Menginjak usia 25 tahun, kamu akan merasakan seperti menjalani suatu hidup yang berat. Dimana teman – teman seusiamu akan menemukan pekerjaan yang sesuai dengan passionnya, beberapa sudah mapan dan bisa membeli apapun yang diinginkan, menemukan jodohnya bahkan ada yang sudah memiliki beberapa anak. Di tempat kerja saya, hanya saya saja yang belum menikah.

Dengan berbesar hati dan selalu tersenyum, saya mendengarkan cerita teman – teman saya mengenai suami atau anak mereka sembari berharap saya segera disatukan dengan jodoh saya. Di usia itu, kamu akan merasa galau. Kamu semakin sadar bahwa perasaan cinta saja tidak akan cukup menjadikan sebuah hubungan akan berhasil. Banyak faktor lain yang lebih krusial dari perasaan.

Hal – hal seperti jarak, pekerjaan, pangkat atau jabatan, suku, agama, penghasilan, kesetiaan hingga restu orang tua ternyata menentukan bertahan atau tidaknya sebuah hubungan. Hampir dari semua hal tersebut pernah saya alami. Terakhir ini saya jatuh cinta dengan seorang pemuda sederhana. Namun ibu saya belum merestui karena masalah pekerjaan dan penghasilan dari lelaki yang saya pilih.

Saya menceritakan hal ini agar kita bisa saling berbagi, agar para pembaca tulisan ini tidak merasa sendiri seandainya ada yang bernasib sama seperti saya. Pada dasarnya tidak ada satu orang tua pun di dunia ini yang ingin anaknya bernasib buruk. Sudah wajar jika orangtua menginginkan anak wanitanya bersanding di pelaminan dengan seorang lelaki yang tampan, kaya, baik, soleh, berasal dari keluarga baik dan beribu alasan baik lainnya.

Kebetulan lelaki yang sedang saya perjuangkan ini berasal dari keluarga yang orang tuanya bercerai. Sejak kecil, lelaki pilihan saya ini sudah terbiasa bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Ibu saya khawatir dia tidak bisa menafkahi saya dengan penghasilan yang tidak terlalu besar dan dia masih memliki kewajiban menafkahi keluarganya. Namun saya percaya akan janji Tuhan saya, yang akan memberikan rejeki dan mencukupi kebutuhan bagi yang berniat baik menikah.

Advertisement

Oleh karena itu, saya dan pasangan memutuskan untuk memperjuangkan hubungan ini. Kami percaya bahwa serumit apapun masalah di dunia ini, tentu ada jalan keluar, selama kita masih mempunyai harapan serta berdoa dan berusaha. Ironis memang, di saat kami sebagai sepasang kekasih berniat baik menuju hubungan yang halal, namun terhalang restu orang tua dengan alasan yang tidak syar’i, yang menurut kami lebih ke arah keduniawian.

Namun kekasih saya selalu menasehati saya agar tetap menghormati orang tua. Bagaimanapun, orang tua adalah orang yang telah membesarkan kita sejak kita kecil dengan sepenuh hati. Restu dari orang tua merupakan restu Allah juga. Bagi kalian yang memiliki cerita yang mungkin sama atau hampir sama dengan saya, mudah – mudahan Allah segera memberi jalan keluar dari masalah ini.

Semoga Allah meridhoi niat baik untuk menuju pernikahan yang halal, penuh berkah dan merupakan penyempurna dari agama. Karena menikah merupakan separuh dari agama. Seorang pemuka agama pernah menasehati saya agar saya berdoa lebih khusyu’ karena hanya Allah Maha Pembolak – Balik Hati manusia. Semoga ibu saya dibukakan hatinya untuk niat tulus dari kami yang ingin menikah.