Aku ingat sekali. Ketika dulu aku masih kerap kali diajak pulang kampung oleh orangtuaku, aku berkenalan dengan seorang perempuan. Perawakannya sederhana dan ramah. Wajar, tipikal orang desa. Hanya saja, ia begitu manis bahkan tanpa make up sedikitpun. Kulitnya kecoklatan gara-gara ia sulit sekali disuruh istirahat makan kalau sudah asyik sendiri membantu mengurus sawah hingga siang terik.

Rambutnya yang lurus di bagian atas dan bergelombang di bagian bawah kadang tergerai dan kadang pula digelung dengan cara yang sangat sederhana.

Kudengar, dulu perempuan itu gemar memakai kebaya dan jarik. Namun, saat aku pertama kali mengenalnya, ia mengenakan kaos Dagadu abal-abal khas Malioboro yang dirangkap kemeja kotak-kotak yang tak dikancing dan digulung sedikit mendekati siku. Kemudian, atasan itu ia padukan dengan celana jeans, sneakers, dan gelang-gelang etnik yang tampaknya juga dibeli di daerah Malioboro.

“Biar kelihatan seperti aktivis,” dalihnya sambil tertawa kecil. Padahal, aku tahu benar kalau kala itu, harga dagangan-dangangan di pinggiran Malioboro masih murah sekali, pun dengan harga makanannya.

Sebenarnya, perempuan itu mahir memasak, mulai dari Gudeg hingga resep-resep peninggalan masa kolonial yang namanya aneh-aneh itu. Akan tetapi, ia sering mengajakku sarapan di warung-warung makan, mulai dari yang legendaris hingga yang lokasinya nyelempit-nyelempit di gang kecil namun rasanya ternyata tidak kalah lezat. Ketimbang naik motor, aku lebih senang berjalan kaki hanya untuk melihat kebiasaannya menyisihkan receh buat pengamen-pengamen di pinggir jalan (terutama bapak tua pemain angklung yang sedari pagi pasti sudah memainkan lagu-lagu keren di emperan Hotel Inna Garuda).

Advertisement

Aku suka mengobrol dengannya. Sebenarnya, aku nantinya akan lebih sering mendengarkan dengan antusias. Ia mungkin terlihat pendiam dan malu-malu, tetapi sebenarnya ia sangat cerdas.

Suatu hari, ia akan membuatkan resensi buku Etika Jawa karya Franz-Magnis Suseno lengkap dengan kritik-kritiknya yang mengatakan bahwa tidak semestinya etika Jawa itu sendiri dijelaskan hanya dengan 250-an halaman (ya, ia membaca kata pengantar dan masih saja ngotot). Keesokan harinya, ia bisa saja menjelaskan pandangan feminis Rosa Luxemburg setelah panjang lebar mengurai tiap panel relik-relik Candi Boko beberapa menit sebelumnya.

Saat awal SMA, aku bertemu dengannya lagi. Kulihat, ada sedikit perubahan pada dirinya. Kami janjian dulu melalui media sosial karena tangannya jadi lebih lentik untuk mengetuk layar smartphone di waktu luang ketimbang mereka-reka gerakan tari seperti biasanya.

“Itu bibirmu pakai gincu?” tanyaku.

Perempuan itu hanya tersenyum simpul dan menanyakan, apakah ia pantas mengenakannya. Beberapa waktu setelah aku kembali dari kampung halaman orangtuaku, salah seorang teman memberitahuku bahwa yang di bibirnya itu disebut lipstik. Harganya bisa jadi lumayan mahal.

Kini, astaga, aku sudah menetap di kampung halaman orangtuaku untuk melanjutkan pendidikan, namun jarang sekali aku menemuinya. Pernah sekali, saat masih masa registrasi ulang kuliah, ia bilang kalau kangen dan ingin bertemu. Kami meet up di Empire XXI karena katanya, tahun itu, banyak film bagus yang sedang tayang.

Saat itu, ia menyapaku duluan. Bukan apa-apa, aku pangling. Rambutnya sekarang benar-benar lurus seperti bintang televisi, diwarnai pula. Kulitnya menjadi putih dan wajahnya sulit dikenali, walau sebenarnya tetap cantik. Pakaiannya tanktop hitam. Celana jeansnya sangat pendek. Terdapat pula aksesoris-aksesoris yang dibelinya entah di mana. Bicaranya tak lagi medhok dan hanya seputar itu-itu saja; kalau tidak tentang mall baru, ya, menanyakan apakah ia tampak lebih cantik dan kekinian sekarang.

Begini, bukannya aku membencinya lantaran perubahan yang terjadi pada dirinya. Tulang dagunya yang kecil khas perempuan Jawa dan pelipisnya yang tajam khas masyarakat marhaen bagaimanapun juga tidak akan pernah berbohong.

Aku suka ruhnya, jatuh cinta dengan detil-detil dirinya yang melekat terlalu lekat, sebagaimana mungkin Tuhan menitipkan lem super yang berlebih pada keindahan-keindahan.

Iya, mataku sering nakal melihat roknya yang tersingkap sedikit di atas jok motor, dan aku lumayan hobi mengagumi wajah cantik orang sembarang. Aku tidak memungkiri itu, kok. Tetapi, tahu kan, sebening-bening cinta bukanlah Romeo dan Juliet yang digambarkan begitu rupawan tapi berotak kopong oleh Shakespeare, melainkan Rahwana yang sudah mencintai Sinta bahkan sebelum ia paham apa itu cinta dan siapa itu Sinta.

Ia tampak bahagia sekali dengan apa-apa yang baru pada dirinya. Dalam hati, aku berdoa agar ia menangis sejadi-jadinya saat aku tidak melihat di ujung tumit kaki malam ketika yang terjaga tinggal bapak-bapak pekerja baliho dan truk sapu jalan.

Ia tampak ceria sekali dengan teman-teman barunya. Dalam hati, aku berdoa agar ia melamun sejauh-jauhnya saat aku tidak melihat di emperan jendela kamar yang menyimpan bingkai-bingkai foto lamanya.

Ya, aku masih tidak ikhlas kamu kini menjadi kekasih yang bergincu dan berbedak tebal, Yogyakarta.