Pernah dengar Rakuten? Kamu yang suka Jepang pasti pernah mendengar tentang toko online terbesar kedua di dunia setelah Amazon ini. Di Rakuten kamu bisa belanja berbagai barang. Mulai dari alat elektronik, pakaian, telur ayam hingga membeli rumah.

Dibalik kesuksesan Rakuten terdapat tangan dingin Hiroshi Mikitani. Dia adalah pendiri dan otak yang menggerakkan pengembangan rakuten hingga mencapai posisi saat ini. Bagaimana Mikitani menjalankan perusahaannya? Apa yang dia lakukan untuk terus mengembangkan Rakuten?

Terinspirasi Dari Gempa Bumi dan Belanja Mie

Inspirasi datang dari gempa Kobe via thebridge.jp

Mikitani datang dari keluarga dengan latar belakang pendidikan yang baik. Ia mendapatkan gelar Master dari Harvard Business School. Selepas lulus, Mikitani diterima di Industrial Bank of Japan di Tokyo. Pekerjaan sebagai bankir di bank tersebut adalah pekerjaan prestisius yang hanya bisa didapatkan segelintir orang.

Namun Gempa Kobe merubah semuanya. Saat gempa Kobe menyerang, Mikitani kehilangan keluarganya yang kebanyakan masih bertempat tinggal di Kobe. Saat itulah ia merasa bahwa hidup bisa direnggut kapan saja, karena itulah seseorang perlu memanfaatkan hidup dengan melakukan hal yang benar-benar disukainya. Bukan nanti, tapi saat ini juga.

Advertisement

Di usianya yang ke-30 Mikitani memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Pernah mengenyam pendidikan di Harcard Business School membuatnya dekat dengan konsep wirausaha. Pada tahun 1996 Mikitani merasakan pengalaman pertama belanja via online.

Ia membeli mie dari sebuah toko kecil di Shikoku. Walau prosesnya masih sangat sederhana, Mikitani merasa sangant senang saat barang pesanannya tiba. Dari pengalamannya itu ia mendapat inspirasi bahwa suatu hari belanja via internet akan menjadi hal yang lazim dilakukan di seluruh belahan dunia.

Buku Harian Telur Ayam Jadi Pintu Awal Kesuksesan Rakuten

Klien sukses pertamanya adalah pedagang telur via www.straitstimes.com

Rakuten didirikan pada tahun 1997, hanya dengan 7 orang: Mikitani, Shinnosuke Honjo sebagai pengembang web Rakuten dan 5 orang staf lainnya. Pasa saat itu menjual barang lewat internet belum jadi hal yang lazim di Jepang. Mikitani dan timnya harus mengetuk pintu pengusaha kecil dan menawarkan jasa mereka.

Rakuten memang ingin menempatkan diri sebagai online mall. Dia hanya menjembatani pengusaha yang ingin membuka toko, tanpa memiliki inventori sendiri. Dalam beberapa minggu pertama hanya 5 orang pedagang yang akhirnya bersedia membuka toko di Rakuten.

Beberapa saat setelah Rakuten berdiri, Mikitani didatangi oleh seorang peternak ayam. Ia ingin menjual telur ayam yang dihasilkannya via Rakuten. Awalnya Mikitani merasa menjual telur secara online adalah ide yang buruk. Kalau orang bisa membeli telur dengan mudah di supermarket, kenapa mereka mau repot-repot membeli online. Namun jawaban petani tersebut membuka mata Mikitani:

Selalu menembus batas via resources1.sbs.com.au

“Justru itu poinnya. Supermarket menjual telur yang tidak segar. Telurku organik, ayam-ayam diberi makanan khusus untuk memastikan mereka bisa menghasilkan telur dengan kualitas terbaik. Aku akan mengirimkan telur dalam semalam untuk memastikan agar mereka tetap segar”

Peternak ayam itu kemudian mulai membuat buku harian telur ayam. Ia akan menunjukkan foto ayam-ayam penghasil telur, melakukan eksperimen untuk membuktikan bahwa telur yang dihasilkan adalah kualitas terbaik. Hal ini membuat konsumen tertarik untuk membeli telurnya dengan harga premium. Pendekatan personal ini kemudian jadi keunggulan Rakuten

Apa sih yang Menyebabkan Rakuten Bisa Berkembang Pesat?

1. Mikitani Memilih Mendobrak Jalur Tradisional

Mendobrak jalur tradisional via images.channelpartner.de

Menjadi wirausaha bukanlah hal yang lazim di Jepang. Apalagi untuk orang seperti Mikitani yang sudah mendapatkan pekerjaan di industri perbankan. Biasanya orang akan tinggal selama mungkin di industri itu hingga mendapatkan posisi tinggi.

Namun Mikitani merasa hal ini bukanlah kesuksesan yang ingin dia capai. Dia mengatakan,

“Intinya bukan seberapa besar perusahaan yang mempekerjakanmu. Tapi bagaimana kamu bisa menciptakan nilai untuk dirimu sendiri. Ini bukan pandangan tentang kesuksesan yang lazim di Jepang. Tapi aku meyakininya”

Jadi apakah kamu sudah merasa hebat karena bisa bekerja di perusahaan multi-nasional terkemuka? Coba deh pikir, seandainya kamu keluar dari perusahaan tersebut akankah kamu masih memiliki kepercayaan diri yang sama?

