Ini bukan hal baru bagiku, tentang perasaan yang remuk, bercampur aduk hingga terasa hampa. Saat itu aku tahu bahwa mencintaimu penuh dengan risiko-risiko yang tak mungkin terelakan. Menemukan wanita yang dulunya sudah aku tahu tentang baik burukmu, walau tak pernah resmi aku mengenalmu. Untuk sekilas memang semua terdengar tak penting kala itu, di mana kamu selalu muncul dengan candamu bersama temanmu, dan saat teman-temanku membicarakanmu, itu semua tak kudengar, tapi itu dulu.

Sekarang, di saat aku jauh dari tempat yang aku kenal saat kecil, kutinggalkan semua cita, harap dan impian bersama cerita-cerita di dalamnya menuju kota yang tak aku kenal, membuka lembaran bab-bab dan menyusun bait-bait di setiap halaman buku ceritaku yang baru.

Pada saat itu aku tak terlalu mempedulikan sesuatu atas nama cinta, atau wanita-wanita yang menggoda. Aku jalani tiap detik-detik dengan rasa biasa, menikmati kesenangan sementara saat pindah kota, menemukan hal baru, bangunan-bangunan yang menjulang tinggi, jalanan yang asing tapi seru untukku jelajahi, tempat-tempat nongkrong dan suasana panas kala siang naik keatas. Menikmati semua hal baru yang ada di tanah sunda, sedangkan aku tumbuh besar di tanah jawa,  Bersama mama dan kakak yang dimana mama adalah asli orang jawa, dan sekarang aku akan hidup di tanah Pasundan, yang mana tanah asli papaku dilahirkan.

Ya memang, aku seorang peranakan jawa-sunda, setelah mama meninggal aku tinggal dengan kakak perempuanku untuk memperbaiki nasib, itulah tujuan di balik perantauan ini, yang pasti setiap perantau memiliki tujuan yang sama.

Di tengah itu tersirat kisah tentang senyummu yang sempat merekah merah, membuatku semakin jatuh hati, di situlah aku terpikat. Wanita yang dulu ku anggap hanya angin lalu, karena cerita temanku yang selalu menyudutkanmu. Kali ini berbeda, aku tak melihatmu dari itu, sosok perempuan dengan kegilaanmu sendiri, tapi kulihat sebaliknya ketulusan dan kelembutan yang sebenarnya ada pada dirimu.

Advertisement

Jauh dari itu semua, rasa penasarankulah yang menjebakku dalam hal yang kusebut cinta, bahwa aku mencintaimu dengan risiko yang sangat besar, tak memandang masa lalumu atau tingkahmu. Bagiku semua lucu, semua tentangmu, dengan candamu yang sesekali kudengar, senyummu yang hadir tanpa kusuruh. Itulah mulanya, mula di mana aku jatuh, dan merasakan semua perasaan yang belum pernah aku rasakan

Tentang rasa sakit, atau pengharapan yang bagiku itu tak mungkin, namun, hanya bahagiamu yang kumau. Dan sekarang kau telah tersenyum bahagia, semua harapanmu untuk bahagia dengan lelaki telah kau miliki. Semua sudah jelas tujuanku, paling tidak tersampaikan walau bukan aku. Aku jauh lebih senang, ya memang rindu tak akan berhenti. Setidaknya kau tersenyum manis sekarang.