Untuk sebagian kamu, berbisnis pasti selalu berorientasi pada uang. Munafik lah kalau bisnis bukan untuk uang. Ungkapan itu mungkin wajar karena dari sudut pandang yang realistis, manusia hidup butuh uang. Tapi percaya atau enggak, 7 orang di bawah ini membuktikan kalau bisnis yang tidak mendewakan uang itu ternyata bukan sesuatu yang mustahil. Nyatanya berbisnis sekaligus berkontribusi untuk orang banyak itu juga realistis untuk diwujudkan. Dengan kegigihan dan tekad yang kuat, nyatanya bisnis yang katakanlah akhirat oriented ini bisa terus bertahan dan bahkan berkembang hingga sekarang.

1. Afzaal dan Natalie Deewan berani buka restoran yang memungkinkan pelanggan untuk makan sepuasnya dan bayar seikhlasnya. Anehnya, bisnis yang mengandalkan kepercayaan terhadap pelanggannya ini tetap berjalan hingga saat ini

Restoran yang makan sepuasanya, bayar seikhlasnya via dawn.com

Mungkin bisnis ini agak terdengar gila buat kamu yang terbiasa melakoni hal yang realistis. Adalah Afzaal Deewan dan Natalie Deewan yang berani bertaruh dengan membangun sebuah restoran makanan berkonsep makan sepuasanya, bayar seikhlasnya. Kalau kamu berkunjung ke restoran bernama Der Wiener Deewan yang khusus menjajakan menu Pakistan di Wina Austria ini kamu bisa bebas makan apa saja dengan porsi sesuka hati dan bayar seikhlasnya! Justru dengan menerapkan harga seikhlasnya ini, subsidi silang secara alamiah terjadi. Yang punya uang lebih tergoda membayar lebih sekaligus donasi. Yang memang butuh makan tapi tak punya duit, tetap bisa makan.

Bersyukurnya, restoran ini tetap buka hingga sekarang meski mengusung konsep yang terdengar gila. Sang pemilik percaya bahwa restoran yang juga mengemban misi hidupnya untuk menolong sesama ini bakal bisa terus bertahan meski tak mencari keuntungan. Mindset itu jugalah yang membuat pelanggannya setia untuk menyantap hidangan Pakistan restoran satu ini. Berani mengadopsi konsep mereka?

2. Sepertinya benar kalau kebaikan itu menular. Pernah ditampung oleh seorang profesor membuat Arafa tergerak membangun EmergencyBNB untuk membantu pengungsi mendapatkan tempat tinggal

Kini para pengungsi bisa dapat tempat tinggal sementara via takepart.com

Advertisement

Adalah Amr Arafa yang menggagas sebuah platform online bernama EmergencyBNB. Website tersebut menjadi penghubung antara pengungsi dan korban kekerasan domestik dengan host yang bersedia menyediakan tempat tinggal bagi mereka untuk sementara. Website ini membantu pengungsi yang datang ke Amerika dan bingung ingin menetap di mana, untuk menemukan tempat tinggal sementara.

Usut punya usut, Arafa sebagai penggagas dari platform online ini dulunya juga pernah merasakan sulitnya jadi pendatang di Amerika (lebih tepatnya Atlanta) dalam posisi belum punya tumpangan. Beruntung di tengah kondisi keuangannya yang terbatas, seorang profesor yang juga berasal dari Mesir sama seperti dirinya, berbaik hati menyediakan tempat tinggal untuknya selama 2 minggu sampai akhirnya ia menemukan tempat tinggal. Cerita Arafah ini jadi bukti kalau kebaikan yang pernah kita dapat bisa menjadi energi untuk kita meneruskan kebaikan itu pada banyak orang.

3. Supermarket makanan sisa di Leeds UK, mengumpulkan makanan sisa yang masih layak konsumsi untuk mereka yang membutuhkan. Juga dibayar seikhlasnya

Begini loh konsep supermarketnya. via bbc.co.uk

Sebuah proyek bernama The Real Junk Food Project di UK, mengumpulkan makanan sisa dari beragam supermarket yang masih layak untuk dikonsumsi untuk kemudian dijajakan pada mereka yang membutuhkan. Produk makanan sisa ini dijual dengan harga yang murah atau lebih tepatnya pembeli membayar seikhlasnya.

Proyek ini menyulap sebuah gudang di Leeds menjadi sebuah supermarket yang berisi makanan sisa layak konsumsi. Jangan kaget ya, di supermarket makanan sisa ini kamu bisa menemukan makanan mahal seperti cakes Marks & Spencer, Ferrero Rocher chocolates, dan makanan lainnya seperti roti, anggur, tomat, olive oil, keripik kentang, dan lainnya.