2. Koneksi Personal Vs Algoritma

Mendorong pengusaha di Rakuten untuk menjalin hubungan personal via www.bloomberg.com

Kalau belanja di toko online kamu sering merasa asing nggak sih saat ada rekomendasi barang yang muncul untukmu? Kalau kamu belum tahu, rekomendasi itu dilahirkan lewat perhitungan algoritma. Mereka menggunakan data pencarianmu untuk memprediksi barang apa yang kemungkinan kamu sukai.

Walau memiliki banyak ahli di bidang algoritma, Rakuten ingin membangun bisnis dengan pendekatan lain. Mikitani merasa bahwa data akan kalah dengan rekomendasi langsung dari sesama manusia. Karena itu Mikitani selalu mendorong mereka yang membuka toko di Rakuten untuk menjalin hubungan dengan konsumen.

Hal ini terbukti berhasil. Dengan hubungan personal antara produsen dan konsumen, pembeli menjadi lebih loyal dalam berbelanja. Perbedaan harga bukanlah hal yang signifikan lagi. Karena telah memiliki hubungan baik dengan para pedagang, pembeli pun akan lebih mudah membelanjakan uangnya.

3. Punya Keberanian

“You have to have guts” via s1.ibtimes.com

Jepang bukanlah negara yang ramah terhadap wirausahawan. Aturan untuk mendirikan bisnis di Jepang termasuk salah satu yang paling rumit di dunia. Saat ditanya mengenai hal ini Mikitani hanya menjawab:

“Kamu perlu punya keberanian. Terobosan hanya tercipta saat kamu bisa mencapai hal yang tidak mungkin. Dalam hidup, tidak ada faedahnya jika kamu menentukan tujuan yang jelas-jelas bisa kamu capai”

Mikitani membangun bisnisnya dengan tujuan yang sepertinya tidak akan mungkin tercapai. Siapa sih yang memprediksi jika berjualan barang-barang remeh seperti telur, roll cake sampai pakaian di internet akan membawa keuntungan?

4. Speed!! Speed!! Speed!!

Memberikan pelayanan cepat via upload.wikimedia.org

Salah satu dari 5 kunci sukses Rakuten adalah penekanan pada kecepatan. Mikitani, atau lebih sering dipanggil Mickey oleh karyawannya melihat internet sebagai peluang bagi pengembangan bisnis kecil. Tapi, kemudahan yang ditawarkan internet juga bisa membuat Rakuten dengan mudah dikalahkan oleh pesaingnya.

Rakuten berusaha memberikan pelayanan super cepat. Seluruh barang akan langsung dikirim pada hari pemesanan untuk memuaskan konsumen. Mickey selalu menekankan, “Rakuten harus bisa mencapai apa yang perusahaan lain capai dalam satu tahun, hanya dalam waktu 1 bulan. Itu satu-satunya cara kita bisa bertahan dalam persaingan”. Walau terkesan ambisius, tapi pelayanan cepat dan prima inilah yang jadi kekuatan Rakuten.

5. Back To Basic

Back to basic policy via jto.s3.amazonaws.com

Walau kini Rakuten sudah menjadi perusahaan penjualan online terbesar kedua di dunia, Mickey tidak ingin membuat pegawainya terlena karena sistem yang nyaman. Bahkan di kantor pusat Rakuten di Tokyo tidak ada cleaning service yang disewa untuk membersihkan kantor.

Seluruh pegawai secara bergantian membersihkan kantor. Mickey menjelaskan alasannya kenapa ia melakukan hal ini. Menurutnya, penting untuk membawa orang-orang dalam sebuah kebiasaan sederhana yang membuat mereka bergerak dan bertanggung jawab atas hal yang dilakukannya. Karena keputusan ini Rakuten bahkan masuk ke perusahaan paling inovatif nomor 9 di dunia.

6. Englishnization

Menerapkan Bahasa Inggris dalam perusahaan via c2.staticflickr.com

Mulai Mei 2010 Rakuten menerapkan kebijakan penggunaan Bahasa Inggris bagi seluruh kegiatan operasional perusahaan. Keputusan Mickey ini sempat menuai protes dari pegawainya, karena mereka terpaksa menggunakan bahasa yang bukan bahasa ibunya.

Kebijakan ini sejalan dengan rencana Rakuten untuk mengalahkan Amazon dan menjadi pemain nomor 1 dalam bisnis penjualan online. Saat ini 79% operasional perusahaan telah dijalankan menggunakan bahasa Inggris.

“Kekurangan perusahaan Jepang untuk bersaing di pasar global adalah kita enggan memaksa diri untuk menggunakan Bahasa Inggris. Ini memang tidak  mudah bagi pegawai Rakuten. Aku tidak memaksa mereka untuk sepenuhnya fasih dalam Bahasa Inggris. Mereka hanya harus mencoba”