Horee… Kamu wisuda! Akhirnya datang juga hari dimana kamu memakai toga dan melihat ayah-ibumu bahagia. Kamu bangga luar biasa.

Tapi euforiamu tak berlangsung lama. Setelah kembali ke kamar kost, kamu sadar harus memikirkan satu hal: mau kerja dimana?  Mungkin Ayah-Ibu berharap kamu mapan. Di lain sisi, banyak temanmu bilang kamu harus cari pengalaman.

Artikel ini akan mencoba membantumu menentukan pilihan. Jika sebelumnya Hipwee pernah melansir “Habis Lulus Kuliah, Mending Kerja Dulu atau Langsung S-2?”, sekarang akan dibahas seluk-beluk bekerja di 2 tempat berbeda: perusahaan besar yang sudah mapan dan usaha startup yang baru dirintis.

Opsi mana sih yang lebih baik bagi masa depanmu?

Sebagai fresh grad, apa yang harus kamu perhatikan saat memilih pekerjaan pertama?

Mau kemana kita? via owip.net

Advertisement

Begitu keluar dari dunia kuliah, kamu mungkin masih punya idealisme tinggi tentang pekerjaan yang ingin kamu lakoni. Harus di kota tertentu. Harus bergaji besar. Harus di perusahaan terkenal. Tapi, bisa juga kamu akan mengiyakan tawaran kerja apapun yang pertama datang. Menurutmu yang terpenting adalah bisa belajar dan berkembang.

Di antara keduanya, cara berpikir mana sih yang lebih tepat?

Yang jelas, pekerjaan pertama yang baik bukan melulu soal status dan gaji. Di sisi lain, jangan langsung mengiyakan tawaran kerja pertama yang datang. Tidak di semua lingkungan kerja kamu bisa belajar dan berkembang dengan nyaman.

Ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan dalam memilih pekerjaan pertama:

1. Apa pekerjaan itu sesuai dengan minatmu? “Minat” disini tak terbatas pada apa yang kamu pelajari saat kuliah, tapi juga tentang renjana yang kamu punya. Kamu boleh jadi Sarjana Antropologi. Tapi kalau renjanamu di bidang menulis, profesi wartawan pun akan cocok untukmu.

2. Apa ilmu kuliahmu akan terpakai? “Ilmu” disini bukan cuma perihal skripsi, tapi juga kemampuanmu berpikir kritis, analitis, serta kreatif. Semua itu dilatih di masa kuliah, terutama jika kamu mengambil jurusan Ilmu Sosial atau Sastra.

3. Apakah pekerjaan itu membantumu berkembang? Bagaimana budaya kerja dan interaksi karyawannya? Kemampuan apa yang harus kamu punya saat bekerja disana?

4. Apakah pekerjaan itu mendukung rencana jangka panjangmu? Kamu harus tahu dalam 3, 5, dan 10 tahun kamu mau jadi apa. Kalau ingin punya usaha sendiri 5 tahun yang akan datang, sebaiknya jangan pilih tipe pekerjaan seumur hidup seperti PNS atau karyawan BUMN.

Berpatoklah pada 4 pertanyaan di atas ketika sedang mempertimbangkan tepat-tidaknya suatu pekerjaan. Termasuk jika kamu bimbang memilih startup atau perusahaan besar yang mapan!

Hal-hal yang “wow” dan “nggak wow” dari kerja di perusahaan besar

Apakah memang selalu sekeren ini? via blog.ismaelburciaga.com

Supaya bisa lebih bijak dalam mempertimbangkan pilihan karir, tengok yuk apa saja yang harus kamu ketahui tentang berkarir di perusahaan besar.

Bekerja di bank, perusahaan consulting, BUMN, atau perusahaan internasional yang sudah punya nama tentu membawa berbagai keuntungan untuk fresh graduates. “Misalnya saja gaji yang oke,” tukas Adit (24), lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang kini bekerja di sebuah bank swasta asing ternama. Dengan gaji pokok antara 4,5 hingga belasan juta per bulannya, kerja korporat bisa meningkatkan taraf hidup para fresh grad 3-10 kali lipat dibandingkan saat mereka masih mahasiswa.

