi kerja pastinya juga melihat siapa orang yang akan bekerja di tempatnya. Siapa dia? Apa Kemampuannya? Nah! Ini dia kuncinya. Kemampuan. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya.

Tanpa kemampuan, kita bukan siapa-siapa. Karena itu, cari kemampuan kita, passion kita. Jika sudah ketemu, maka kembangkan, maksimalkan hingga anda menjadi yang terbaik di bidang itu. Ya! ‘Bidang itu’ saja. Bidang itu saja sudah cukup. Kita manusia, tidak harus bisa segalanya. Tidak perlu memaksakan diri untuk sempurna, karena kita manusia, normal jika tidak semua bisa kita kuasai. Karena itu sekali lagi jangan memaksakan diri. Karena penyanyi belum tentu bisa bisa olahraga. Karena atlet belum tentu bisa matematika. Karena ahli matematika belum tentu bisa jadi pembawa acara. Banggalah pada satu hal yang mendeskripsikan tentang kamu. Sehingga kamu bisa memiliki identitas sebagai orang yang berguna di masyarakat.