Saat ini aku terlupa berapa menit yang sudah kita lalui bersama. Bolehkah kuminta jarimu untuk membantuku menghitungnya? Atau detak jantung kita hitung bersama? Sebenarnya bukan itu persoalannya.

Sebelum kita memulai, tepatnya aku memulai, ada hal yang seharusnya aku beritahu dan pasti akan kulakukan. Meski tidak ingin kulakukan dan seharusnya tidaklah sepantasnya untuk kamu terima.

Aku akan mengecewakanmu.

Dan aku tidak pernah tahu senja keberapa aku akan lakukan itu. Meski begitu, kau tak usah pergi atau untuk kau maki sebelum kita mulai. Aku hanya memberimu kepastian akan kekecewaan yang akan kuberikan untukmu; seperti akan ada satu hari dimana aku lupa menyapamu selamat pagi. Hei, kamu yang akan kukecewakan.

Apa aku masih manis hari ini?

Advertisement

Aku berencana menyakitimu pada bulan-bulan atau windu ketiga setelah kebersamaan kita. Mungkin aku akan berhenti berpura menyukai rambutmu yang kau geraikan saja, atau aku berhenti diam untuk celotehmu yang mulai memuakkanku; atau aku akan memelukmu sedetik saja ketika air mata tak jadi sahabat untuk peluhmu. Mungkin itu di tahun pertengahan hubungan kita. Mungkin akan jadi pertanyaan bagimu bagaimana aku bisa memenangkan hatimu setelah semua ini kututurkan?

Dan aku juga berharap semoga kau membaca ini sebelum kita memulai bersama. Kau juga masih banyak waktu sebelum kutemukan senyum di manis bibirmu. Atau kau berpikir akan mengecewakanku juga? Mungkin dini sebelum aku mulai? Aku jamin kau tak akan pernah bisa. Kau akan terhanyut dengan kemanisanku memanjamu.

Hal ini jelas bukanlah sebatas janji dariku, atau untuk membuatmu takut sehingga kau berpikir aku adalah orang yang kejam. Tapi, mengertilah ini sebuah kepastian yang akan kulakukan kelak dan kau akan merasakannya jua. Lalu jika kekecawaan menjadi kepastian bagi hubungan ini, pasti timbul pikirmu jika kau tak butuh kekecewaan, lalu kau akan berpikir dua kali menerimaku minimal menggubrisku. Memang aku tidak punya cara manis untuk berpura-pura tidak akan mengecewakanmu.

Hei kekasihku [kelak], jika kau akhirnya bertanya-tanya setelah mendapati ini di kasur peraduanmu, aku tidak berharap kau tetap tinggal. Aku hanya ingin mengingatkanmu atau sekadar mengusik ringan saja bahwa hanya ada dua hal yang akan kau terima dariku kelak di hari-hari bersama kita; kekecewaan dan kebahagiaan.

Izinkan aku mengoreksi kembali. Aku akan mengecewakanmu dan itu akan menjadi kepastian. Ambil tinta berwarnamu bantu aku melingkari kata kepastiannya. Kekecewaan akan jadi kepastian dariku; meski tak kuingatkan; tidak aku sadari; atau bahkan tidak aku ingin, ini harus kamu terima jua. Kepastian akan kekecewaan yang akan kau terima dariku tidaklah butuh usaha melakukannya. Sifat alami dariku bahkan bermiliar manusia. Lalu apa gunanya janji mungkin pikiranmu.

Sebelumnya ada dua hal yang aku ungkapkan di hubungan kita kelak. Kekecewaan dan kebahagiaan. Jika kekecewaan menjadi harga mati dariku, yang aku perlu lakukan mulai perkenalan pertama kita adalah berusaha memberimu kebahagiaan. Setiap hari bahkan setiap seperdetik waktu aku hanya akan mengingat bahwa kau hanya butuh kebahagiaan. Lalu sifat alami pemberi kekecewaan akan hilang oleh setiap usahaku membahagiakanmu.

Aku akan bahagia melakukannya, dan kau akan terlupa untuk kekecewaan-kekecewaan yang kau terima.

Untukmu yang lekas akan jadi kekasihku biarkan kebiasaanku menghapus kealamianku.