Menikah muda, yakin?

Hampir semua cewek ingin nikah muda. Loh kok gitu? Ini pengalaman yang gue ambil kesimpulan bahwa hamipir semua cewek memang ingin menikah muda. Pemikiran tentang rencana pernikahan sudah berapi-api diusung saat SMA. Gue ingin menikah usia 23 tahun, jadi ibu rumah tangga dan wanita karir sekaligus. Gue mau nikah muda, biar anak sama gue itu udah kayak temen jarak usianya gak jauh. Gue mau nikah lebih awal, biar nyokap gue punya cucu dan jadi oma-oma muda. Mereka beropini A,B,C,D tanpa tau pernikahan sebenarnya itu seperti apa.

Jujur usia SMA gue belum mikir apa apa tentang pernikahan, yang gue pikirin adalah gimana caranya supaya cepet-cepet lulus dan keluar dari bayang-bayang soal matematika, so gue harus dapet jurusan kuliah yang gue suka (setidaknya yang ga ada hukum hukum yang isinya angka semua). Hal ini memusingkan gue dan cukup mengalihkan perhatian gue ke lawan jenis, jadi gue gak terlalu mikirin untuk punya pasangan, apalagi soal pernikahan. Setelah gue kuliah, ketika kondisi emosional dan pola pikir gue cukup stabil karena gue cukup enjoy menikmati dunia perkuliahan, barulah tersirat bahwa gue harus menikah.

Ditambah lagi pola pikir lingkungan sekitar yang memberikan pengaruh bahwa menikah itu harus disegerakan. Saat menuju kampus seolah olah otak gue berkata "Gue harus nikah, cari calonnya buruan", sambil duduk di bikun (bis kuning fasilitas kampus) gue mikir "Hm..fakultas mana yang banyak ikhwannya", sudut pandang gue kalau "ikhwan" itu memiliki keinginan nikah muda dibanding lelaki pada umumnya. Pikiran gue meracuni gue hari ke-hari. Apalagi sekarang sosial media solah – olah menyudutkan kaum jomblo, loh emang jomblo aib? Hak mereka dong kalau mau jomblo, yang berpasangan aja belum tentu bahagia, kok.

Hari demi hari pikiran gue pun semakin mendominasi tentang bagaimana caranya menikah muda, dan hal yang terlihat adalah keindahan dalam pernikahan. Hingga tiba – tiba gue kayak bangun dari tidur saat dosen gue bilang, "Pernikahan itu adalah hal yang membuat wanita bingung, bingung antara apakah ini awal kebahagiaan atau awal kesengsaraan". Lalu gue berpikir, "Apa? Pernikahan yang menghasilkan kesengsaraan emang ada?". Nyatanya, pernikahan itu gak cuma sekedar bersama sama dalam bahagia tapi juga dalam keadaan susah.

Advertisement

Hei, sadarlah kalian yang ingin nikah muda atau ingin menikah, khususnya untuk wanita. Menikah itu bukan tentang gemerlapnya wedding party, bulan madu berduaan, menghabiskan waktu berdua dengan pasangan, pergi keundangan bareng gandengan, bebas dari ikatan orang tua, memiliki anak-anak yang lucu, dan terhindar dari pertanyaan-pertanyaan menghujam, "Kapan nikah?". Ada hal yang lebih penting dari itu semua, tentang kewajiban menjalankan peran sebagai istri dan suami. Bukan hal lucu kan, kalau punya anak lagi sakit tapi gak mau ngurusin anak sendiri, malah asik main sama teman nongkrong.

Hal lain mungkin, uang gaji suami habis dipakai shopping tas, baju, make up dan barang barang sosialita. Kalian harus tau dalam pernikahan nanti akan ada konflik yang harus kalian selesaikan berdua, bukan dengan bantuan orang tua.

Jangan berharap kamu wanita akan menjadi ratu dalam istana pernikahan kamu, suami yang kerja, istri leha – leha sambil mempercantik diri sendiri. Bagaimana jika suami kamu down, kehilangan pekerjaan, sedangkan kamu tidak punya skill apa – apa. Kamu bisa stress dan masuk panti rehabilitasi kejiwaan. Siapkan mental dan fisik sebelum kamu yakin benar benar ingin melepas status single kamu.

Setelah gue sadar bahwa menikah itu gak semudah yang dibayangin, gue lebih banyak melihat dan mencari tau tentang hal-hal buruk yang mungkin terjadi dalam pernikahan. Beberapa cara yang gue lakuin adalah membeli buku yang membahas tentang pernikahan, membaca artikel artikel diinternet tenatng pernikahan, membaca beberapa kegagalan dalam pernikahan, juga sharing sama temen yang sudah menikah. Seperti apa sih kehidupan dalam pernikahan, juga bertanya kepada orang tua bagaimana mencari solusi dalam permasalahan yang muncul setelah menikah. Hal ini gue lakukan supaya gue siap menjalani kehidupan dalam pernikahan nanti.

Pola pikir gue pun sedikit berubah, gue jadi ga terus terusan pikiran gue didominasi dengan nikah muda, tapi gue berpikir bahwa menikahlah ketika siap, siap segala galanya.

"Beberapa temen lo udah nikah diusia muda, terus gue harus ikut ikutan tanpa berpikir siap dulu baru nikah?" tentunya enggak dong.

Mereka siap menikah pasti juga siap dengan konsekuensi pernikahan. Jadi, menikahlah bukan karena usia, keinginan orang tua, atau mungkin karena malu akibat sosial media yang selalu menyudutkan orang yang belum berpasangan, tapi menikahlah karena kamu siap mental, fisik, dan semuanya.