Uang dan kepemilikan materi kerap jadi patokan bagi keberhasilan seseorang di dunia. Saat seseorang punya rekening yang gendut dan bisa hidup layak, orang-orang di sekeliling akan menganggapnya sebagai orang yang berhasil. Begitu pun sebaliknya, ketika kantung seseorang tipis hingga tak bisa hidup mewah — orang di sekitar melabelinya sebagai pribadi yang tak sukses.

Maka wajar rasanya jika kita sering khawatir pun cemas karena masalah uang. Selalu was-was saat harus berurusan dengan urusan mata uang pembayaran yang satu ini. Tapi tahukah kamu, kecemasan atas uang tersebut sebenarnya tak akan membawamu ke manapun? Kenapa dan bagaimana cara mengatasinya? Hipwee akan kupas di sini.

1. Ketahuilah Bahwa “Masalah” dan “Kecemasan” Adalah Dua Hal yang Berbeda

Kecemasan dan masalah adalah 2 hal berbeda via feminspire.com

Saat kita ketar-ketir karena urusan materi, kita kerap merasa bahwa ada yang salah dengan kondisi finansial kita saat ini. Tabungan kurang banyak, ada angsuran wajib yang harus dibayar, sampai ketakutan cadangan uang tak mencukupi hingga akhir bulan. Kenyataan bahwa masalah dan kecemasan adalah 2 hal yang berbeda kerap luput dari pertimbangan.

“Masalah adalah hal yang penting dan mendesak. Ia membutuhkan aksi cepat untuk menyelesaikannya. Berbeda dengan kecemasan, inti kecemasan sebenarnya terletak di otak orang yang khawatir. Cara untuk mengatasi kecemasan adalah dengan mengubah pola pikir.”

James Gordon Gilskey, How Not To Worry

Advertisement

Setiap rasa cemas datang, jangan langsung mempercayai tipuan otak bahwa sedang ada masalah dengan kehidupan finansialmu. Teliti dulu dengan seksama. Cek kondisi rekening, perhitungkan pemasukan dan pengeluaran, pertimbangkan skenario terburuk yang mungkin datang. Jika tak ada yang mesti dikhawatirkan, kenapa harus menghabiskan waktu dengan cemas?

2. Tumpahkan Kecemasanmu, Tuliskan Mereka Dalam Sebuah Jurnal

Tumpahkan kecemasanmu dalam sebuah jurnal via thecollegeclosets.blogspot.com

Rasa cemas yang berkecamuk di kepala kadang jadi lebih bisa diatur saat ia dituliskan. Dengan menggerakkan tangan dan menulis, secara tidak sadar otak kita sebenarnya sedang berusaha menyusunnya ke dalam keping-keping yang lebih sistematis. Maka dari itu, setiap kecemasan soal uang datang — ambil pena, buka jurnal, kemudian tuliskanlah kecemasan yang kamu rasakan sesuai dengan urutan.

Cara ini bisa membuatmu lebih tahu hal mana yang benar-benar merupakan hal yang layak dicemaskan dan mana yang bukan. Menuliskan kecemasan juga membuatmu merasa lebih punya daya untuk mengatasinya. Saat kamu bisa menuliskan dan mengurutkan masalah sesuai urjensinya, berarti kamu juga pasti bisa menemukan solusinya.

3. Perhitungkan Pengeluaran Tak Terduga Di Awal Tahun Agar Dana Cadangan yang Kamu Sisihkan Tiap Bulan Cukup Untuk Menutupnya

Perhitungkan pengeluaranmu dengan cermat via olivia-and-sophie.blogspot.com

Disadari atau tidak, pengeluaran yang sering jadi biang keladi saat kita miskin mendadak adalah berbagai pengeluaran tak terduga. Hadiah untuk kawan dan sanak saudara yang baru menikah, biaya perawatan kerusakan mobil dan rumah, hingga dana kesehatan yang tak bisa diprediksi kapan datangnya.

Nah, cara mengatasi agar pengeluaran tak terduga tidak lagi “merampok” rekeningmu adalah dengan memperhitungkannya di awal tahu. Estimasikan saja sesuai besaran pengeluaran tak terduga dari tahun per tahun. Jangan lupa naikkan 5-10%, sebab inflasi pun biasanya meningkat secara periodik.

Lewat cara ini kamu jadi tahu berapa banyak uang yang harus kamu sisihkan setiap bulannya. Lagipula tidak lucu ‘kan jika upaya menyisihkan uang tiap bulan demi kebutuhan tak terduga gagal membantumu menghadapi berbagai kejutan finansial?

