Aku hanya bisa berharap, berharap kau datang ke rumahku lebaran tahun ini. Masih aku nantikan langkahmu akhirnya tiba di depan pintu rumahku dengan senyum yang manis. Masih aku tunggu kau akan datang untuk bersilaturrohim kepada kedua orang tuaku. Aku ingin melihatmu mencium tangan kedua orang tuaku dengan seksama. Aku ingin melihat orang tuaku tersenyum karena kedatanganmu itu. Bolehkah aku berharap dan meminta, karena sampai hari ini aku masih menantikan kedatanganmu.

Kunantikan ketika ada salam terdengar dari luar rumahku, aku masih berharap itu adalah suaramu. Suaramu yang ingin aku dengar dari balik pintu. Ah namun hingga sekarang ternyata kau belum juga datang. Aku jadi berfikir, apakah engkau tak akan datang ke rumahku yang sederhana ini. Lalu kenapa? Aku jadi berfikir mungkinkan belum ada waktu bagimu untuk sebentar saja berlebaran ke rumahku. Masih sibukkah dirimu disana berkunjung ke rumah saudara-saudaramu, atau engkau mungkin sedang asyik bercengkrama dengan teman-teman lamamu, hingga kau lupa untuk datang kesini.

Berbagai pernyataan dan pertanyaan hinggap di fikiranku seolah memberikan alasan kenapa kau belum juga datang. Hatiku masih mau menerima alasan-alasan itu, karena aku masih meyakini kau akan datang sebentar lagi.Aku tak bisa memaksamamu datang kesini. Namun apakah kau tahu, kedatanganmu tentu sangat berharga bagiku. Aku pun ingin tahu, apakah kau menganggapku sebagai sosok yang berharga bagimu. Mungkin jika kau datang nanti, aku bisa meyakinkan diriku bahwa dirimu memang orang yang menganggapku sebagai bagian istimewa dari dirimu.

Apakah aku salah berharap, berharap menjadi orang yang memang kau istimewakan. Bukankah kita memang sudah begitu dekat dan akrab, lalu mengapa kedekatan ini belum mendatangkanmu kesini?. Mungkin aku harus bersabar untuk menantimu.Aku pun sebenarnya ingin menjadi prioritas di hidupmu. Bukan menjadi sosok yang terakhir engkau kunjungi, bukan pula menjadi tempat yang kau lupai untuk kau datangi. Tetapi entahlah, kadang aku pun ragu dengan semua candamu selama ini saat sampai hari ini tak ada senyum di wajahmu yang aku tatap di kursi rumahku.

Belum ada suaramu yang terdengar memenuhi ruang tamuku, padahal hari-hari ini sudah banyak sekali orang yang silih berganti menampatinya. Belum ada dirimu yang tengah menghabiskan makanan dan minuman yang aku sajikan. Saat ini masih aku lihat orang lain yang menempatinya, bukan kamu.Terkadang aku harus meyakinkan diriku, mungkin kau tak akan datang saat lebaran tahun ini. Mungkin tempat tinggalmu yang teramat jauh membuat engkau enggan kemari. Jarak yang begitu jauh telah membuatmu tak ingin kesini sekedar melihatku menyambutmu dengan penuh penantian.

Advertisement

Entahlah kadang aku berfikir demikian, kenapa jarak kita begitu jauh. Tetapi aku rasa jarak kita pun tak terlalu jauh, jika kau berniat datang tentu jarak bukan menjadi masalah buatmu. Sekarang jarak bukan menjadi masalah, banyak kendaraan yang membuatmu sampai ke tempatku dengan cepat. Lalu sebenarnya apa yang membuatmu belum datang?

Aku berfikir, sebenarnya momen lebaran ini adalah momen yang pas untuk membuat keluargaku lebih mengenalmu. Mengenalkan dan mengakrabkanmu denga orang-orang yang kusayangi dalam hidupku selama ini. Harusnya kau pun tahu tentang itu. Karena aku fikir kau sudah cukup dewasa untuk memikirkannya. Aku ingin bertanya, tentu kau masih mengingat semangatmu yang sebelum-sebelumnya kala ingin berjumpa denganku. Kau yang sangat antusias jika bisa bercanda tawa denganku.

Kau yang sangat bersemangat jika akan bertemu denganku. Lalu dimana semangat itu? lunturkah lebaran kali ini. Aku tak rela sepenuhnya, jika kalimat maafmu hanya aku dengar lewat telefon atau sekedar kata-kata yang kau susun panjang dalam sebuah pesan. Sepuitis dan seromantis apapun itu tentu lebih terasa membahagiakan jika aku dengar langsung. Aku ingin dengar itu langsung di depanku. Mendengarnya kau ucap dengan penuh ekspresi di wajahmu. Tak seperti sekarang yang masih kuterima lewat telefon dan lewat sms.

Bukankah jika kita bertemu, akan lebih indah momen-momen saat kita saling memamafkan. Rasanya aneh juga jika aku fikir, kesalahan-kesalahan yang kita perbuat selama ini apakah bisa luntur seketika jika hanya meminta maaf lewat sms atau telefon. Padahal kita sebenarnya kita sanggung untuk berjumpa bertatap muka.Sampai detik ini aku masih menunggumu, menanti kata maaf darimu terdengar langsung di rumahku. Aku masih menanti sebuah salam darimu terdengar lantang di depan rumahku. Tentu aku akan menyambutnya dengan penuh senyum.

Selanjutnya tentu akan memaafkanmu dengan penuh keikhlasan. Aku pun ingin mendengar kau memaafkanku dengan penuh senyuman. Datanglah, mungkin dengan silaturrohim ke rumahku maka hubungan kita bisa semakin baik dengan adanya doa restu dari kedua orang tua. Karena sebenarnya mereka pasti sudah sangat menantikan sosokmu, sosok orang yang telah membuat anaknya sering tersenyum sendiri.