Dari 5 orang terkaya di dunia yang mengalami kenaikan kekayaan secara signifikan versi majalah Forbes, 3 diantaranya datang dari Asia Timur. Disadari atau tidak negara tetangga kita itu memang sangat maju dalam perkembangan ekonomi. Walau terletak di satu region yang sama, pertumbuhan ekonomi Asia Timur sangat memimpin dibanding negara lain di kawasan Asia.

Keberhasilan ini tentu tidak bisa didapat dalam semalam. Dibutuhkan proses yang panjang untuk menciptakan pribadi dengan karakter sukses. Penasaran kan, bagaimana gaya didikan Asia Timur yang mampu menciptakan orang-orang tersukses di dunia? Kali ini Hipwee akan membagi rahasianya untuk kamu, diambil dari memoar mendidik anak ala Asia Timur terkenal: Battle Hymn of The Tiger Mother.

1. Semasa Sekolah Anak-Anak Asia Timur Hanya Punya 1 Tugas: BELAJAR

Satu-satunya tugas hanya belajar via i2.cdn.turner.com

Di negara non Asia, sekolah hanya menjadi salah satu bagian dari hidup. Identitas sebagai pelajar akan luntur selepas bel pulang sekolah berbunyi. Anak-anak di negara non Asia akan sibuk bermain, ikut kegiatan ekstrakulikuler atau bahkan bekerja paruh waktu. Hal ini tidak berlaku di negara Asia Timur.

Gaya pendidikan yang diterapkan oleh orang tua Asia Timur menempatkan anak-anak sebagai pelajar sampai masa sekolah mereka selesai. Tugas utama mereka ya belajar. Orang tua akan memenuhi kebutuhan lain. Sepulang sekolah, anak-anak Asia Timur akan ikut pelajaran tambahan. Di rumah pun orang tua menjadi sosok yang memperhatikan hal-hal akademis. Orang tua akan mengecek pekerjaan rumah atau bahkan memanggil guru privat ke rumah.

2. Pujian Tidak Pernah Diberikan Untuk Prestasi yang Biasa-Biasa Saja

Advertisement

Kalau kamu menang, baru pantas dipuji via jto.s3.amazonaws.com

Kultur Barat menekankan pentingnya meningkatkan rasa percaya diri anak agar mereka dapat lebih berprestasi. Tidak heran jika orang tua dari negara Barat akan mudah memuji anak-anak mereka saat ada hal yang berhasil diraih. Walau sebenarnya prestasi tersebut tidak lah begitu besar.

Kultur Asia Timur tidak ingin menciptakan seseorang dengan prestasi biasa saja. Tujuan pendidikan Asia Timur adalah menciptakan pribadi yang mampu mendapatkan pencapaian besar. Anak-anak Asia Timur tidak akan mendapatkan pujian jika prestasi mereka tidak sempurna. Jika anak Amerika sudah dipuji saat mendapatkan nilai 80, anak yang berasal dari Asia Timur baru akan mendapat pujian ketika nilai mereka 100.

3.Menghukum Anak Itu Wajar,  Selama Dianggap Bisa Meningkatkan Performa

Hukuman untuk mendorong anak lebih baik itu wajar via res.img.ifeng.com

Tujuan utama didikan Asia Timur adalah menciptakan anak-anak yang sukses. Metodenya bermacam-macam, bahkan melalui hukuman. Orang tua Asia Timur tidak keberatan menghukum anak-anak mereka, mengancam dan menciptakan rasa takut demi menumbuhkan semangat juang agar mampu mencapai hasil yang lebih baik.

Dalam sebuah memoar tentang mendidik anak ala Cina diceritakan bagaimana seorang Ibu menghukum anaknya yang baru berusia 5 tahun karena tidak bisa memainkan piano dengan baik. Ditengah musim dingin, Ibu ini mengeluarkan anaknya dari rumah dan menunggu hingga ia berjanji untuk berlatih dengan lebih serius. Walau terkesan kejam tapi cara ini terbukti menciptakan pribadi yang punya semangat juang.

4. Jangan Cepat Puas, Anakmu Selalu Bisa Melakukan Lebih

Kalau didorong, anakmu selalu bisa melakukan lebih via i.jstv.com

Salah satu ciri khas didikan Asia Timur adalah selalu mendorong anak untuk melakukan lebih. Baik saja tidak cukup, kamu selalu bisa untuk jadi super sempurna. Dalam memoar Battle Hymn of a Tiger Mother diceritakan bagaimana seorang Ibu asal Cina menolak kartu ulang tahun yang diberikan kedua anaknya. Ia merasa kartu ini dibuat dengan asal-asalan sehingga tidak layak diterima.

Segala hal harus dipersiapkan dengan sempurna dalam kultur Asia Timur. Kalau kamu jeli, ini akan tercermin dari budaya menata bunga (生け花)dan upacara minum teh yang penuh aturan rumit. Gak ada hal yang boleh dilakukan secara serampangan. Setiap tindakan harus dipersiapkan dengan baik agar mencapai hasil yang tanpa cela.

