Pernah ngga sih lo..
Karena sebuah alasan (entah kerjaan, agama, ras, persahabatan, sepupu jauh, mantan pacar temen, adik kelas, atau apapun). Lo ngalamin “Yaudahzone”.

Q: Apaan sih? Kok alay.

Ngga alay. Jadi gini maksudnya.

Lo ketemu sama dia disuatu kesempatan. Beneran rasa sukanya tuh beda. Mirip-mirip rasa kagum. Iya, kagum bukan ngefans.
Lo bahagia banget kalau lo deket sama dia. Entah dia chat/hubungi lo. Atau yah, dia nyapa lo. Tapi itu, pembicaraan kalian cuma gitu aja. Ngga lebih dan ngga ada yang mau lebih. Saling nahan. Terkadang, dia atau lo kasih kode lebih. Tapi gitu, yaudah gitu-gitu aja. Saling nangkep sih kodenya tapi biarinin aja. Biarin aja. Biarin berlalu.
Terkadang juga tanpa sadar dia bilang “nyaman”. Tapi yaudah.
Bahkan ketika lo tau dia udah punya pasangan, lo cuma bisa buang napas dan bilang “yaudah”.
Ketemu sama dia atau disenyumin sama dia? Rasanya, yah sama kaya lo ketemu sama orang spesial. Lu senyum balik terus bilang, “yaudah”.
Lo berharap bisa jalan sama dia. Lo akhirnya jalan. Jalan demi profesionalitas/tuntutan/ketidaksengajaan, lagi lagi, “yaudah”.
Setidaknya semua doa lu dan janji kalian itu terealisasikan. Tapi bukan untuk semakin dekat. Cuma demi profesionalitas. Yaudah.
Lalu, lo cerita ke sahabat dekat lo tentang ini. Tentu aja sahabat dekat lo salah menanggapi. Sebenernya ini memang rumit.
Lalu sahabat lo tanya, “kalau dikasih kesempatan untuk lahir lagi, lo mau sama dia?”
Lu dengan santai menjawab, “gua gak mau munafik.”, tanpa keterangan dan penjelasan.
Lalu, lo hanya membiarkan semuanya berjalan walau penuh keraguan. Lo memperhatikan dia ketika dia ada. Sesekali stalking, tapi cuma untuk mastiin dia baik-baik aja. Bukan cari info cara masuk ke hati dia.
Intinya, lo mengagumi dia. Itu membuat lo sering mendukung dia. Sekali lagi, lo dan dia bukan sepasang manusia yang saling jatuh hati. Artinya, lo juga harus memilah apa yang lo dukung dalam diri dia. Seragu apapun, lo bangga sama dia. Lo ngga nyesel kenal dia. Malahan lo bahagia. Akan jadi apa nantinya. Yaudah.