Pernikahan diibaratkan sebuah tim yang terdiri dari suami istri. Tidak masalah asal cara berpikirnya yang berbeda yang laki-laki dari logika dan wanita dari perasaan, terima saja karena memang itu sudah menjadi fitrah dari sananya, tetapi kan kita menikah dengan atas dasar rasa dari hati juga yaitu cinta, haha.

Seharusnya dengan adanya rasa cinta ia hadir sebagai perekat dari segala perbedaan yang ada. Istilahnya “rasa mengedepankan ego dengan mempertahankan siapa yang lebih benar siapa salah akan teredam karena rasa cinta sehingga muncul perasaan takut saling menyakiti dan rasa kehilangan satu sama lain”

Seseorang yang mempunyai tujuan hidup yang sama, maka apa saja yang dilakukanya adalah untuk menuju pada tujuan bersama. Apa tujuanya “saling membahagiakan"?

Mari kita sama-sama berpikir dan saling memahami definisi tersebut dengan sebuah pemaknaan dalam cerita.

Wanita baik tidak akan kelihatan matrenya sebelum menikah, setelah menikah dia akan menguasai semuanya.

Advertisement

Mereka (wanita) menguasai laki-lakinya dengan nggak boleh ini nggak boleh itu dan harus ini harus itu, maksudnya:

1. Laki-lakinya diurus


  • Nggak boleh ini misalnya, “Nggak boleh merokok, nggak boleh begadang, jangan makan itu pedas, jangan terlalu asin,  jangan manis-manis (karena kamu sudah manis), Minggu pagi jogging bersama”. Maksudnya, dia harus jadi pria yang menemaninya sampai tua dengan tubuh yang sehat.

  • “Jangan sering-sering makan di luar, makan di rumah saja! Makanan di rumah lebih sehat dan enak karena aku yang masak” Padahal biar hemat, haha.

  • Harus ini misalnya pakai setelan dari celana, baju, luar dan dalam sampai kaos kaki dan sapu tangan yang disesuaikan.

  • “Sudah siang cepat mandi, sarapan dan pakaian aku yang siapkan” Jangan ngeyel, karena yang melihat penampilan suami lebih cocok harus seperti apa adalah istrinya (sebagai designer pribadi suami). “Yang penting kan menurutku bagus dan aku senang lagian selain dari aku, kamu tidak butuh pujian dari wanita lain bukan? Pertanyaan keramat yang menjebak laki-laki harus menjawab “iya” dengan muka imut polos tanpa bersalah, haha.

  • Wanitanya suka mengatur dan mengharuskan laki-lakinya menurut untuk membetulkan lampu mati, kabel konslet, genteng bocor, membantunya mengangkat lemari dan dia yang mengaturnya agar terlihat tertata rapih serta mengantarkannya pagi pagi kepasar dan segala permintaan wanita yang bersifat mengatur lainya, tetapi setelah itu menghadiahkan kecupan dan kopi hangat sebagai rasa terimakasih.

2. Wanita yang multiperan sebagai ibu, istri dan sahabat

Sebagai wanita (ibu) “Handuk kenapa ada di atas kasur? Piring dan gelas kotor kenapa nggak ditaruh di dapur?” Tetapi ngomelnya sebagai istri yang mesra memanggil dengan panggilan lembut dengan tatapan dan kata yang tegas.

Juga sebagai sahabat hidup yang konsep mencapai kebahagiannya untuk kesenangan bersama. Istilahnya “Temannya adalah temanku, aktivitasnya adalah aktivitasku.”

Maksudnya begini, “laki-laki bekerja untuk keluarga kami dan wanita mengurusi rumah dan merawat anak untuk keluarga kami, temannya adalah teman yang juga saya mengenalnya, aktivitasnya saya bersamanya”.

Bagi saya sulit untuk membayangkan sebuah pasangan yang mencapai kesenangannya dengan cara masing-masing dan akhirnya tidak saling mengenali aktivitasnya satu sama lain. Wanita asyik bersenang-senang nongkrong arisan dengan temannya dan suami kumpul kumpul nonton bersama tanpa sahabat hidupnya (istrinya) dan akhirnya sama-sama pulang malam dalam keadaan letih dan mengantuk.

3. Wanita sebagai ibu mentri keuangan rumah tangga

“Let you focus with your job. Masalah keuangan rumah tangga keluarga, kamu dan anak-anak biar aku yang urus.”

Sebentar, sebentar, jangan tesinggung dulu. Kalian akan mengerti jika saya tampilkan biaya rumah tangga dari keperluan yang pokok sampai minyak urut di proposal anggaran rumah tangga.

“Sayang, ini pengajuan proposal anggaran rumah tangga bulan ini. Pastikan semua saldo tabungan dan uang di dompet didonasikan sepenuhnya. Biaya listrik plus air dan tabungan pendidikan anak sudah saya tambahkan di sana. Sayang, jangan khawatir pelaksanaan anggaran sudah saya urus sesuai rencana".

Kok percaya banget menyerahkan semua urusan keuangan, tugas rumahtangga sampai mengurusi keluarga sama istri semua? Tunggu dulu, kalau kita nggak percaya sama pasangan sendiri kenapa dinikahi? Kalau kita nggak bisa percaya ya jangan dinikahi, buat apa kita hidup tapi dalam perasaan jaga-jaga?


Hidup bersama kan untuk merasa saling mendamaikan dan menentramkan.


Ternyata hidup ada yang menguasai dengan diurusi enak, bukan?

Yang jadi pertanyaan, dengan jatah waktu 24 jam yang sama (suami dan istri), kapankah waktu yang digunakan istri untuk mengurus dirinya sendiri yang waktunya diikhlaska? Diserahkan total untuk mengurusi segala kebutuhan keluarga, suami dan anak-anaknya? Bukankah itu adalah sebagai bukti pengabdian wanita dalam pernikahan?

Jika sudah menikah, wanita baik akan menguasai semua aspek kehidupan dan keuangan laki-laki dengan tujuan tidak lain untuk mengurus dan menyiapkan laki-lakinya sebagai penghebat kehidupan di dalam kehidupan yang sejahtera, rukun, sehat, nama baik yang mulia, bahagia dan bermanfaat bagi sesama.


Tidak akan pernah rugi sedikit pun dan tidak akan direndahkan sebawah apapun seseorang laki-laki yang dikuasi wanitanya. Karena pada kenyataannya yang benar-benar berkuasa dan sebagai penguasa utama adalah laki-laki.


Tahu kenapa? Karena yang mengizinkan wanita berkuasa adalah laki-laki dan tetap laki-laki sebagai penguasa utama dan pemilik keputusan akhir di dalam keluarga yang memang mengharuskan seorang lelaki yang harus melaksanakan kekuasaan untuk mengambil keputusan maka wanita baik akan tahu porsinya dalam hal tersebut.


Bagi laki-laki, ikhlaslah hidupnya diurus oleh wanita yang memuliakan kehidupan bersama dengan penuh cinta dan kasih. Tanpanya, hidupmu takkan baik, karena wanita baik akan menjadikan laki-lakinya lebih baik.