Berangkat pagi, pulang malam. Dan masih bawa kerjaan pulang. Gaji nggak seberapa. Duh, begini amat sengsaranya jadi kelas menengah ngehek.”

Jujur saja, perharinya, berapa kali kita mengeluh soal pekerjaan? Mulai dari pekerjaan yang tidak ada habisnya, omelan bos yang menusuk perasaan, sampai rasa bosan karena pekerjaan yang tidak sesuai dengan keinginan. Semua beban kerja itu seolah-olah membuat hidup kita justru menjadi menderita.

Padahal kalau dipikir-pikir, masih banyak di luar sana orang yang benar-benar menderita, karena tak kunjung bisa bekerja dan tak punya uang untuk mencukupi kebutuhan. Seremeh apapun pekerjaan kita, bukankah lebih baik jika kita mensyukurinya?

1. Gaji yang kamu dapat belum bisa dipakai untuk ke luar negeri kapan saja. Tapi kalau makan 3x sehari dan ngopi-ngopi cantik ada kan?

Di luar sana masih banyak yang tak bisa makan 3x sehari via guerikus.blogspot.co.id

Kerjaan nggak ada habisnya, sampai di rumah masih dikejar-kejar klien, tapi gaji cuma cukup buat 30 hari. Hih!

Advertisement

Soal pendapatan atau gaji bisa menjadi alasan pertama kamu nggak puas dengan pekerjaanmu saat ini. Wajar bila kamu sering merasa gaji yang kamu terima tidak sesuai dengan beban pekerjaan yang kamu punya. Itulah alasan kamu sering mengeluh ini dan itu. Tapi daripada mengeluh melulu, coba pikirkan berapa banyak orang diluar sana yang bahkan pendapatannya tidak cukup untuk 30 hari. Berapa banyak orang yang tidak bisa makan 3x sehari, apalagi untuk nonton bioskop setiap akhir pekan dan beli baju minimal sebulan sekali.

2. Omelan bos atau klien memang menyebalkan. Nah, sekarang bayangkan muaknya kamu jika diomeli di rumah karena jadi pengangguran

Bayangkan yang ngomel itu orang tuamu, karena kamu nggak segera bekerja

Kerjaan ini kapan habisnya sih? Bos yang itu kenapa nggak ke luar negeri aja sih? Capek gue kerja! Fix, mau resign aja!

Dunia kerja berbeda dengan dunia kuliah. IPK jelek mungkin hanya akan membuat orang tuamu marah. Tapi bila hasil kerjamu nggak memuaskan, ada bos dan klien yang siap membuat hari-harimu jadi kurang menyenangkan. Mendengarkan omelan bos, atau request dari klien yang seringnya ajaib memang menyebalkan. Tapi sekarang bayangkan, kamu hanya bersantai di rumah dan mendengarkan omelan Ibu dan Ayahmu karena kamu tidak segera bekerja. Pilih mana?

3. Meeting ini-itu bisa membuat kepalamu pecah. Tapi di luar sana ada yang rela keluar masuk demi interview agar dapat pekerjaan yang sekarang jadi sumber keluh kesah

mereka yang harap-harap cemas menunggu pengumuman kerja via blog.travelio.com

Kesibukan di kantor sering membuatmu bahkan lupa untuk makan siang dan istirahat. Mengejar meeting di sini dengan klien yang itu dan meeting di situ dengan klien yang ini, sering membuatmu engap karena nggak punya cukup waktu untuk menarik napas.

Bekerja memang melelahkan. Tapi saat kamu sibuk meeting, ada juga yang keluar masuk kantor untuk interview, dengan seribu harapan orang tua dipundaknya. Hingga akhirnya, lagi-lagi harus kecewa karena surat penolakan lagi yang diterima.

4. ‘Masih pengen tidur. Males masuk kerja.’ Sementara kamu malas-malasan ada yang mau berganti tempat denganmu untuk macet-macetan ke tempat kerja

mereka bangun pagi untuk cari kerja via www.progressivestoday.com

Yaah kok udah Senin pagi lagi aja. Males banget musti siap-siap ke kantor!

