Hallo, apa kabar kamu? Semoga selalu baik sama seperti saat kamu memutuskan hubungan kita dulu, kamu terlihat santai kala itu. Sudah lama sekali sejak hari paling menyakitkan, hari paling ngilu, hari paling buruk dalam hidupku, aku tidak mendengar kata cinta darimu lagi. Entah inikah yang namanya rindu atau usahaku untuk melupakanmu benar-benar gagal. Yang aku tahu, sekeras apapun kucoba tepis, nyatanya segalamu masih saja mendiami sebagian jantungku. Jujur saja, hingga saat ini aku masih menyayangimu.

Laki-laki yang hingga saat ini enggan enyah dari kepalaku adalah yang pernah menaruh luka paling nyeri.

Begitulah aku mengartikanmu. Bertahun lamanya aku mengenalmu, beberapa kali mendengar suaramu, bahkan sering tersipu atas kata-kata manis darimu, akhirnya harus mendapati kenyataan yang rasanya serupa mimpi. Dulu, semuanya terasa indah. Harapan-harapan yang pernah kita tuliskan untuk Tuhan harus hilang ditelan perpisahan. Entah karena apa kamu begitu tega meninggalkanku. Padahal, semua mimpi sudah kususun rapi untuk nanti kita wujudkan bersama. Tapi apa, segalanya terpaksa sirna atas kemauanmu. Aku kehilangan semangat kala itu. Mungkin terlalu dalam perasaanku padamu, atau mungkin kamu terlalu berharga untuk kulepaskan. Hanya aku dan seluruh rasakulah yang tahu.

Bersamamu, aku ingin membangun masa depan. Namun, akhirnya aku harus mengikhlaskan kepergianmu demi bahagiamu. Masa depan itu tidak bisa kuwujudkan denganmu lagi. Tapi, tidak menutup kemungkinan kamu akan kembali dalam dekapanku.

Aku menyesal karena mengenalmu hanya lewat dunia maya. Aku menyesal karena belum bisa bertemu denganmu hingga kamu benar-benar melepasku. Kelak, aku akan menemuimu sebagai sesuatu yang bukan milikmu lagi. Bagaimana dengan mimpi-mimpimu? Dulu, aku selalu ingin jadi pendamping menuju suksesmu. Tapi, kini, aku rasa kamu bisa sukses dengan perjuanganmu sendiri, kan? Haha aku terlalu yakin dengan semua harapanku. Padahal, kamu tidak benar-benar ingin menjadikanku separuh hidupmu. Biarlah, biarkan saja aku memantaskan diri di hadapanmu, meskipun aku bukan lagi tujuanmu. Lalu, mengapa hingga kini aku masih saja menyanyangimu, bahkan mengharapkanmu kembali? Pesonamu yang menurutku biasa saja bukan hal utama, apalagi perhatianmu, aku tak pernah mendapatkan itu dengan lebih. Lantas apa yang membuatku masih inginkan kamu? Tentu saja karena cinta. Karena aku terlalu mencintaimu.

Advertisement

Cinta datang dan pergi tanpa permisi. Cinta berhentj tanpa diminta dan tumbuh lagi tanpa dugaan. Maka, jika aku masih mencintaimu, itu bukan salahku. Karena cinta tak pernah butuh alasan.

Semoga yang selalu kusemogakan akan indah pada waktunya. Aku menanti pertemuan, menanti semua kembali dalam pelukan, menanti rindu darimu, menanti kamu pulang ke jantungku. Tidak untuk sekarang, suatu saat nanti, aku mempercayai bahwa cinta akan pulang pada rumah yang tepat, cinta akan datang untuk menemui pasangannya.