Berminggu-minggu kuputar otak untuk menganalisis kepergianmu—yang sebenarnya tidak jauh dari ekspektasi. Terlalu kasual—apapun yang kita landasi ini terlalu tidak berarti untuk dipermasalahkan. Namun otakku ini terlampau liar tak terkendali, dia suka meronta-ronta seenaknya sendiri, memutar apa yang pernah kita lalui. Kepalaku mulai penuh akan deretan memori yang pernah terjadi.

Kau dan aku hanya terhubung sebatas jemari. Tentu saja tidak seharfiah tautan jemari seperti di kisah-kisah romantis dimana Si Pria menggenggam erat Si Wanita. Di kisah kita, hanya ada ketukan jemari yang beradu dengan layar gawai kita masing-masing.

Kuingat pertama kali kumeladenimu, kujawab seadanya, kupasang bait-bait acuh tak acuh. Namun meski demikian, getol saja kau kirimkan barisan kalimat panjang. Alih-alih rayuan picisan dan membosankan yang sering dilontarkan kebanyakan orang yang mencari pertemanan maya, kau memilih untuk menyajikan tamparan-tamparan realita yang memang adanya seperti itu. Kau sibak sisi lain suatu topik dimana orang-orang tak pernah peduli untuk menyentuhnya.

Kau racik deretan kata itu sedemikian rupa, kita berargumen satu sama lain, sama-sama pongah dan tak mau kalah. Hingga tanpa sadar kau buat kedua sudut bibir ini terangkat. Tak habis pikir, pada akhirnya, kita punya cara pandang yang sama. Aku menemukan seseorang yang berada di pola pikir yang sama.

Setelah kuhabiskan berminggu-minggu bertukar sudut pandang denganmu, aku mulai membuka lebar rengkuhan imajiku. Harapan-harapan mulai datang. Ingin rasanya bisa langsung bersua. Sekadar mengekspresikan kernyitan dahiku ini di depanmu ketika kau melantunkan pendapat yang alpa di logikaku. Rasanya ingin saja tertawa lepas terbahak-bahak di depanmu—bersamamu.

Advertisement

Kau dan aku dekat jika kita berucap merujuk atap yang melindungi kita, tetapi di saat bersamaan terasa jauh. Bila jarak mempunyai makna universal, tidak ada kata yang sanggup menggambarkan keadaan membentang yang mengkotak-kotakkan kita—terpisah dari satu sama lain. Dapat bertemu walau masih tak ingin.

Terlepas dari semua euforia yang telah kita lalui, tiba-tiba balasan itu terhenti. Tak ada argumen alot sebelumnya, tak ada tanda-tanda bosan, tak ada apa-apa yang mendasarimu untuk berhenti—setidaknya begitu yang ku rasa. Ah mungkin otak cemerlangmu perlu rehat karena terkuras habis untuk urusan studimu sehingga kau takut kalah menghadapi opini-opiniku.

Kutunggu sehari dua hari. Seminggu dua minggu terlampaui, pesan itu masih terhenti di jawaban terakhirku. Terbaca olehmu, hanya alpa balasan. Asumsi-asumsi mulai melompat-lompat di pikiranku.

"Apakah aku pernah menyinggungmu?"

Aku selalu menganggapmu sebagai sosok yang imun terhadap candaan pedas, karena kau akan membalas dengan lihainya. Lalu seringnya aku yang tersudut. Tetapi mungkin aku pernah melampaui batas. Bila ya begitu, kumohon dengan sangat—maafkan aku. Katakan iya dulu dengan lantang, terima maaf ini, lalu melengganglah pergi. Aku tak bisa berjanji macam-macam selain berusaha memperbaiki diri.

"Apakah aku mengganggu harimu?"

Efek ketika aku menimpali pesanmu adalah tersenyum, kukira kau akan mendapat khasiat yang sama ketika berbalas ide denganku. Jika ternyata realitanya tak demikian, maka langkahmu dulu kurang tepat. Kau harusnya tak perlu berpura-pura selama itu untuk terdengar senang ketika bertukar jawaban denganku.

"Apakah kau sudah ada yang punya?"

Kupikir kau terlalu dewasa untuk menjalani hubungan yang kekanakan. Meninggalkan teman karena mempunyai pasangan adalah hal yang pemuda SMP lakukan. Jika jawabannya iya, kau bisa katakan saja padaku, banggakan ia di depanku.

Dengan begitu aku termotivasi, bahwa seseorang yang brilian memang pantas mendapatkan sosok yang brilian juga. Namun aku ingat betapa kasualnya kita bertemu dan bersua, aku bukanlah seseorang yang bisa 100% dilabeli "teman".

"Apakah kau takut akan eksistensi perasaan lain untukku yang melebihi keinginan berteman?"

Ini asumsi paling naif yang bisa kuberikan dari otakku yang sudah kehabisan ide. Bila kuteruskan, tak akan ada hentinya aku mereka-reka. Namun, jika jawabannya iya, maka akan ku ucap lantang kata: "Kembalilah." Jadilah pria dewasa yang berani menghadapi realita.

Garis takdir tak akan ada yang tahu akan bertemu dan bercabang kemana. Kuikhlaskan jika itu adalah simpangan takdir atas diriku dan yang lain—tak akan kupertanyakan mengapa. Namun untuk garis takdir kita yang terhenti di simpul mati secara tiba-tiba, aku butuh jawaban.

Dariku,

Seorang yang berharap pantas diberi jawaban.