Menjadi pribadi yang berhasil dalam setiap lini hidup tentu jadi impian semua orang. Untuk menuju kesuksesan, banyak cara yang bisa dilakukan. Mulai dari kerja keras dari pagi sampai malam, mengatur keuangan sampai berkoar-koar tentang rencana yang ingin dilakukan.

Tapi percayakah kamu kalau Hipwee bilang mereka yang sukses justru adalah orang-orang yang bekerja dalam diam? Keberhasilan, secara mengejutkan, justru akan datang pada mereka yang secara kasat mata tampak sama sekali tidak berusaha. Penasaran kan, kenapa bisa begitu?

Mereka yang Tidak Banyak Bicara Sering Dianggap Tidak Punya Masa Depan

Dia yang pendiam sering tidak dianggap via www.designscene.net

Pergaulan kita sering menempatkan pribadi yang pendiam dan kaku sebagai orang yang tidak layak diperhitungkan. Kalau gak berani berpendapat di depan umum, kamu dianggap tidak akan punya masa depan deh.

Keberanian untuk mengungkapkan pendapat memang penting, tapi di masa pencarian jati diri justru bukan menjadi vokal yang paling dibutuhkan. Untuk menentukan apa yang ingin dituju dalam hidup seseorang membutuhkan ketenangan.

Advertisement

Mulut yang tidak banyak bicara akan membuat otak bisa berpikir lebih jernih.

Mereka yang tumbuh dengan tidak banyak bicara akan memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mengajukan pertanyaan pada diri sendiri. Apa yang sebenarnya dia inginkan dalam hidup, tujuan hidup macam apa yang ingin dicapai, sampai hidup seperti apa yang ingin dibangun.

Derek Sivers: Mau Sukses? JANGAN PERNAH Bagi Rencana dan Cita-Citamu Dengan Siapapun

Derek Shivers di TedTalks via dopeconnect.com

Derek Sivers, pendiri CD Baby – toko online khusus pemusik Indie – membagikan rahasia suksesnya di acara TED Talk tahun 2010. Ketika kebanyakan orang percaya bahwa menceritakan impian dan cita-citanya bisa memicu motivasi, Sivers memilih untuk menutup mulutnya rapat-rapat.

Sivers membuka sesi berbaginya di TedTalks dengan kalimat yang mengejutkan,

“Menceritakan rencanamu pada orang lain justru akan memperkecil kemungkinan impian itu terwujud”

Dia meminta peserta TED membayangkan impian terbesar yang ingin mereka capai, kemudian menciptakan visualisasi saat impian itu mereka beritahu pada orang lain. Sivers juga meminta peserta untuk membayangkan perasaan puas ketika mendengar orang lain memuji rencana hebat yang kamu miliki.

Sivers juga mengungkapkan hasil dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh Psikolog New York University pada tahun 2009. 163 mahasiswa Fakultas Hukum dikumpulkan untuk mengerjakan tugas yang sulit. Masing-masing dari mereka diberikan 45 menit untuk menyelesaikan tugas tersebut.

Jangan pernah bagi mimpimu dengan yang lain via www.intellectualrevolution.tv

Sebelum mulai mengerjakan tugas, semua mahasiswa diminta untuk menuliskan tujuan yang ingin dicapai di selembar kertas. Setengah dari mereka diperintahkan untuk tidak membagikan tujuan personalnya, sementara setengah yang lain membuka tujuan itu ke publik.

Hasilnya cukup mengejutkan. Mereka yang membagikan tujuan yang ingin dicapai ke publik berhenti berusaha menyelesaikan tugas setelah 33 menit, dan merasa sudah lebih dekat dengan tujuan yang harus dicapai. Sementara mereka yang tidak menceritakan tujuannya pada siapapun justru memanfaatkan seluruh 45 menit yang dimiliki dan masih merasa jauh dari berhasil.

Dari hasil penelitian diatas, apa sih yang sebenarnya terjadi?

Menceritakan Impianmu Ke Publik Akan Menciptakan Identitas Semu yang Justru Menjatuhkan

Berbagi mimpi akan menciptakan identitas semu via overkill54.deviantart.com

Robert A Wicklund dan Peter M. Gollwitzer, dua psikolog dari University of Texas, menjalankan penelitian tentang symbolic self completion. Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa sebenarnya ada 2 tujuan dalam setiap impian yang ingin dicapai seseorang: career goal dan identity goal.

Career goal adalah tujuan untuk mendapatkan sebuah pekerjaan. Seperti menjadi penulis, jadi dokter, teknisi, pengacara dan berbagai pilihan karir lain. Ketika pekerjaan yang diinginkan sudah bisa dimiliki, maka career goal seseorang sudah selesai.

Sementara identity goal adalah keinginan untuk diasosisikan dengan sifat yang umumnya dimiliki kebanyakan orang di pekerjaan tersebut. Masyarakat menganggap dokter itu biasanya pintar dan hebat, pengacara selalu tampak percaya diri dan meyakinkan, penulis itu banyak baca.

