Tak sengaja menemukan foto kita di postingan sosial media lamaku. Aku tersenyum melihat foto kita. Seolah-olah bercerita kembali saat-saat indah bersamamu pada waktu itu. Ingatkah saat kita pertama bertemu? Saat kita mulai akrab dan berteman baik? Saat itu kau senang sekali memanggilku gendut, sapi. Ingatkah saat kita minum di kedai kopi dan bercerita hingga larut? Menonton film di bioskop? Dan akhirnya kita saling mengutarakan perasaan. Ingatkah saat kita menghabiskan weekend berdua. Memasak bersama? Katamu kau suka sekali masakanku.

Tapi hubungan kita tak hanya manis-manis saja. Terkadang kecurigaanku yang berlebihan dan ketidak terbukaanmu menjadi konflik diantara kita. Kecemburuanku dan ketidakjujuranmu menyulut api amarah kita. Entah siapa yang benar dan siapa yang salah yang jelas ego kita yang masih terlalu tinggi dan kurangnya pengertian diantara kita membuat hubungan yang baru seumur jagung ini Kandas.

Kini kau pergi akupun begitu, membawa hati masing-masing yang sebelumnya kita satukan. Perih? Itu pasti seperti dua lembar kertas yang disatukan dengan lem, setelah kering dan menyatu tiba-tiba dipaksa dipisahkan kembali pasti akan meninggalkan bekas. Tapi janganlah kau membenciku karena kesalahanku, begitupun aku. Aku tak akan membencimu karena kesalahanmu. Karena bagaimanapun semua ini pilihan kita. Kita pernah saling mengisi. Kita pernah saling melukiskan tawa. Kita pernah punya mimpi yang sama. Kita pernah merasakan tiap proses jatuh cinta.

Terimakasih. Darimu aku belajar bagaimana menjadi sabar. Belajar memahami, belajar mengikhlaskan. Tulisan ini untukmu, bukan berarti aku ingin kembali. Tapi aku hanya ingin menyapamu akhirnya aku bisa benar-benar mengikhlaskanmu.