Ini belum termasuk aneka tunjangan yang bisa kamu dapatkan sebagai karyawan: tunjangan hari raya, dinas, lembur, transportasi, hingga tunjangan hari ultah perusahaan. Bonus pun bergelimpangan. “Kalau kamu melampaui target, siap-siap saja digaji 18-24 kali dalam setahun,” jelas Yusuf (24).

Bukan cuma soal pendapatan. Bekerja di perusahaan yang mapan juga sama artinya dengan pembagian tanggung jawab profesional yang jelas. Titian tangga menuju promosi kerja pun punya jalur pastinya.

“Kita bekerja dengan mengikuti sistem,” kata Bowo (24), karyawan sebuah perusahaan tambang di Kalimantan. “Jobdesc jelas, kerjaan teratur. Bahkan dapat diprediksi.”

“Karena sistem sudah ada, kita bisa ditugaskan di suatu tempat yang spesifik, sesuai kemampuan dan passion. Kita bisa mendalami bidang tersebut dan memahami seluk-beluknya secara detail. Saya pribadi lebih suka memahami satu hal secara mendalam daripada banyak hal tapi dangkal. Ini cuma bisa saya dapat dengan bekerja di perusahaan besar yang sudah mapan.”

Tapi kamu harus siap gigit jari karena birokrasi perusahaan.

“Bekerja di perusahaan pasti sarat akan politik. Terkadang penilaian kinerja masih based on kedekatan, hubungan keluarga, pertemanan, dan sebagainya.”

Namun kita tidak bisa hanya melihat politik perusahaan dari sisi negatif. Seperti kata Adit: “Ya memang kita harus ikut aturan main. Ada ‘trik’ supaya karir kita makin bagus. Cara paling mudah adalah pindah kantor, dan yang paling lazim adalah mencoba akrab dengan bos. Kalau tidak begitu? Karir kita bisa disitu-situ saja.”

Gaji minimal, beban besar: apa sih enaknya kerja di startup?

Apa enaknya? via mashable.com

Beberapa tahun terakhir ini, Indonesia dilanda demam perusahaan rintisan alias startup. Definisi startup’ pun meluas, tak melulu hanya dipakai untuk mendeskripsikan perusahaan yang fokus di bidang teknologi. Traveloka, Lintas.me, Lazada, dan Bukalapak hanyalah beberapa contoh startup lokal yang kita kenal. Berkarir di startup pun telah menjadi alternatif yang “seksi” bagi para fresh graduates.

Namun ada beberapa hal yang wajib kamu ketahui sebelum memutuskan melamar di perusahaan startup.

Pertama, jangan harap kamu punya job description yang pasti. Jobdesc kamu berubah-ubah, tergantung apa yang sedang dibutuhkan perusahaan.

“Saat ini tanggung jawab utama saya adalah digital marketing,” jelas Andika (24), yang bekerja di sebuah perusahaan marketing rintisan di Jakarta. “Kalau di perusahaan besar, saya hanya tinggal mengolah data. Tapi disini tidak ada pegawai yang tugasnya mencari data. Saya pun jadi harus mencari data itu sendiri.”

Selain harus sefleksibel balerina dalam mengerjakan tugas, jangan harap kamu bisa masuk sebagai trainee.

“Kerja di startup itu nggak boleh manja. Perusahaan nggak punya resource yang memadai untuk memberi masa training yang lama. Jadi ya harus cepat tanggap dan mau belajar,” komentar Irina (27), yang kini bekerja untuk sebuah startup pendidikan di Jerman.

Kamu pun dituntut untuk terus menelurkan konsep kreatif dan inovatif. “Perusahaan startup masih mencari pola bisnis yang paling menguntungkan dan sesuai dengan selera pasar. Karena itu, pegawainya harus rajin memberi masukan tentang apa saja yang bisa perusahaan lakukan. Kita juga harus rela kerja ekstra untuk mewujudkan konsep itu secara riil.”

