Tak ada yang salah dengan kamu yang begitu giat belajar di kelas hingga khidmat. Menyerap semua hal baik yang guru atau dosenmu berikan selama beberapa jam, setiap hari, setiap bulan, setiap semester, hingga akhirnya kamu lulus dengan nilai sempurna. Tidak ada yang menyalahkan, atau malah melarangmu untuk melakukan semua itu. Toh, itu demi kebaikanmu sendiri.

Tapi satu hal yang perlu kamu perhatikan adalah bagaimana kompetensimu dalam bertanggung jawab atas gelar atau ilmu yang telah kamu dapatkan selama itu? Mampukah kamu bersaing dengan dunia kerja yang sungguh sangat berbeda dari dunia pendidikan formal? Alangkah disayangkan ketika kamu bisa lulus dengan sempurna, tapi belum menguasai beberapa kemampuan yang seharusnya bisa kamu dapatkan dari aktivitas lain selain duduk di kelas. Paling tidak, dari luar kelas kamu bisa mendapatkan beberapa soft skill semacam ini, yang sangat penting untuk menunjang kemampuanmu dalam dunia kerja nantinya.

Pembelajaran di kelas memang memberimu banyak referensi. Tapi belajar di luar kelas juga bisa memberimu lebih dari sekadar teks panduan, melainkan pengalaman

1. Mungkin presentasi di kelas bisa membuatmu percaya diri. Tapi berkenalan dan berbicara di depan orang banyak di organisasi bisa membuatmu lebih berani bersuara

Latihan jadi pemimpin yang ahli berbicara depan umum via www.ethos3.com

Di bangku kelas kita memang dilatih untuk percaya diri dengan berbicara melalui presentasi individu dan kelompok setiap harinya. Tapi kesempatan itu biasanya hanya datang satu sampai dua kali per semester. Banyak juga mahasiswa yang lebih suka ‘berdiam diri’ membiarkan teman kelompoknya menjawab semua pertanyaan. Dan mahasiswa tersebut biasanya akan membaca cepat bagian presentasi individunya, tanpa kontak mata. Kalau begitu kuliah bertahun-tahun pun, tetap tidak akan bisa jadi pembicara yang baik.

Advertisement

Mereka yang malu-malu dan tidak bisa berbicara di depan umum, tidak akan bisa sukses di dunia kerja. Mereka hanya akan jadi bawahan yang mendengarkan. Makanya, yang namanya mahasiswa itu seharusnya mencari platform lain untuk melatih kemampuan berbicaranya di depan umum. Cobalah untuk bergabung dalam organisasi kampus yang akan memberimu peluang untuk lebih banyak bicara di depan umum.

2. Beda sama sekolah yang jadwalnya pakem, jadwal kuliah itu kamu sendiri yang bebas atur. Begitu juga waktu nongkrong. Sulit memang atur semua kebebasan waktu yang dimiliki dengan bertanggungjawab

Manajemen waktu via www.myadroit.com

Sebenarnya, tidak ada yang sia-sia dari nongkrong setelah kuliah. Justru yang muda dan penuh tenaga itu tidak dianjurkan untuk langsung pulang ke rumah begitu selesai kuliah. Ini adalah waktu krusial untuk mencari teman dan koneksi sebanyak-banyaknya, sembari mencari jati dari. Nggak seru banget kalau jadwalmu sepakem jadwal sekolah dulu, padahal kamu sekarang sudah memiliki keleluasaan waktu.

SKS bisa dipilih sendiri, kegiatan organisasi juga pilihan pribadi, mau nongkrong di sela-sela jam kuliah juga bisa. Waktumu bebas dan fleksibel tapi penuh tanggungjawab, soalnya semua pilihanmu. Cuma itulah soft skill penting yang memang harus kamu pelajari di umur-umur segini. Yup, manajemen waktu. Manajemen waktu yang baik itu kunci utama untuk hidup yang seimbang dan bahagia. Karena ke depannya hal-hal yang perlu diseimbangkan akan semakin bertambah, dari karier, asmara, keluarga, sampai cita-cita pribadi, kamu wajib punya skill manajemen waktu yang mumpuni.

3. Ini adalah gerbang menuju kemandirian, harus mengasah kemampuan untuk bertahan hidup sendiri. Dari keahlian masak sampai skill mengatur keuangan pribadi, kamu tak boleh lagi hanya berpangku tangan

Supaya bisa bertahan hidup meski sendiri via emgn.com

Kuliah adalah masa yang tepat untuk mengasah kemampuanmu untuk bertahan hidup sendiri. Bagi mereka yang merantau, itu sudah jadi satu-satunya pilihan. Tapi ya jangan cuma tahu daftar warteg atau burjo enak, coba deh belajar memasak. Logikanya ya harusnya semua merasa tergerak untuk belajar memasak, tak peduli cewek atau cowok kan butuh makan.