Semua orang tahu betapa menyebalkannya hari Senin pagi. Pekerjaan di kantor pasti sudah menggunung, dan aktivitas di jalanan akan lebih padat daripada biasanya. Sementara itu pikiranmu masih tertinggal di akhir pekan yang terasa masih kurang. Saat begini, Senin pagi menjadi hari yang kamu benci karena harus bangun pagi lagi. Tapi kamu lupa, Senin pagi bisa menjadi harapan baru bagi mereka-mereka yang bangun pagi bukan untuk bekerja, melainkan untuk mencari pekerjaan. Setidaknya, kamu tempat mana yang kamu tuju dan apa yang kamu lakukan seharian, serta berapa uang yang kamu terima di akhir bulan. Sementara mereka? Mereka masih berusaha mencari tahu kapan datangnya surat panggilan kerja.

5. Lupakan soal passion atau kata hati dulu. Pekerjaanmu sekarang mesti disyukuri karena membuatmu tidak stuck di situ

di luar sana persaingan seperti ini via www.tumblr.com

Setelah dipikir-pikir, mungkin alasanmu selalu mengeluh adalah karena pekerjaanmu saat ini bukanlah pekerjaan yang kamu cita-citakan sejak dulu. Sementara kamu bekerja di balik meja, pikiranmu sibuk berkelana pada pekerjaan yang kamu mimpikan tapi belum sempat kamu dapatkan. Meskipun begitu, pekerjaanmu saat ini juga patut disyukuri. Meskipun tidak sesuai dengan mimpimu, setidaknya kamu bisa menjalaninya. Ingatlah bahwa di luar sana banyak orang yang rela melakukan apa saja untuk bisa menduduku kursimu saat ini.

6. Setidaknya kamu bisa berkembang. Bagaimana jika kamu hanya stuck di rumah tanpa bisa melakukan apa-apa?

daripada stuck di rumah seperti ini? via generation-tbd-ground-truth.tumblr.com

Hal yang paling menyenangkan memang saat kita bisa bekerja sesuai passion. Apalagi menjadikan hobi sebagai pekerjaan. Tapi tentunya nggak semua orang bisa seberuntung itu. Kamu memang kesal, dan terpaksa menjalani pekerjaan yang tidak sesuai dengan passionmu. Tapi bukankah setidaknya kamu bisa berkembang di sana? Di dunia kerja nanti, banyak hal baru yang harus kamu pelajari, yang nggak melulu soal keahlian atau ilmu teknis. Bayangkan bila kamu stuck di rumah saja, tidak mengerjakan apa-apa, dan justru menjadi beban orang tua.

7. Boleh tak suka dengan pekerjaanmu sekarang. Tapi anggap saja sebagai pembelajaran untuk pekerjaan impian di masa depan

anggap saja pembelajaran untuk masa depan via www.toublanc.info

Tak ada keharusan untuk kamu menyukai apa yang kamu kerjakan. Faktanya memang seringnya kita harus menyerah pada kebutuhan dan terpaksa menjalani apa yang ada. Tak masalah jika kamu tidak suka pekerjaanmu saat ini. Tapi daripada mengeluh melulu, lebih baik kamu menganggapnya sebagai pembelajaran atau batu loncatan untuk mengejar karir yang sudah lama kamu impikan. Semua memang ada prosesnya dan yang bisa kilat hanyalah mie instan. Asal kita pandai-pandai mengambil hikmahnya, nggak ada yang sia-sia di dunia ini.

Mungkin sudah menjadi sifat dasar bagi manusia untuk mengeluh dan merasa tak cukup. Diberi hati minta jantung, diberi ini minta itu, dan seterusnya dan seterusnya. Kita sering lupa bahwa apa yang kita punya saat ini barangkali adalah sesuatu yang sangat diinginkan oleh orang lain. Mengejar mimpi memang tak bisa dilakukan oleh orang yang mudah berpuas diri. Tapi itu tidak sama dengan selalu mengeluhkan apa yang kita punya, dan tak mensyukuri apa yang kita miliki saat ini.

Yuk, kita belajar untuk lebih menerima lagi! 🙂