Untukmu kekasih hati yang telah mencintaiku hingga desah nafas terakhir. Terima kasih pernah melukis kenangan yang tak akan pernah terlupakan. Terima kasih pernah mengukir senyum yang tak akan pernah padam. Terima kasih telah mengajarkanku segala kebaikan. Terima kasih karena kau ada untuk membuatku menjadi lebih sabar.

Pertemuan kita memang tidaklah biasa. Berawal dari secangkir kopi, satu loyang martabak, sebungkus nasi uduk dan sekelumit cerita kita tentang rumitnya skripsi. Semua cerita yang pernah ada membuat kita menjadi semakin dekat, hingga akhirnya rasa itu berubah menjadi lebih daripada rasa sebagai seorang teman.

Kita bisa saling menguatkan. Kau yang sering mengajarkan aku untuk selalu menjadi manusia yang kuat, tegar dan tidak mudah mengeluh. Betapapun sulit dan kerasnya hidup kita, mengeluh adalah hal paling haram untuk dilakukan. Begitulah yang aku lihat dari dirimu. Kau adalah sosok pria yang kuat, sehat, tegar, dan tidak pantang menyerah. Mulai saat itulah aku putuskan untuk mencintaimu.

Sayang, ingatkah kau ketika kita seringkali melewati malam bersama dengan tumpukan kertas dan gadget bernama laptop di depan mata? Itu adalah cerita manis yang masih dan akan selalu aku ingat. Bersamamu aku merasa bahagia.

Bahkan kita adalah pasangan kekasih paling antimainstream yang pernah ada, seperti yang selalu kau bilang. Kita memang jarang sekali menghabiskan waktu untuk nonton di bioskop ataupun jalan-jalan di mall bersama. Namun bersamamu, hidupku terasa lebih berwarna.

Advertisement

Sayang, ingatkah kau dinner pertama kita? Dengan sebungkus nasi uduk berdua. Bukan makanan mahal memang, namun menurutku rasanya jauh lebih enak daripada masakan di restoran bintang lima, mungkin karena engkau. Setelah itu, deretan makanan pinggir jalan selalu menghiasi menu-menu makan malam kita. Mulai dari nasi kucing, nasi goreng dan mie goreng pinggir jalan, soto ayam, soto mie, pecel ayam. Aaaaaah, semua makanan itu malah membuatku semakin sulit melupakanmu.

Lalu ingatkah kau sayang, saat-saat mendebarkan ketika sidang skripsi tiba? Kita saling mendoakan. Aku dampingi kau menghadapi seramnya dosen penguji, begitupun engkau. Karena bersama, segalanya terasa jauh lebih mudah. Setelah itu kitapun sama-sama resmi menyandang gelar sarjana, memakai toga, selfie berdua, dan kita saling mengenalkan orang tua masing-masing. Saat itu aku berfikir bahwa kisah kita akan berujung indah di kursi pelaminan.

Kemudian tibalah saatnya kau mencari kerja. Apa kau ingat sayang, ketika kau seringkali mengajak aku ke kampus hanya untuk mencari wifi gratis lalu mengirim surat lamaran kerja? Aku ingat itu sayang. Aku bahkan ingat berkali-kali kau menerima panggilan kerja namun berkali-kali pula kau pulang dengan tangan hampa. Namun semangat dan doaku terus mengalir mengiringi setiap langkahmu sayang. Karena aku sadar, hanya itulah yang aku punya.

Sayang, kau pernah berjanji kepadaku untuk mengikat janji cinta kita beberapa tahun mendatang. Apa kau juga ingat itu? Kau pun sudah menghitung biaya yang akan kau keluarkan untuk prosesi janji suci kita itu. Meskipun masih terasa lama sekali bagiku, namun aku bahagia, setidaknya kau punya i’tikad untuk menjadikanku kekasih terakhirmu. Betapapun lamanya itu, aku siap menunggu.

Sayang, kini aku ingat tiap kali rasa sakit menggerogoti kepalamu, hingga seringkali kau mengadu kepadaku. Aku tau kau bukanlah orang yang mudah menyerah, tapi jika kau sampai berbuat demikia, berarti memang sakitnya tidak bisa ditahan. Aku ingat saat bicaramu sudah mulai tidak jelas, bahkan jawabanmu tidak pernah sejalur dengan apa yang aku tanyakan. Namun aku bahagia sayang, karena disaat kau tak mampu mengingat teman-temanmu, kau masih mengingat aku.

Sayang, aku ingat hari itu. Selasa, 24 Maret 2015 pukul sembilan pagi. Ayahmu menghubungiku dan memintaku untuk datang ke Rumah Sakit. Kau pasti tak tahu itu. Karena pada saat itu kau sedang berjuang keras melawan malaikat maut yang siap mencabut ruhmu. Aku ingat saat itu aku bergegas mendatangimu, aku ingin memberikan semangatku untukmu. Aku ingin kau sembuh, kau bangun, kau sadar. Aku ingin kau ingat janji kita beberapa tahun yang akan datang.

Namun ternyata aku terlambat. Dokter mengatakan kau telah pergi tepat pada pukul sepuluh pagi. Saat itu ingin rasanya aku maki-maki saja dokter yang menurutku tidak bisa apa-apa itu. Ingin rasanya aku mengadu pada Tuhan, mengapa Tuhan mengambilmu begitu cepat? Nyatanya aku tak mampu, aku tak mampu berbuat apa-apa selain menangis, menjerit, menahan sesak dan sakit di hatiku ini.

Sayang, aku ingat saat aku rapuh karena kehilanganmu, ayahmu yang menguatkanku. Padahal aku yakin hatinya pasti lebih hancur daripada aku. Sekarang aku tahu mengapa kau begitu kuat, mengapa kau begitu hebat. Ternyata ayahmu yang mewariskan sifat itu kepadamu. Ayahmu orang baik, wajar beliau memiliki anak yang baik sepertimu. Ayahmu pria yang kuat, pantas saja anak laki-lakinya sangat kuat sepertimu.

Sayang, kini aku tahu. Tuhan mempertemukan kita untuk mengajariku sabar dan tegar, seperti kau. Tuhan mempertemukan kita agar aku bisa banyak belajar menjadi orang yang tidak mudah mengeluh di setiap keadaan. Tuhan tahu saat ini aku cukup kuat untuk kehilanganmu. Maka Dia mengambilmu dariku.

Sayang, saat aku menulis ini, aku berada tepat di tempat pertama kali kita bertemu. Aku bahkan merasa mungkin kau sedang berada disini bersamaku, menemaniku, dan membaca apa yang aku tulis untukmu.

Sayang, kau tahu kisah yang kita punya begitu indah. Maka izinkanlah aku mengenang semua yang pernah ada. Jika sesekali aku menangis merindukanmu, percayalah itu bukan untuk memberatkanmu, namun karena aku tahu bahwa tak akan bisa lagi kutemukan orang sepertimu.