Dulu, bahkan sampai detik ini, kau masih seseorang yang kusayangi. Masih seseorang yang kuanggap seperti saudara kandung sendiri. Aku ingat sekali pertemuan pertama kita. Kau adalah teman pertamaku saat pertama kali masuk kuliah. Ya, waktu itu kita masih berstatus mahasiswa baru, masih polos, belum tahu apa-apa tentang dunia kampus.

Ya, bagiku kau adalah sosok sahabat. Sahabat tempat berbagi, saling menguatkan kala lemah, saling menghibur saat sedih, berbagi ceria saat berbahagia. Kau adalah seorang yang kukagumi, yang selalu bijak dan selalu tersenyum ramah. Kau, seseorang yang pernah berjanji akan selalu ada.

Aku tak pernah berniat sedikitpun untuk menghancurkan persahabatan yang kita punya, sama sekali tak pernah.

Aku akui, semua berasal dari kesalahanku. Waktu itu, aku belum sepenuhnya terbuka padamu. Bukan, bukannya aku tak mempercayaimu. Aku hanya belum siap mengatakan hal yang sejujurnya. Aku takut kau belum siap mendengar ataupun menerima dan karena hal itulah aku terus menyembunyikan sesuatu itu darimu.

Namun, sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh jua. Akhirnya semuanya terbongkar sebelum aku mendapat keberanian untuk memberi tahumu melalui mulutku sendiri. Kau mengetahui semuanya dari saudara sepupuku.

Ah, betapa terkejutnya kau saat itu, saat mengetahui aku sedang dekat dengan seorang lelaki yang juga kebetulan dia juga teman dekatmu. Sedang aku tak pernah bercerita kepadamu sedikitpun.

Masalah dalam sebuah persahabatan adalah hal biasa, selama kita mau menyelesaikannya bersama.

Advertisement

Aku tak pernah menyangka kau akan semarah itu kepadaku. Berkali-kali aku memohon dan meminta maaf kepadamu, namun kau tak pernah menggubrisku. Aku terus meminta maaf, sampai aku merasa seperti orang yang paling hina di dunia, karena tega menyembunyikan sesuatu dari sahabat sendiri. Aku sungguh menyesal.

Sejak kemarahanmu itu, kau tak pernah lagi mengajakku bicara. Di kelas, kau tak pernah mau menatapku walau sedetik. Malam-malamku kulalui dengan tangis, aku tak pernah mengira semua ini bisa membuatmu sampai memusuhiku.

Aku tak ingin semuanya menjadi kacau, aku ingin kau kembali seperti yang dulu.

Segalanya kian rumit. Maka kuputuskan untuk memutuskan hubungan dengannya. Ya, aku memang sangat menyayanginya. Tapi, aku lebih baik kehilangannya daripada kehilanganmu. Masih banyak lelaki di luar sana, tapi aku hanya punya satu sahabat, hanya kau seorang.

Akupun memintamu untuk meluangkan waktu, berbicara empat mata. Kuceritakan padamu bahwa aku sudah memutuskan hubungan dengannya. Untuk kesekian kalinya, aku memintamu untuk memaafkanku, dan kembali menjadi seperti kita yang dulu.

aku mungkin bisa memaafkanmu, tapi kita tak akan pernah lagi bisa menjadi seperti yang dulu

kalimat singkatmu itu, sungguh menyayat hatiku, terasa sakit sekali. Sahabatku, kau sungguh telah berubah.

Kau benar-benar memilih untuk pergi, maka biarlah. Bukannya aku menyerah, namun apalah dayaku saat kau sendiri yang sudah tak nyaman bersahabat denganku lagi?

Duniaku benar-benar suram saat itu. Aku merasa seperti seseorang yang tak diizinkan untuk berbahagia. Bagaimana tidak? Aku sudah tak punya siapa-siapa. Sahabatku, orang yang untuknya aku rela melepaskan lelaki yang kusayangi, pada akhirnya tega meninggalkanku. Aku kesepian, sahabat.

Segala rasa sakit ini sampai pada puncaknya saat aku mengetahui, kau lebih memilihnya dari pada aku. Kau, orang yang berharga bagiku, lebih memilih berteman dengannya dibandingkan denganku. Ah, belum sempat kuusaikan tangis ini, kau sudah lebih dulu menambah irisan luka di hati.

Mengapa? Pengkhianatan macam apa ini, Tuhan? Apakah hanya aku saja yang berjuang untuk persahabatan ini tetap berlangsung? Sakit sekali rasanya, Tuhan….

Semuanya benar-benar berubah. Di mataku, kau seperti bukan dirimu yang dulu kukenal. Segampang itukah bagimu meninggalkanku di saat aku masih terseok-seok mencoba bangun dari keterpurukan?

Seakan semuanya belum cukup bagimu, kau terus saja mencoba menambah rasa sakitku. Jika memang kau ingin balas dendam, tak apa, aku baik saja. Tapi mengapa dengan cara begitu? Bukan, bukannya aku merasa cemburu karena kau dekat dengannya. Tapi, karena aku menganggapmu sebagai seorang sahabat.

Aku rindu, rindu kita menghabiskan waktu bersama. Tapi di saat aku begitu merindu, kau tengah bercengkerama dengannya.

Ada banyak hal yang tak kumengerti, Tuhan. Mengapa segalanya begitu menyakitkan? Jika aku berada di posisi sahabatku sekarang, apakah aku juga akan tega berbuat seperti ini padanya??

Dengan segala luka yang kurasa, aku mencoba untuk tersenyum. Masih ada banyak alasan untukku berbahagia.

Sahabatku, semoga kau berbahagia di luar sana. Semoga senyum yang kau tampakkan benar-benar senyum tulus karena kau berbahagia. Aku akan mencari kebahagiaanku sendiri, walau tak ada kalian berdua lagi.

Terima kasih untuk segalanya, untuk mengajarkanku arti kesabaran. Untuk menyadarkanku betapa indah senyuman selepas tangis. Walau sekarang kita sudah tak pernah berkomunikasi lagi, ketahuilah, di lubuk hatiku yang paling dalam, kau tetaplah sahabatku.

Peluk hangat, dari aku yang selalu merindukan "kita".