4. Berbisnis kadang nggak hanya sekadar untuk mencari uang, Pei melalui bisnis kaosnya menyuarakan hak anak-anak yang selama ini diabaikan oleh masyarakat

Pei lantang menyuarakan hak-hak anak via harianbernas.com

Dididik oleh seorang ayah yang ringan tangan menjadikan Pei alias Phaerlymaviec Musadi tergerak untuk membangun yayasan bernama Parental Advisory Baby Clothing yang menjembatani komunikasi antara anak-anak dan orangtua. Yayasan ini dengan lantang menentang kekerasan terhadap anak-anak. Bahwa mendidik anak tidak perlu dengan kekerasan. Yang menarik dari yayasan ini adalah pendanaannya berasal dari usaha clothing punya Pei sendiri yang diberi nama sama dengan yayasannya: Parental Advisory Baby Clothing. Bisnis clothing ini pun berkaitan dengan yayasan yang dirintis oleh Pei, yakni memproduksi kaos yang tulisannya menyuarakan hak-hak anak dengan bahasa khas anak muda yang rada ‘nyeleneh’.

5. Bridge International Academies: meski awalnya terdengar mustahil, perusahaan ini mampu menyediakan pendidikan bagi 100 ribu anak kurang mampu di Kenya!

Bangun sekolah-sekolah yang mendidik 100 ribu anak, ternyata banyak yang mau bantu via www.wired.com

Perusahaan ini menyediakan pendidikan berkualitas bagi jutaan anak-anak kurang mampu di dunia, yang mana pendapatan keluarganya per hari kurang dari 2 USD. Adalah Shannon May dan Jay Kimmelman, pasangan suami istri yang menjadi co-founder dari organisasi satu ini. Meski terdengar nggak mungkin, setidaknya organisasi ini sudah membangun 300 sekolah dasar untuk 100 ribu anak di Kenya. Percaya atau nggak, organisasi ini bahkan mendapat suntikan dana dari para konglomerat dunia, salah satunya Bill Gates. Ke depannya organasasi yang berencana untuk melebarkan sayap mereka hingga ke Uganda, Nigeria, dan India.

6. Chusniati dengan Bank Sampah yang digagasnya, mampu membantu perekonomian warga sekitar. Sampah nyatanya berharga untuk membantu warga

Chusniati, daur ulang sampah bisa dijadikan mata pencaharian via indonesia-feature.blogspot.com

Chusniati bukanlah seorang wanita lulusan luar negeri. Ia yang hanya lulusan SD dan ibu rumah tangga biasa nyatanya mampu membangun bisnis sosial nan ramah lingkungan. Tergerak untuk menjadikan lingkungan sekitarnya yakni Kelurahan Gunung Anyar Tambak, Kota Surabaya, Jawa Timur untuk bersih. Chusniati lantas menyiasatinya dengan membangun bank sampah.

Sampah-sampah yang biasa dibuang warga ke sungai lantas disetorkan ke Bank Sampah yang bisa diuangkan. Tak hanya itu, program Bank Sampah yang mendapat dana dari sejumlah donatur tersebut secara tak langsung membantu perekonomian warga dengan beragam programnya. Seperti misalnya uang hasil menjual sampah bisa ditabung untuk kemudian diambil guna membayar listrik. Bank Sampah tak hanya bisnis yang go green tapi juga membantu perekonomian warga.

7. Yang muda yang berkarya. Di usia yang masih 20-an, Alfatih Timur mampu membangun situs patungan pertama di Indonesia. Kitabisa.com, sudah banyak membantu institusi maupun perseorangan yang membutuhkan bantuan dana

Alfatih Timur. via 4muda.com

Adalah Muhammad Alfatih Timur alumni FEUI yang berinisiatif untuk membangun situs penggalangan dana. Kemudian Alfatih pun membangun Kitabisa.com bersama 9 rekannya. Situs ini menjembatani para pencetus ide dengan donatur yang bersedia mendanai ide tersebut agar berwujud nyata. Sejak didirikan tahun 2013, setidaknya situs ini sudah berhasil mengumpulkan dana lebih dari 12 Milyar Rupiah dan mendanai lebih dari 1000 ide. Tak hanya ide kreatif saja, situs penggalangan dana online ini juga membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan dana untuk operasi, beasiswa, dan kegiatan charity lainnya.

Bisnis yang mereka lakoni semoga bisa menginspirasi kamu para millennial Indonesia untuk mengikuti jejak mereka. Bahwa bisnis yang akhirat-oriented itu bukan hal yang mustahil, bisa punya penghidupan sambil nabung pahala!