Pernahkah salah satu dari kalian yang membaca artikel ini berada di situasi ketika pasangan kalian menanyakan “Apakah kamu menyesal menjalani hubungan ini bersamaku?” kalau kalian belum mengalaminya, I can guarantee, girls, you will. Here I would like to share what in my mind when I got that question.

Ketika mendengar pertanyaan itu meluncur dari mulut kekasihku, satu hal yang membuat diriku tercengang adalah menghadapi saat-saat aku terdiam sesaat dan berfikir. "I do really love him" tetapi untuk menjawab pertanyaan “apakah aku menyesal menjalani hubungan ini bersamanya” untuk saat itu, aku tak bisa menjawab dengan 100% keyakinan.

Yang keluar dari bibirku untuk menjawab pertanyaannya adalah “Aku tak bisa menjawab sekarang karena aku sendiri belum yakin apakah aku menyesal apa tidak berhubungan bersamamu. yang aku tahu aku menyayangimu dan yang kita miliki sekarang baik-baik saja" saat mendengar jawaban itu, dia juga terdiam sesaat dan pada akhirnya membenarkan jawabanku.

Mengingat kembali kejadian tersebut aku tak bisa menghindari untuk mengakui bahwa keheningan yang hanya sepersekian detik sebelum menjawab pertanyaan kekasihku itu. Pada hakikatnya berisi berjuta-juta pertimbangan, yang akhirnya aku akui, benar-benar materialistic.

Yang ada dalam kepalaku bukanlah sebuah jawaban melainkan pertanyaan lanjutan, seperti, "apakah aku akan mapan secara ekonomi bersamanya? Apakah ketika aku bersamanya dia mampu memenuhi kehidupanku? Apakah ketika bersamanya apa yang aku dapat setidaknya sama seperti apa yang aku dapatkan sekarang dari orangtua / hasil kerjaku (kalau sudah tercukupi) ataukah mungkin malah melebihi target?"

Advertisement

Pertanyaan-pertanyaan tersebut pada akhirnya membuatku benar-benar tersadar bahwasannya materialistic adalah suatu hakikat yang tak akan terpisah dari seorang wanita yang beranjak benar-benar dewasa. Ketika masih berada di bangku SMP ataupun SMA mungkin jawaban yang akan menjawab pertanyaan tersebut adalah jawaban idealis seperti “tentu saja aku tak menyesal bersamamu karena hanya dengan bersamamu saja aku bahagia” atau “aku tak perlu hal lain kecuali kamu disisiku” bisa juga “seburuk-buruknya dirimu, aku akan selalu bersamamu” yang kalau kupikir sekarang, itu sangat-sangat-sangat, cheesy, so to say.

Jawaban-jawaban itu hanya jawaban yang ditujukan untuk membuat pasangan kita bahagia tapi bukan jawaban sebenarnya berdasarkan fakta. Oleh karena itu jawaban-jawaban seperti itu sering muncul di tahap pasangan “cinta monyet”.

Faktanya, saat menuju hubungan yang benar-benar serius, materi yang berhubungan dengan keadaan ekonomi tak bisa terelakan, seperti yang mungkin sering dikatakan orangtua ketika menasehati dunia percintaan anaknya “kamu gak bisa makan cuma pake cinta doang” sederhana tapi maknanya luar biasa, ya kan?

Dan aku menyadari bahwa hal itu dikarenakan memutuskan untuk hidup dengan seseorang adalah salah satu fase tersulit dalam hidup kita. Karena kita pada akhirnya akan memutuskan pada siapa hal-hal pribadi yg kita miliki kita bagi, pada siapa kita mempercayakan kemajuan kehidupan kita? Dan kemajuan, mau tidak mau sering berhubungan dengan ekonomi.

Karena pada akhirnya nanti kamu akan membutuhkan finansial yang mapan untuk mengembangkan hubungan kalian dari yang hanya pacaran menjadi pasangan suami-istri misalnya, kemudian membutuhkan rumah untuk berlindung di kemudian hari lalu membutuhkan ekonomi yang baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ataupun untuk membahagiakanmu dengan hanya sekedar membelikanmu baju baru atau mengajakmu rekreasi.

Hal-hal yang telah kujabarkan panjang lebar diatas adalah hal-hal yang terbersit dalam sepersekian detik saat aku akan menjawab pertanyaan kekasihku tadi. Oke, aku akui mungkin aku adalah salah satu yang sering dibilang materialistic but hey, siapa yang tidak?

Menurutku, para wanita wajib hukumnya menjadi materialistic karena pada nantinya mereka akan memilih seseorang yang dapat menjaga hidupnya lahir dan batin. Ekonomi adalah salah satu indikator kemapanan selain cinta dan kasih sayang. Tetapi perlu diingat, menjadi materialistic harus tetap ada normanya dan clasy

Aku akhirnya menyadari materialistic adalah hal wajar dan natural namun bukan berarti hal itu digunakan untuk merendahkan pasangan kamu atau calon pasangan kamu. Karena tak ada yang bisa memprediksi akan bagaimana kehidupan seseorang di masa yang akan datang.

Jadi menjadi materialistis itu tadi, agaknya, akan menjadi sifat buruk ketika digunakan untuk merendahkan siapapun. Gunakan intuisi itu untuk menyusun strategi, gunakan itu untuk tidak kemudian terbuai dengan asmara belaka tapi untuk tetap sadar bahwasannya kalian butuh berkembang secara batin dengan cinta dan juga lahir dengan kemampuan untuk bertahan hidup.

Oh ya untuk para lelaki yang mungkin membaca artikel ini, yang mungkin sedikit emosi (pacarku juga mungkin akan marah besar ketika membaca ini) jangan lantas memandang sifat materialistic pasangan kalian itu adalah selalu hal buruk karena dengan mereka memikirkan hal-hal materialistic yang serius.

Itu berarti mereka menganggap hubungan yang kalian miliki adalah hubungan yang sudah pada taraf serius bukan monyet-monyetan belaka dan juga itu karena mereka ingin hidup bersama kalian. Hargailah apa yang mereka pikirkan karena itu merupakan hak asasi mereka sebagai wanita dan sebagai manusia, untuk terus-terus dan terus berfikir demi survival mereka di dunia.

Jadi, girls, jika suatu saat nanti kalian menghadapi situasi yang mengharuskan kalian menjawab pertanyaan “apakah kamu menyesal menjalani hubungan ini?” my last suggestion is jujurlah dengan keadaan dan fakta kehidupan, jangan memberikan jawaban yang bertujuan hanya untuk spoiled your boy.

Pertanyaan itu bukan pertanyaan mudah, itu adalah jelas-jelas pertanyaan yang jawabannya akan menggambarkan hubungan macam apa yang kamu harapkan untuk hidupmu, so, think it strategically, jangan jawab ngasal ya, karena hidup itu bukan asal-asalan, walaupun hanya dimulai dari sebuah jawaban kecil-sederhana.