Hai! Perkenalkan, ini diriku. Wanita usia dua puluh tahunan yang biasa-biasa saja.

Ya, aku hanya wanita yang sungguh-sungguh biasa saja. Aku tak mencolok seperti wanita lain. Mereka mungkin berpacak menor dan bergincu merah setiap harinya. Tubuh mereka langsing, tinggi, dan sangat serasi bila mengenakan baju-baju seksi. Tapi aku tidaklah demikian.

Aku juga bukanlah tipe pengumpul ribuan piala dalam lemari di ruang tamu rumah. Bagiku, prestasi tak selalu berarti kumpulan trophy sebagai pajangan bagi mereka yang bertandang ke rumah. Temanku pun tak banyak. Yang penting, teman sedikit tapi setia dan tak berniat memanfaatkanku semata.

Tapi ada satu hal yang kupunya. Hal ini adalah sesuatu yang berharga untukku. Dia mampu membuatku bangga di tengah keminderanku. Dia adalah priaku yang selalu melihatku sebagai sosok yang sempurna.

Aku hanyalah wanita biasa. Saking biasanya, terlalu kerap aku menemui diri sendiri dalam ketidaknyamanan.

Aku adalah wanita yang bisa dibilang cupu dan minder. Ya, aku mengakuinya dengan jujur dan terang-terangan. Seperti yang sudah kusebut tadi, temanku tak banyak. Kehidupan sosialku juga tak seluas wanita-wanita berpenampilan menarik dan percaya diri. Aku tidak cantik. Bertubuh "kutilang" pun tidak. Kaya? Ah, biasa saja. Pintar? Pas-pasan sih, sebenarnya.

Advertisement

Terkadang, aku kerap mengutuki diri karena banyaknya kekurangan yang kupunyai. Malahan aku merasa bahwa kelebihanku hanyalah memiliki segudang kekurangan. Sungguh, aku seperti wanita yang seakan-akan tak berguna. Lantas, aku menjalani hariku sekedar mengalir saja seperti air.

Kamu yang luar biasa lalu hadir. Entah apa yang menjadikanmu sudi berdekatan denganku.

Tiba-tiba saja kamu hadir di sekitarku. Setiap waktu bertemu dengan kamu tentu saja membuatku sedikit banyak mengenal dan mendalami kepribadianmu. Ternyata, kamu adalah sosok yang luar biasa. Wanita lain yang tergila-gila padamu bahkan menyebutmu pria super sempurna. Keahlianmu yang banyak, tak arang membuatku semakin berkaca dengan segala kekurangan yang kupunya.

Di antara sekian banyak wanita yang tak kalah sempurna dan saling bersaing, tak sedikit pun kamu tergoda dengan mereka. Padahal tanpa usaha pun, kamu bisa mendapatkan mereka sebagai kekasihmu. Terperanjatnya aku saat kamu memilih aku yang biasa-biasa saja.

Apakah kamu sedang gila hingga menyudikan diri untuk merelakan hatimu untukku?

Terimakasih telah menjadikanku yang sempurna untukmu. Di sinilah aku menyadari bahwa aku terlahir berarti.

Kamu selalu menyatakan kalau aku adalah wanita yang sempurna. Hal ini malah berkebalikan dengan orang lain yang tak akan pernah sudi mengatakan itu padaku. Dengan keheranan, aku turut mempertanyakan. Di mana sebenarnya letak kesempurnaan yang kumiliki?

Dengan kasihmu yang lembut, kamu membukakan mataku. Bahwa banyak hal dalam diriku sendiri yang belum terjelajahi. Kamu sanggup menunjukkan hal-hal sederhana yang membuatku sempurna, paling tidak di matamu. Kini aku pun yakin bahwa aku berhak bangkit. Aku berhak menjadi wanita percaya diri sama seperti wanita-wanita lainnya. Kamu membuatku benar-benar sadar bahwa aku memiliki potensi dan kemampuan.

Terimakasih, kekasihku. Aku kini bukan lagi wanita yang minder dan tidak percaya diri. Aku adalah wanita sempurna. Terimakasih telah membuatku sempurna dan menunjukkan bahwa aku berarti. Bila mungkin aku tak bertemu dirimu, bisa jadi diri ini masih terkungkung sepi dan mengutuki diri sendiri.