Terimakasih pernah hadir dalam hidup, memberi cerita dengan berjuta kisah indah yang ujungnya klasik, seperti biasa. Aku garis bawahi setiap cerita kita menjadi sebuah kenangan.

Terimakasih pernah datang dan memberi bualan-bualan semu yang aku perjuangkan mati-matian, karena kukira kamu memang yang terbaik, yang akan menyiapkan segala upayamu untuk kita dimasa depan.

Terimakasih pernah menjadi penyembuh sakitku yang pernah memukulku, mencampakkanku dititik paling bawah, lalu kamu jatuhkan lagi aku kedasar bumi, dasar sangat dasar, dan paling bawah. Hingga akhirnya aku tersadar, aku hanya perempuan hina yang terlalu pede berada disampingmu.

Terimakasih pernah menjadi penawar dari racun-racun yang nyaris mematikanku, menyembuhkan aku dari setiap luka perihku, aku garis bawahi lagi, dulu. Lalu, kini rasanya racun itu sengaja kamu racik dan kau masukkan dalam tubuhku dengan cara paling sempurna.

Terimakasih pernah mengenalkanku pada bagian-bagian terpenting dalam hidupmu, orang-orang yang sangat kamu sayangi, teman-teman yang menjadi aktor utama dalam perjalanan kesuksesanmu, dan setiap jalur cerita yang hingga kini bahkan aku masih menganggap mereka keluarga.

Advertisement

Terimakasih untuk setiap kenangan manis, sedih-duka yang pernah kita lewati bersama, hingga aku berfikir kamulah satu-satunya orang yang bisa aku andalkan kala aku berada di bawah, nyatanya? Setiap kasih sayang. Perhatian, dan cinta paling tulus kamu sia-siakan.

Terimakasih pernah menjadi pendengar, teman yang baik, kakak yang pernah dewasa dan adik yang pernah sangat lucu. Semoga sisi-sisi kebaikan itu tetap ada disana.

Terimakasih telah membuatku menunggumu, menantimu dengan menghapuskan keyakinan bahwa jarak itu sulit, dan ternyata jarak itu yang membuatmu takut berjuang.

Terimakasih pernah sangat membuatku berharap, dan bahkan ketika orang lain menyibir sifat burukmu, aku mencoba menjelaskan bahwa kamu bukan sosok seperti itu.

Ada yang bilang ketulusan tidak perlu kamu tunjukkan.ada yang bilang keikhlasan jangan dipublikasikan. Tapi kurasa kamu cukup tau setiap detail alasan aku menulis ini.

Ada yang bilang, 'bagaimana nanti jika kita berjauhan?" "bagaimana nanti jika kamu sendiri?" 'setiakah kamu?" dan kinipun kamu membuktikannya dan menjawabnya sendiri dengan mencari penggantiku secepat setelah kamu melepaskanku.

Ada yang bilang "manusia bukan dewa", dan ketika kalimat itu meluncur, bahkan aku pun sadar, kamu tetap manusia yang bisa jadi berbelok, salah, dan kemudian akan minta maaf. Nyatanya, sedikitpun kata itu tak pernah datang dari sosok yang paling menempati seisi hati.

Tapi hari ini aku tersadar, sesadar-sadarnya. Sejatuh-jatuhnya aku padamu, sejatuh-jatuhnya kamu padaku, tetap ada rencana tuhan dibalik semua itu, dibalik setiap usaha yang pernah kita lalui bersama. Aku sudah jauh dan mungkin sudah terlupakan olehmu. Karena sedikitpun , kamu tak pernah hadir lagi. Jika jalan masing-masing adalah jalan terbaik, akan kuambil sebagai jalan untuk meninggalkan perasaan ini demi hidupmu yang lebih baik dimasa depan.

Aku harus kuat, kamu harus kuat.

Aku harus kuat agar kamu kuat melihatku berjalan sendiri.

Aku harus kuat agar tak ada sedikitpun ragu untuk mencapai masa depanmu.

Aku harus kuat kali ini, meski tertatih tanpamu, agar kamu tidak terbebani dengan perginya aku.

Dan aku harus kuat, untuk menguatkan orang-orang yang akan menguatkanmu, dan orang yang akan kamu kuatkan, suatu hari nanti.

Melangkahlah, jangan ragu, sudah kulepas semua maaf dan ikhlasku.

Menolehlah hanya jika kamu sedang mengalami pedih, dan cobalah menjadi kuat lagi, seperti yang pernah kamu berikan padaku.

Majulah, jadilah imam terbaik yang pernah ingin kita wujudkan bersama-sama.

Allah selalu menyayangimu.