Ya, aku adalah seorang yang sudah banyak menjilat kembali ludahku. Dulunya, aku terlalu arogan mengatakan bahwa cinta sejati itu tidak berlaku bagiku. Bahwa cinta itu bukan hal yang penting. Bahwa cinta tidak perlu diperjuangkan. Bahwa tidak ada cinta yang nyata seperti kebanyakan kata orang. Bahwa cinta hanyalah perasaan-perasaan gila yang hanya sementara. Bahwa cinta hanyalah malam-malam gelap yang buta. Karena aku pernah mencintai dan hancur berkeping-keping. Juga kata orang bahwa ayah adalah cinta pertama kita. Namun, yang ada ayah adalah kekecewaan pertama kita dalam hal mencari tahu tentang cinta. Cinta adalah hal yang mengerikan bagiku.

Sebelum mengenalmu, aku hanyalah seorang gadis yang tak pernah percaya pada legenda cinta

Terbiasa kujalani hidup sendirian dan menyelesaikan masalah beratku sendirian membuat diriku menjadi pribadi yang pembangkang dan keras kepala. Aku menolak pendapat dan merasa paling berpengalaman karena sakit yang telah kulewati. Terbiasa kutangisi sakitku sendirian membuatku menolak untuk berbagi kisah pada siapapun. Aku menjadi seorang yang sangat egois. Namun, semuanya berubah perlahan-lahan, dari waktu ke waktu.

Sebelum mengenalmu, aku tak pernah mengkhayal hingga ke tingkat terindah ini

Kau katakan padaku bahwa cinta itu nyata. Berulang-ulang kau katakan itu dan aku selalu menolak. Kau tak pernah berhenti menunjukkan padaku bahwa cinta itu ada dan aku juga pantas menikmati cinta. Kau juga keras kepala Setiap air mataku, kau memohon untuk berhenti dan entah darimana aku tahu bahwa air mataku membuatmu merasa sakit. Setiap ketakutanku membuatmu marah dan entah darimana kurasa bahwa kau takut jika keadaanku menjadi parah. Setiap sakitku dengan sikapmu menunjukkan kau merasa bodoh di saat kau menatapku dengan keadaanku yang sangat lemah. Dan, aku menyadari aku menjilat kembali ludaku dengan kesombonganku menolak perasaan-perasaan yang membuatku terkejut ini. Bahkan ketika kita bertengkar dan berpisah, kita tak sanggup untuk berhenti mengingat bahagia yang kita ciptakan. Kita tak sanggup untuk membohongi diri kita. Kita bodoh di saat kita melakukan hal yang sebenarnya kita tidak ingin lakukan. Iya kan? Kau seperti rumahku dan hanya pulang ke rumahlah yang selalu membuat kita tenang. 342 KM jauhnya dari kota tempatmu berjuang, aku datang menemuimu. 30 KM jauhnya dari rumahmu di kota yang sama dan kau tetap datang setiap hari hanya untuk memastikan diriku baik-baik saja. Dengan seadanya kita makan. Dan, dengan sesenang mungkin kita menikmati apa yang kita telah dapatkan. Kau mengubahku, menyadarkan bahwa aku sudah terlalu jauh meninggalkan diriku sendiri. Kau membawaku kembali dan kau membentuk karakterku.

Advertisement

Sebelum mengenalmu, aku hanyalah seorang yang dengan sombong dan kejam menolak tulusnya cinta.

Detak jantung kita terdengar sama. Dan mata itu, tak ada mata seindah matamu. Terutama di saat matamu melihatku sesayu dan sedalam itu. Tak ada orang yang pernah membuatku tersenyum seperti ini hingga pipiku sakit. Dan kau adalah lelaki yang membuatku menjatuhkan airmata karena terharu bahagia.

Kau menunjukkan cinta itu nyata hingga diriku sebahagia ini. Kau adalah lelaki terbaik yang pernah kutemui

Lalu kujadikan kekuranganmu sebagai kekuatanku. Dan, jangan pernah jadikan kekuranganku sebagai yang akan mematahkan kesetianmu. Aku tahu kita belum dalam suatu ikatan, tapi aku percaya bahwa Tuhan tidak pernah tega seperti manusia. Dan, kenyamanan yang diberikan oleh keluargamu membuatku merasa sangat dimiliki. Begitupun pertanyaan yang sering dilontarkan opa dan omaku yang membuatku selalu salah tingkah di depan keluarga sendiri. Terimakasih untuk selalu hadir dalam hidupku. Semoga Tuhan merestui hubungan kita.