Halo..

Kusapa bayangmu diantara sejuta pikiran yang membebani. Kutatap wajahmu perlahan lahan dari pojokan kursi ini. Menatapmu yang sedang asyik mengobrol, tertawa, dan bercanda dengan teman temanmu. Kau balas menatapku. Aku tersenyum tapi kamu tidak membalasnya.

Dulu kita pernah saling tersenyum

Apa kamu ingat?

Sore itu, sepulang latihan upacara. Saat itu kita sama sama masih berada di kelas 10, bukan? saat sekolah masih melarang kita membawa sepeda motor dikarenakan belum bisa melengkapi surat suratnya. Kita terbiasa dijemput atau naik angkutan umum.

Advertisement

Sore itu, kamu mengikuti langkahku dari belakang. Yang walaupun aku tak tau lama lama kusadari. Kamu tertawa, aku memberikan senyum termanisku disana. Akhirnya kamu berjalan disampingku.

Apa kau ingat, kita membicarakan semua yang terjadi hari ini. Mulai dari keluh kesah amarah menjadi tawa renyah yang kehangatannya tak tergantikan.

Langkah kita terhenti di halte sekolah. Sore berganti malam, adzan maghrib berkumandang. Belum ada angkutan umum yang lewat sejak tadi. Hatiku resah, entah jam berapa akan sampai dirumah. Disambut tugas tugas yang menumpuk. Tapi begitu kutatap kedua matamu, aku kembali tenang.

Kita habiskan sore itu berdua, hingga hampir tenggelam. Mentari berganti bintang, tak ada niatan untuk melangkah jauh dari sisimu. Kunikmati setiap detik waktu denganmu yang tak tergantikan.

Sore itu hanya kau, aku, langit, dan jalanan yang menyepi. Hingga angkutan umum lewat lalu kita berpisah di perempatan pasar. Begitu berat kaki melangkah menjauh setelah salam perpisahan dan sampai jumpa besok terucap. Memang setelah itu kamu akan terus mengirimku pesan teks untuk menanyakan apakah aku sudah sampai dirumah atau belum, sekedar mengingatkankun akan pekerjaan rumah yang menumpuk, atau bahkan mengingatkanku untuk istirahat, makan, menjaga kesehatan dan jangan tidur terlalu malam. Begitu, setiap harinya.

Semuanya terasa indah diawal. Karena kamu, aku menjadi lebih semangat mengerjakan semua tugas tugasku. Pergi kesekolah pun memberi kebahagiaan tersendiri bagiku karena dapat berdua denganmu.

Kala itu, aku tak tau bagaimana perasaanmu padaku. Benarkah cinta atau sekedar kagum saja. Tapi tetap kujalani cerita ini denganmu dengan harapan akan berujung indah.

Seiring waktu berlalu, semua tanda tanyaku akan perasaanmu terjawab. Cinta itu tak pernah ada.

Semua mulai terbukti sejak kedekatan kita selama ini. Tepatnya hari minggu saat kau benar benar menghilang, tidak mengabariku sama sekali dan disekolah kau tiba tiba menjauh.

Alih alih tak paham sebabnya, aku semakin yakin dulu kau tak benar benar cinta. Entah apa tujuanmu memperlakukanku seperti itu. Apa aku memang terlewat polos hingga terlalu menyenangkan untuk dijadikan mainan?

Kepergianmu yang tanpa kata itu meninggalkan sejuta pertanyaan dihati. Ingin kuungkapkan semua tapi apa daya aku tak sanggup. Aku ingin marah, ingin menangis, kesal. Jadi, apa artinya aku selama ini bagimu?

Tapi, pada akhirnya aku tak ingin terlarut. Aku bangkit menyembuhkan luka ku sendiri. Perih memang menyiram luka dengan air cuka.Tapi, jika hal itu harus kulakukan kenapa tidak? Toh ternyata makan harapan kosong itu menyakitkan.

Sekarang, kita sudah punya kehidupan masing masing. Kamu dengan duniamu, dan aku dengan segudang kesibukan organisasiku disekolah.

Kabar terakhir kudengar kau mempunyai seorang kekasih. Benarkah itu, sayang?

Marah? Sedih? Kesal? ya. Semua itu sempat kurasakan. Tapi apa boleh buat? Aku inginkan bahagiamu. Beruntung sekali gadismu itu, sayang. Dia berhasil menjadi satu satunya dihatimu dengan status jelas.

Sekarang aku ikhlas, sayang. Aku sudah memaafkanmu walaupun kamu tak pernah meminta maaf sekalipun. Memaafkan perpisahan kita yang terlalu tragis. Walaupun kamu selalu menunjukkan wajah tanpa dosa mu padaku seolah tak mengenali, aku tak lagi peduli. Semua sudah menjadi masa lalu yang kubungkus dan kusimpan jauh bersama jutaan rasa yang terpendam. Ku doakan bahagiamu setiap harinya dengan rasa tulus ikhlas tanpa secuil dendam yang tersisa.

Jaga gadismu baik baik, sayang. Berikan hatimu seutuhnya. Jangan lukai hatinya. Sampaikan salamku pada gadis tercantik yang dapat memikat hatimu. Dan titip satu pintaku, jangan tinggalkan dia tanpa kata seperti apa yang kamu lakukan kepadaku dulu.