Kamu akan percaya kalau bisa berhasil, padahal belum tentu via www.actualitease.com

Dari penelitian Wicklund dan Gollwitzer diketahui bahwa menceritakan tujuan yang ingin dicapai ke publik akan membuat seseorang merasa sudah mendapatkan separuh identity goal-nya. Ketika kamu bercerita ke temanmu kamu ingin jadi psikolog, dan dia sepakat kalau kamu memang cukup simpatik untuk jadi psikolog — separuh dirimu akan yakin bahwa kamu adalah psikolog.

Inilah yang berbahaya dari membagikan hal apa yang ingin kamu raih ke publik. Pengakuan dari orang lain akan membuatmu merasa puas. Walau belum mengeluarkan usaha keras, kamu akan mulai yakin bahwa kamu bisa mencapai hal yang selama ini kamu inginkan. Akan ada suara dalam dirimu yang bilang, “Orang lain aja udah yakin kok sama aku. Pasti bisa deh“.

Dampaknya, usahamu untuk mencapai impian itu akan makin lemah bila dibandingkan dengan dia yang tidak menceritakan tujuannya pada siapapun. Padahal persaingan diluar sana sangat ketat, dan kamu yang tidak bekerja keras belum tentu bisa menang.

Ada Atau Tidak Sih Cara Cerdas Untuk Membagi Tujuan yang Ingin Dicapai Dengan Orang Lain Tanpa Membuatmu Kehilangan Semangat?

Seperti uang logam yang selalu terdiri dari 2 sisi, menceritakan impian yang ingin kamu capai ke orang lain juga punya sisi baik dan buruk. Agar tindakan ini tidak membuatmu kehilangan semangat, ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan:

1. Ganti Kalimat “Aku Ingin Jadi….” ke “Tolong ingatkan aku untuk jadi…”

MiLes, sutradara yang bekerja dalam diam via bonasoetirto.com

Setiap kamu ingin membagi tujuanmu dengan orang lain ingatlah untuk tidak terjebak pada rasa ingin menyombongkan diri. Kamu tidak perlu berkoar-koar memberi tahu mereka ingin jadi apa. Yang kamu perlu lakukan justru membuat orang lain jadi pengingat kalau kamu sedang malas berusaha.

Daripada asyik bercerita kamu ingin jadi apa dan membuat mereka kagum dengan rencanamu, lebih baik kamu bilang ke orang-orang untuk memarahimu kalau kamu sedang kehilangan semangat. Tidak cukup hanya bilang, “Aku mau jadi psikolog nih” tapi tambahkan juga, “Aku mau jadi psikolog nih. Ingetin ya kalau lagi males kuliah“.

2. Jangan Biarkan Ekspektasi Orang Lain Mempengaruhi Tujuanmu

Walau berbagi cerita ke orang lain, jangan biarkan pendapat mereka mempengaruhimu via bonasoetirto.com

Cuma kamu yang berhak menentukan tujuan yang ingin kamu capai. Misalnya nih, kamu bercerita kalau kamu ingin jadi penulis dan meminta teman-temanmu mengingatkan agar kamu konsisten menulis setiap hari. Saat mereka bilang kalau profesi penulis itu tidak menjanjikan, jangan goyah. Kamu tidak punya tanggung jawab apapun untuk memenuhi ekspektasi mereka.

Berbagi tujuan ke orang lain hanya akan bermanfaat saat ia berfungsi sebagai instrumen untuk mengecek kinerjamu. Jangan tergoda untuk terlihat lebih hebat didepan orang lain. Kamu tidak perlu menyesuaikan mimpimu dengan harapan mereka. Kalau kamu sukses, semua yang meragukanmu juga akan diam kok.

3. Cari Orang yang Terpercaya Untuk Tempat Berbagi

Pastikan kamu berbagi hanya ke teman yang kamu percaya via mogiciwa.blogspot.com

Tidak semua orang layak jadi tempat bercerita soal hal yang paling kamu inginkan dalam hidup. Kamu perlu orang yang benar-benar memahamimu dan punya komitmen untuk mendukungmu mencapai impian tersebut. Cerita hal besar ke orang yang salah sama saja dengan bunuh diri.

Pastikan kamu menceritakan tujuan besarmu hanya ke orang yang benar-benar kamu percaya. Dia yang bisa menerima pemikiranmu, tidak peduli seberapa absurdnya itu. Dia yang rela mengingatkanmu saat kamu sedang kehilangan semangat untuk lari mencapai mimpi.

Kalau sudah menemukan orang yang tepat, membagi tujuan besar justru bisa jadi amunisi agar impian itu benar-benar bisa terwujud.

Gimana menurutmu? Masih mau koar-koar soal impian yang mau kamu raih, atau memilih berhati-hati dan bekerja dalam diam?