5. Kegiatan Paling Ideal Di Luar Belajar Adalah Berlatih Musik Klasik

Wajib belajar musik klasik sedari kecil via fttgreenroom.files.wordpress.com

Jika ingin sukses mengikuti didikan ala Asia Timur, jangan harap kamu akan punya waktu luang seusai sekolah. Gak ada kesempatan untuk bermain ke rumah teman atau santai-santai nongkrong dulu di sekolah. Kamu hanya boleh menghabiskan waktu senggangmu untuk belajar piano dan biola. Dalam sehari kamu akan berlatih selama minimal 2 jam. Berlatih musik klasik adalah keharusan.

6. Pulang Ke Rumah Itu Kewajiban

Apapun yang terjadi, anak wajib pulang ke rumah via 3.bp.blogspot.com

Saat orang lain bisa bermalam di rumah teman dan ngerumpi semalaman, anak-anak Asia Timur tidak bisa melakukan hal ini. Mereka dilarang oleh orang tua untuk tidak pulang ke rumah. Bagi kultur Asia Timur “rumah” adalah tempat utama berlangsungnya proses pendidikan. Di rumah lah orang tua bisa mengontrol perilaku dan nilai yang dianut oleh anak-anaknya.

Anak-anak yang dibesarkan dalam kultur Asia Timur terkesan lebih rumahan jika dibanding dengan kultur lain. Jika di negara Barat mereka yang berusia 18 tahun sudah boleh keluar rumah dan tinggal sendiri, kultur Asia Timur tidak mengenal hal ini. Kebanyakan dari mereka akan tetap tinggal bersama orang tua sampai menikah.

7. Anak Harus Selalu Mengikuti Pendapat Orang Tua

Anak tidak boleh punya pendapat sendiri via www.businessinsider.in

Membesarkan anak adalah tugas orang tua, karena itu jalan hidup anak juga sepantasnya ditentukan oleh orang tua. Chua, ibu di memoar Battle Hymn of The Tiger Mother menentukan semuanya. Dia yang memutuskan alat musik apa yang harus dimainkan kedua anaknya, kompetisi apa yang harus diikuti sampai mengatur pidato anak-anak di pemakaman nenek mereka.

Dalam budaya Asia Timur demokrasi dalam mendidik anak bukan jadi hal yang penting. Posisi orang tua selalu lebih superior. Sampai kapanpun anak-anak harus menuruti pendapat mereka. Jika anak menolak mengikuti perintah yang diberikan orang tuanya ia akan dianggap melanggar otoritas atau bahkan mendapatkan label durhaka.

8. Kesulitan Hidup Akan Membuat Anak Jadi Orang yang Lebih Baik Di Masa Depan

Dipaksa berjuang sedari kecil via img.dayazcdn.net

Di Cina banyak orang tua memasukkan anaknya ke sekolah berasrama sejak usia dini. Bahkan mereka yang ingin anaknya menjadi atlet profesional akan mengirim anak-anak mereka ke pusat pelatihan calon atlet sejak usia mereka 5 tahun. Anak-anak dipaksa berkembang dan menghadapi berbagai kesulitan hidup sendiri.

Dalam video ini seorang ayah menjelaskan bahwa ada anggapan bahwa anak yang tidak pernah dibiarkan berjuang sendiri akan jadi orang yang lemah. Karena itu dia memilih untuk memasukkan putranya ke sekolah atlet sejak usia 5 tahun. Walau terkesan menyalahi hak asasi anak, namun buktinya negara-negara Asia Timur memang gudangnya atlet handal nan berkualitas.

9. Kalau Anaknya Gagal, Orang Tua Akan Menyalahkan Diri Mereka Sendiri

Kegagalan atau kesuksesan datang dari orang tua via upload.wikimedia.org

Dalam sebuah penelitian dari California State University dijelaskan bagaimana kultur Asia Timur mempengaruhi cara mendidik generasi muda. Ternyata orang tua yang tinggal di Asia Timur mengasosiasikan keberhasilan atau kegagalan anak-anak dengan kegagalan dan keberhasilan pribadi. Singkatnya, kalau anakmu gagal maka sebenarnya kamulah yang gagal mendidiknya. Begitu pula sebaliknya jika anakmu berhasil.

Harga diri orang tua ditentukan dari keberhasilan anak-anak mereka. Inilah mengapa Asia Timur memiliki pola pendidikan yang sangat ketat dan berorientasi pada kesuksesan. Sebab kesuksesan atau kegagalan seseorang akan ditentukan oleh perilaku generasi yang berada dibawahnya.

Kira-kira cara ini bisa diterapkan gak ya untuk Indonesia? Apakah kalau kita menirunya Indonesia juga akan semaju kawasan tetangga yang sudah jadi pionir ekonomi di Asia?