Bukan cuma memasak, manajemen keuangan, mencuci baju sendiri, sampai bayar-bayar tagihan, harus bisa sendiri. Intinya, selepas kuliah kamu tidak harus lagi berpangku tangan dan mengandalkan orangtua untuk bertahan hidup. Nah bagi yang tidak harus merantau, belajar skill ini jadi tantangan tersendiri. Tetapi cepat atau lambat pasti semua orang harus belajar untuk mandiri, lebih baik cepat sih daripada terlambat.

4. Kalau kamu ikut UKM atau kursus bahasa asing di luar kampus, secara tak langsung kamu juga belajar menjadi seorang multitasker. Banyak pekerjaan yang harus kamu selesaikan dalam satu waktu

Bahkan kelak ketika menjadi ibu, kamu handal untuk multitasking via Today.com

Mungkin hal pertama yang terlintas dalam benakmu adalah ‘gilak!’ Ya, berat memang membagi pekerjaan dalam satu waktu. Terlebih kalau semuanya memiliki deadline yang hampir bersamaan. Orang manapun akan kesusahan dan mengibarkan bendera putih ketika dia berada dalam jurang deadline yang menganga seperti itu. Tapi untungnya, kamu bisa mengambil hikmah dari semua itu di kemudian hari. Dengan kamu ikut UKM, kursus bahasa asing di luar kampus, dan berkutat dengan tugas kuliah, kamu akan menjadi seorang multitasker yang handal. Kuncinya hanya satu, jangan menyerah di tengah jalan.

5. Skill bekerja dalam tim memang bisa disimulasikan lewat kerja kelompok. Tapi dengan mengikuti program magang, kamu bisa memahami bagaimana kerja dalam tim dengan yang sesungguhnya

Magang, dilatih bekerja dalam tim dengan  tanggungjawab dan konsekuensi nyata via www.letsintern.com

Apa manfaat dari program magang bagimu? Kamu bisa belajar banyak dari proses magangmu. Pertama kamu bisa belajar untuk bekerja sama dalam satu tim. Kedua, kamu bisa memahami bagaimana sistem dalam dunia kerja yang sesungguhnya. Kamu tidak akan mendapatkan dua pelajaran penting ini kalau cuma mengandalkan kurikulum dalam bangku perkuliahan. Itulah manfaat yang bisa kamu ambil dari keikutsertaanmu dalam program magang. Pengalaman magang juga akan jadi aksesoris terbaik untuk CV-mu kelak.

6. Kamu akan bisa membaur dengan semua orang, mengerti bagaimana heterogennya orang-orang di luar sana. Apalagi kalau kamu turut berpartisipasi dalam kegiatan sosial

Belajar bersyukur dan bersikap bijak menghadapi perbedaan via uny.ac.id

Turut berpartisipasi dalam kegiatan sosial, rupanya menjadi sumber soft skill yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Mungkin kamu hanya melakukannya dengan sukarela tanpa mengharapkan imbalan apapun. Tapi ternyata, dengan kamu ikut kegiatan sosial ini, kamu akan bisa memahami bagaimana karakter orang-orang di luar sana yang begitu heterogen. Selain itu, kamu juga bisa lebih bersyukur dengan apa yang kamu miliki saat ini. Dengan kata lain, kamu akan lebih mudah untuk membaur ke dalam orang-orang baru yang belum pernah kamu kenal sebelumnya.

7. Di dalam kelas, kamu hanya diajarkan untuk hormati dosen. Makanya mumpung muda itu harus punya pergaulan yang luas, supaya bisa belajar banyak etika di kehidupan nyata

Tahu bagaimana bersikap terhadap orang lain itu skill penting dalam hidup via madamenoire.com

Percuma kamu memiliki ilmu setinggi langit dalam berbagai gelar, dari S1, S2, bahkan S3, selama kamu tidak memahami bagaimana cara untuk menghargai orang lain. Bahkan, tanpa perlu kamu belajar hingga ke negeri Paman Sam, harusnya kamu bisa belajar tentang etika dan moral sosial dalam lingkunganmu. Di manapun kamu berada, sudah sewajarnya kamu paham tentang ilmu etika dan tata krama. Kita orang Timur, seharusnya kita lekat dengan etika dan tata krama dalam bentuk sopan santun. Apa jadinya kalau kamu pintar dalam berbagai keilmuan, tapi lupa cara menghormati orang yang lebih tua darimu?

Setelah semuanya kamu dapat, tentu kuliahmu yang bayarnya mahal, lama lulusnya, tidak akan percuma ketika kamu telah menguasai beberapa soft skill yang bisa kamu asah di luar kelas. Banyak cara yang bisa kamu lakukan untuk mengembangkan dirimu. Kuliah sambil nongkrong, siapa takut?