Movie on-demand via www.digitaltrends.com

Setiap perusahaan berdiri di atas pondasi yang berasal dari pemikiran pentolan-pentolan di dalamnya. Pemikiran ini lalu diterjemahkan sebagai filosofi perusahaan dan diadopsi sebagai budaya kerja mereka. Budaya perusahaan itu penting karena ia menentukan etos kerja, kebiasaan, dan, pada akhirnya, kesuksesan perusahaan itu sendiri.

Budaya tiap perusahaan pada dasarnya memiliki semangat yang sama, bahkan hampir klise: integritas, komunikasi, dan kerja keras, misalnya. Berbeda dengan Netflix, perusahaan asal Amerika yang sukses di bidang penyediaan konten online (film & acaar TV) ini.

Beberapa budaya Netflix sangat kontrovesial: mengizinkan karyawan untuk berlibur selama yang ia mau, misalnya. Namun, kesuksesan mereka menguasai pasar di Amerika dan sebagian Eropa membuat banyak perusahaan-perusahaan lain, baik saingan maupun bukan, ingin menyontek kultur kerja yang mereka terapkan.

Awalnya Jasa Penyewaan DVD lewat pos via www.savethepostoffice.com

Advertisement

Kerennya, Netflix gak segan-segan berbagi rahasia sukses mereka (ketidakseganan ini mungkin adalah bagian budaya Netflix juga). Perusahaan yang pada awalnya adalah penyedia jasa sewa DVD via pos ini merilis dokumen kultur perusahaan yang disebut seorang pejabat Facebook sebagai dokumen paling penting di Silicon Valley.

Bagi kamu yang baru (akan) menjalankan perusahaan start-up, di sini Hipwee sudah merangkum budaya perusahaan Netflix yang bisa kamu contoh.

1. Hanya Mempekerjakan Orang yang Luar Biasa Kompeten

Mencari pegawai yang cukup kompeten di bidangnya gak cukup bagi Netflix. Perusahaan ini selalu mencari orang yang berkemampuan luar biasa. Tujuannya, agar tercipta lingkungan kerja yang unggul. Jika kamu bekerja dengan orang yang sangat unggul di bidangnya, kamu jauh lebih bahagia dan produktif di tempat kerja.

Netflix juga gak segan-segan menugaskan seorang manajer menyelesaikan sendirian sebuah pekerjaan yang seharusnya dikerjakan bersama 2 bawahan, kalau si manajer lebih produktif bekerja solo daripada berkutat bersama 2 orang yang kemampuannya hanya ‘rata-rata’.

2. Mengambil Kebijakan Berdasarkan Nalar

Netflix mengedepankan peraturan berdasar akal, nalar, dan kedewasaan daripada peraturan formal tertulis. Mereka gak punya staf SDM yang kerjanya terus memantau performa pegawai lain. Sementara, kebanyakan perusahaan lain membuang uang dan waktu dalam upaya untuk menegakkan kebijakan perusahaan.

Netflix udah punya staf yang berpikir dewasa untuk selalu mendahulukan kepentingan perusahaan. Staf-staf ini didorong untuk berpikir secara logis dalam menghadapi masalah di tempat kerja. Mereka terbuka bicara soal kenaikan gaji, rekan kerja, dan penugasan dengan atasan masing-masing. Dengan penalaran para manajer bisa menyelesaikan masalah secara kasus-per-kasus. Fleksibel, gak kaku.

Bahkan Netflix akan mengizinkan karyawannya mengambil liburan jika itu dipandang perlu demi ‘kepentingan’ Netflix.

3. Singkirkan Evaluasi Kerja

Seringkali sebuah perusahaan akan mengevaluasi kinerja karyawannya secara berkala (mingguan, bulanan, tahunan). Netflix menganggap ini hanya sebagai sebuah ritual. Evaluasi berkala menyebabkan masalah yang harusnya segera diselesaikan jadi tertunda. Dan terkadang, evaluasi kerja yang negatif membuat karyawan menjadi negatif. Menurut Netflix, melakukan evaluasi dan mengukur kinerja karyawan secara berkala gak bakal membuat mereka jadi lebih baik.

Sebagai gantinya, Netflix akan memberi feedback secara langsung ketika dibutuhkan. Feedback disampaikan dengan santai (informal) jika dipandang perlu, bukan diumumkan secara terang-terangan di depan seluruh karyawan.

4. Rencana Perbaikan Kinerja Gak Ada Gunanya

Netflix gak suka dengan istilah Rencana Perbaikan Kinerja (Performance Improvement Plans) karena gak seperti namanya, teknik ini sebenarnya gak memperbaiki kinerja sama sekali. Staf yang kerjanya gak bagus ditegur manajer, lalu dipecat, dan pemecatannya akan didengar seluruh anggota staf yang lainnya. Pola semacam itu dinilai gak bagus untuk lingkungan kantor. Belum lagi kalau staf yang dipecat mengajukan tuntutan hukum.

Sebaiknya jujur pada staf bahwa dia udah gak memenuhi standar lagi atau tenaganya sudah gak dibutuhkan lagi. Beri pesangon yang pantas. Dengan begitu perusahaan gak perlu buang-buang waktu untuk meladeni pengadilan.

5. Bonus Tahunan Dihapus

Seperti tadi disebutkan, Netflix udah diisi oleh staf-staf berpikiran dewasa dan logis. Jika mereka sudah berada di puncak kemampuannya, maka bonus tahunan yang berfungsi untuk memicu performa staf gak akan ada gunanya lagi. Mereka akan gak akan jadi lebih pintar atau lebih jago. Sebaliknya, Netflix hanya akan menyediakan kompensasi sejumlah uang yang akan dibayar kepada mereka jika mereka meninggalkan Netflix.

Netflix juga gak mau menahan karyawan yang ingin pindah kerja tempat lain. Jika mereka mendapat tawaran lebih baik di tempat lain, jangan tahan mereka seperti tawanan.

6. Pastikan Seluruh Staf Berkinerja Baik

Karyawan Netflix mesti diberi pemahaman bahwa perusahaan ini membutuhkan mereka untuk melakukan pekerjaan dengan baik, berkualitas tinggi. Karena lingkungan kerja yang baik dan asyik, memiliki area rekreasi dan pesta tiap weekend gak ada gunanya jika perusahaan gak berjalan dengan baik.

Gimana? Netflix cukup unik kan? Mau mengadopsi gaya Netflix ke dalam bisnis kamu? Baca lengkap kultur mereka di sini.