4. Sesuaikan Waktu Membayar Seluruh Tagihan Dengan Waktu Gajian

Bayar tagihan di waktu gajian via www.popsugar.com

Kesalahan yang sering dilakukan banyak orang adalah tidak membayar tagihan sesuai pemasukan yang mereka dapatkan. Dampaknya, mereka akan kehilangan perhitungan mengenai berapa yang sesungguhnya mereka hasilkan dan berapa banyak yang bisa mereka keluarkan. Agar pengeluaranmu kebih tertata hingga kamu tak perlu lagi khawatir, cobalah sesuaikan waktumu membayar tagihan dengan waktumu menerima uang.

Setiap kamu menerima uang, langsung tentukan uang tersebut akan kamu gunakan untuk keperluan apa. Habis dapat honor mengajar, misalnya. Putuskan apakah uang tersebut untuk belanja buku, biaya sekolah anak, atau membayar SKS kuliah buat kamu yang masih mahasiswa. Patuhi aturan ini dan tegaslah pada diri sendiri. Pemasukan tersebut HANYA BOLEH digunakan untuk pengeluaran yang sudah direncanakan.

Jika kamu disiplin melakukan ini, tak akan ada lagi kekagetan saat mengetahui pengeluaranmu tak sebanding dengan pendapatan. Sebab kamu sungguh-sungguh membayar sesuai dengan besaran uang yang kamu terima di rekeningmu.

5. Selalu Gunakan Uang Tunai Untuk Kebutuhan-Kebutuhan Kecil

Gunakan uang tunai untuk kebutuhan kecil via www.huffingtonpost.com

Sesekali menggunakan kartu kredit tentu tak masalah. Terlebih jika menggunakan kartu kredit bisa memberimu penawaran harga yang lebih murah. Tapi, jangan biasakan diri terjebak pada praktisnya menggesek kartu. Kartu kredit hanya boleh kamu gunakan untuk kebutuhan yang besaran pengeluarannya bisa terprediksi. Untuk kebutuhan-kebutuhan kecil, usahakan selalu gunakan uang tunai.

Taktik ini bertujuan agar kamu tak kehilangan kendali atas besarnya cicilan kartu kredit yang harus dibayar. Pengeluaran tetap kemungkinan besar akan bisa tercukupi dari jumlah uang di rekeningmu. Sedang kebutuhan tak terduga dan kebutuhan kecil lainnya justru belum tentu. Alih-alih membiarkan dirimu menggunakan kartu kredit, lebih baik berikan “uang saku mingguan” yang bisa kamu gunakan untuk membayar kebutuhan sehari-hari.

6. Ketahuilah Bahwa Uang Tidak Selalu Bisa Menjamin Hidupmu Akan Baik-Baik Saja

Bahagia tidak hanay datang dari uang via www.huffingtonpost.com

Banyak orang menganggap uang bisa memberikan jaminan dan ketenangan. Seakan uang adalah juru selamat yang bisa membawa kita keluar dari berbagai masalah. Uang jadi kerap diidentikkan dengan kualitas kehidupan. Semakin banyak uang yang kamu miliki, semakin baik pula kualitas hidupmu. Pun berlaku untuk sebaliknya.

Padahal hidup bukan cuma soal materi. Ada hal-hal lain selain tentang uang dan kekayaan yang terus berputar di sekeliling setiap hari. Banyak atau sedikit uang, toh kita tetap bisa patah hati. Kaya atau miskin, kita tetap punya kesempatan untuk gagal dan kecewa. Banyak sedikitnya uang yang kamu miliki tidak menjamin hidupmu akan terus baik saja.

Mari kita simak nukilan dari tulisan John Armstrong dalam bukunya “How To Worry Less About Money“, tentang hubungan antara harapan atas kehidupan yang lebih baik dengan kepemilikan uang:

“Kehidupan baik yang kamu harapkan akan tercipta dengan banyaknya uang yang dimiliki itu tetaplah sebuah kehidupan biasa. Di dalamnya akan ada kekecewaan, kesendirian, hingga rasa sedih mendalam karena kehilangan orang-orang tersayang. Untuk mendapatkan kehidupan yang BAIK kamu harus tetap merasakan semua hal tersebut.”

Setelah mengetahui hal-hal di atas, masihkah kamu menemukan alasan untuk membiarkan diri merasa cemas berkepanjangan? Sudahlah, tuntaskan kecemasanmu saat ini. Masih banyak hal lain yang lebih layak kamu khawatirkan.