“Di startup, apa-apa harus kita lakukan sendiri. Harus inisiatif sendiri. Termasuk untuk urusan minum. Mau kopi? Bikin sendiri. Galon air habis? Angkut sendiri. Maklum, nggak ada office boy.” kata Nia (25), yang bekerja di Yogyakarta.

Kerja kerasmu sebagai pegawai perusahaan startup tidak selalu bisa diganjar dengan gaji yang “wow”. Demi menghemat pengeluaran perusahaan, kamu kadang harus puas digaji ala kadarnya. Lantas, apa enaknya kerja disana?

“Di startup, manfaat dari kinerjamu bisa kamu rasakan langsung,” jawab Irina. “Orang-orang yang merasa hidupnya terbantu karena produk kita akan meng-email dan mengucapkan terima kasih. Ide baik yang kita lontarkan pada bos juga bisa langsung digubris, difollow-up, dijadikan nyata keesokan harinya.”

Selain itu, kamu juga bisa punya andil besar dalam menentukan masa depan perusahaan.

“Kita merasa bertanggung jawab dengan perkembangan perusahaan. Kita selalu berpikir: gimana caranya supaya perusahaan ini jadi besar? Bahkan walau kita belum ada di jajaran top level,” jelas Andika.

Bekerja di startup juga bisa memberi keuntungan finansial luar biasa. Jangan lupa, Google dan Facebook adalah perusahaan startup sebelum meledak seperti sekarang. Semua karyawan mereka yang masuk di angkatan pertama kini sudah jadi miliuner mini.

Reality check: gak semua startup itu bisa sukses!

Gak semua bisa jadi kayak gini via rack.3.mshcdn.com

Kita harus realistis. Tidak semua startup bisa sukses, apalagi kalau bandingannya Google dan Facebook. Adit, yang sempat merintis dua startup sebelum bekerja sebagai pegawai bank, tahu benar hal itu.

Di sisi lain, Andika memilih tetap optimis dengan perkembangan startup di Indonesia. “Asal punya visi yang jelas dan sumber daya yang mau bekerja keras, pasti perusahaan itu punya masa depan,” ujarnya. “Bekerja di perusahaan besar juga belum tentu mapan! Regulasi pemerintah dan campur tangan orang yang haus kekuasaan juga tantangan, bahkan bagi perusahaan besar. Banyak ‘kan perusahaan besar yang akhirnya harus tutup?”

Andika kemudian memberikan beberapa tips memilih startup yang menjanjikan.

Startup prospektif itu yang beda dari yang lain. Punya pemikiran sendiri, nggak mainstream. Visi-misinya kuat. Cari tahu juga siapa pendirinya. Cari tahu kualitas mereka dan bagaimana pengalaman mereka memimpin. Satu lagi: cari yang sesuai dengan bidangmu dan yang kamu mau.”

Kerjalah di perusahaan mapan kalau kamu…

Kerja mapan juga tidak apa-apa, kok via officesnapshots.com

Bekerja di perusahaan mapan itu tidak haram, kok. Tidak semua orang akan cocok bekerja di startup. Kalau kamu sudah tahu bidang mana yang bisa menunjang kemampuan dan minat profesionalmu, perusahaan besar yang mapan bisa membantumu fokus lebih dalam di bidang tersebut. Mereka bahkan juga punya sumber daya untuk mengirim kamu sekolah ke luar negeri untuk mendalami bidang tersebut.

Kamu juga harus bisa memahami diri sendiri. Di lingkungan seperti apa sih kamu lebih bisa berkembang? Tidak semua orang bisa maju di bawah tekanan konstan untuk berpikir outside-the-box ala startup. Mungkin kamu akan lebih cocok di lingkungan yang sistemnya sudah pasti. Mungkin kamu tipe orang yang alur kerjanya “mengamati, mengikuti, merasakan, baru memperbaiki.”

Keputusan apapun yang akhirnya akan kamu ambil, semua tergantung padamu. Pilihan yang satu tidak lebih buruk dari yang lain, kok. Hanya berbeda saja; seperti membandingkan rok dan celana. Tergantung kamu, ‘kan, lebih cocok pakai yang mana?