Apa Mimpi Terburukmu?

Tsunami, kenaikan suhu ekstrem, terhidangnya lumpur sebagai makanan sehari-hari karena minimnya suplai makanan, infeksi berbagai penyakit berbahaya, kematian prematur bagi anak-anak serta sakit mental yang semakin marak terjadi akibat depresi setelah kehilangan dan dampak kerusakan dari bencana alam, merupakan mimpi burukku dan akan menjadi mimpi terburuk jika benar-benar terjadi.

Alam sedang sekarat…

Gaya hidup berubah, iklim berubah, lingkungan berubah. Perubahan memang akan selalu terjadi sebagai wujud pertumbuhan kehidupan. Semua orang setuju akan adanya perubahan namun apakah setiap orang siap dalam menghadapi perubahan itu sendiri?

Bencana alam merupakan suatu bentuk “penyembuhan diri” alam terhadap perubahan yang terjadi. Kita tidak dapat menghentikan bencana alam yang terjadi, kita hanya mampu memperlambat atau meminimalisir dampak kerusakan yang diakibatkan ketika bencana terjadi.

Advertisement

Pernyataan diatas dapat memberikan suatu “garis pembatas” bagi kita sebagai manusia bahwa bencana alam merupakan hal yang mutlak terjadi sebagai bentuk adaptasi alam terhadap perubahan kehidupan yang terjadi. Ketika kita telah memahami hal ini maka kita akan lebih siap dalam menghadapi perubahan yang terjadi, dan dapat bersikap konsisten dalam menghadapi berbagai konsekuensi yang melekat bersama dengan munculnya perubahan.

Di manakah “Ketika ada kemauan, Pasti ada Jalan?”

Sumber energi terbarukan merupakan isu hangat yang selalu menarik untuk dibicarakan di berbagai negara termasuk Indonesia. Indonesia dengan segala potensi alamnya, telah diyakini dapat menjadi inisiator dalam pengembangan sumber energi terbarukan berbasis teknologi tepat guna.

Namun mirisnya, berdasarkan data yang diperoleh dari Kementerian Sumber Energi dan Mineral Republik Indonesia pada tahun 2012, diperoleh bahwa pemanfaatan sumber energi terbarukan atau Non Renewable Energy (NRE) Indonesia masih sangat rendah yakni sekitar 5% walaupun memiliki potensi untuk menghasilkan energi yang sangat besar.

Ketika kita berbicara tentang “sumber energi terbarukan” yang selama ini menjadi agenda utama dalam berbagai diskusi para advokat lingkungan, maka kita tidak dapat mengelak bahwa para pelaku bisnis dan ahli ekonomi akan menjadi rival utama bagi mereka.

Setelah beberapa dekade, para advokat lingkungan, pelaku bisnis serta ahli ekonomi Indonesia pada akhirnya sampai pada suatu kesimpulan bahwa Indonesia perlu merombak sistem ekonomi yang berlaku saat ini dan mulai berpacu menuju Indonesia dengan sistem ekonomi hijaunya.

Prinsip Ekonomi Hijau menyediakan kerangka kerja konseptual mendasar untuk menerapkan pembangunan yang berkesinambungan. Prinsip Ekonomi Hijau dipandang sebagai satu-satunya solusi dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi global karena prinsip ini merupakan proses penerapan pertumbuhan pendapatan dan pekerjaan yang didorong oleh investasi publik dan swasta dengan (a) mengurangi emisi karbon dan polusi, (b) meningkatkan energi dan efisiensi sumber daya alam, dan (c) mencegah hilangnya keanekaragaman hayati dan ekosistem layanan.

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan keanekaragaman potensi sumber energi terbarukannya yang terdapat di setiap daerah. Pemanfaatan sumber energi terbarukan harus dilakukan dengan menggunakan teknologi tepat guna, mengacu pada prinsip komprehensif dan sustainabilitas yang kuat.

Konsep ekonomi hijau merupakan solusi ”win-win” yang dapat memberikan efek domino melalui keuntungan yang dapat diperoleh baik pada sektor ekonomi, lingkungan maupun sektor-sektor penting lainnya. Esensi penting yang terkandung dalam konsep ekonomi hijau seperti yang disampaikan dalam Asia Pacific Economy Cooperation pada tahun 2013 adalah,

Belajar dari alam : bekerja berdasarkan apa yang disediakan oleh alam secara efisien, yakni tidak mengurangi tetapi justru memperkaya apa yang telah disediakan oleh alam sebagai aplikasi pergeseran dari kelangkaan menuju kelimpahan.

Prinsip “Zero Waste” : setiap materi yang ada di bumi mengandung energi. Pernyataan inilah yang menjadi landasan kerja konsep ekonomi hijau, yakni dengan memanfaatkan limbah dari suatu proses menjadi sumber energi/materi baku proses yang lain tanpa ekstraksi energi eksternal.

Inklusivitas Sosial : konsep ekonomi hijau selalu menyisipkan sektor sosial dalam implementasinya, melalui penyediaan lapangan pekerjan yang lebih luas serta distribusi kesetaraan ekonomi yang lebih merata.

Sumber energi terbarukan yang bersih, berkesinambungan, terjangkau bagi masyarakat, dengan berlandaskan teknologi tepat guna bagi Indonesia yang selama ini masih menjadi perdebatan, kini telah mulai menemukan titik terang. Prinsip ini dapat berjalan dengan sukses jika semua pihak meliputi surveyor, ilmuwan, insinyur, akuntan, pelaku bisnis, advokat lingkungan serta pemerintah lokal/nasional dapat bekerja sama secara harmonis.

Surveyor perlu melakukan pemetaan terhadap kondisi sosial dan geografis dari daerah yang akan dikembangkan sumber energi terbarukannya. Para ilmuwan dan insinyur bekerja sama dalam mengembangkan sumber energi potensial yang direkomendasikan oleh surveyor dan menerjemahkannya dalam suatu teknologi tepat guna, yang cocok untuk diaplikasikan di daerah tersebut. Pemerintah lokal/nasional memainkan peran dalam hal lisensi dan pendanaan.

Para akuntan berperan dalam mengkonversi setiap langkah yang diambil dalam pengembangan teknologi ini dalam bentuk yang dipahami oleh masyarakat dan pembuat kebijakan, yakni “uang” dan memberikan rekomendasi apakah sumber energi terbarukan ini dengan segala keunggulan dan kekurangannya dapat berkompetisi terhadap sumber energi yang sudah ada.

Pada akhirnya, para pelaku bisnis dan advokat lingkungan berada pada posisi untuk memutuskan dan merealisasikan sumber energi ini untuk dapat dikembangkan dan diaplikasikan bagi masyarakat dengan memanfaatkannya sebagai investasi yang hasilnya juga akan kembali pada masyarakat. Inilah rangkaian alur kerja layaknya suatu prosedur standar dalam suatu perusahaan yang harus ditempuh dalam mewujudkan sumber energi terbarukan yang bersih, terjangkau dan berkesinambungan bagi Indonesia.