Meski zaman sudah semakin modern, nyatanya banyak pengusaha Tionghoa yang tetap menerapkan feng shui dalam bisnis mereka. Bahkan tak hanya mereka yang keturunan Tionghoa saja yang menerapkan feng shui ini. Pengusaha atau pelaku bisnis yang tidak berdarah Tionghoa sekalipun juga turut menerapkan feng shui, dengan harapan dapat mengikuti kesuksesan bisnis orang-orang Tionghoa.

Feng Shui adalah ilmu topografi kuno dari Cina yang mempercayai bagaimana manusia dan surga (astronomi), serta bumi (geografi) dapat hidup dalam harmoni untuk membantu memperbaiki kehidupan dengan menerima ‘Qi’ positif. ‘Qi’ terdapat di alam sebagai energi yang tidak terlihat.

Salah satu bukti nyata bahwa feng shui masih dianut kuat oleh masyarakat Indonesia adalah tidak adanya penamaan angka 4 di elevator gedung-gedung pencakar langit, termasuk mal-mal besar di ibukota. Berikut ini Hipwee mencoba membahas feng shui yang masih terdengar kuno bagi sebagian millennial Indonesia.

1. Identik dengan makna kematian, menjadi alasan mengapa angka 4 tidak ada di gedung-gedung pencakar langit

Nggak ada lantai 4-nya kan? via www.lazone.id

Tentang kepercayaan terhadap angka 4 ini bukan tanpa alasan. Jika dirunut, angka 4 dalam Bahasa Cina dilafalkan dengan shi yang juga bermakna kematian. Karenanya banyak pengusaha yang menjauhi angka yang dianggap akan membawa ketidakberuntungan ini. Dikhawatirkan dengan adanya unsur 4, bisnis tersebut bisa terkenal sial atau celaka.

Advertisement

Nah, ini yang menjadi alasan mengapa elevator di mal-mal dan gedung pencakar lainnya di Jakarta dan kota besar lainnya, tidak menggunakan angka 4 dalam penamaannya. Melainkan diganti dengan 3A. Ini juga berlaku untuk lantai 31, 22, dan 40 yang apabila dijumlahkan akan menjadi 4. Percaya nggak percaya sih ini

2. Jangan kaget kalau kebetulan mengunjungi ruko milik orang Tionghoa dan mendapati bel tergantung di dekat pintu masuk. Ini bukan iseng, melainkan ada makna dibaliknya

Tertiup angin, lalu berbunyi untuk menarik pelanggan via findingyourfiji.files.wordpress.com

Bel berupa lonceng logam kecil biasanya sengaja digantung di dekat pintu masuk lantaran punya filosofi sebagai penarik pelanggan. Biasanya bel lonceng ini diberi pita warna merah. Seperti yang sudah kita ketahui kalau warna merah dalam kepercayaan Tionghoa bermakna kemakmuran, semangat hidup, dan keberuntungan. Kalau boleh kita menganalogikan lonceng dengan kehadiran pelanggan, mungkin ada hubungannya sama bunyi lonceng sendiri yang dentingnya seolah memanggil siapa saja untuk datang.

3. Pintu masuk ada elemen yang penting, sehingga tata letaknya tidak boleh sembarangan. Sebisa mungkin tak ada penghalang, biar semua energi positif masuk

Mungkin ini maksudnya pintu menghadap ruang kosong via pegipegi.com

Pintu masuk menurut feng shui baiknya tidak dihalangi oleh keberadaan furnitur atau tirai sekalipun. Dengan kata lain, pintu masuk harus menghadap pada ruang kosong, agar energi positif yang akan datang tidak terhalang. Mungkin, secara logika agar pelanggan yang datang merasa nyaman dan tersambut saat memasuki toko. Jadi pelanggan yang bisa melihat langsung ke dalam toko atau bangunan, tidak merasa terintimidasi atau curiga jika melihat dari luar. Beda sama tempat pijat plus-plus yang remang-remang, baru lewat saja dah dibuat risih.

4. Jendela tak hanya berperan vital dalam hal sirkulasi udara di tempat usaha, jendela dipercaya punya andil besar dalam hal membuka pintu rejeki

Kalau banyak jendelanya kan, jadi nggak pengap. via aline-aline-aline.blogspot.com

Dalam ilmu feng shui, jendela juga berperan penting dalam hal mendatangkan rejeki. Jendela tak hanya berfungsi sebagai tempat keluar-masuknya udara, tapi juga sebagai celah untuk datangnya energi positif. Mungkin maksud energi positif di sini adalah siklus udara yang sehat. Kalau tempat usahamu nggak pengap, pengunjung pun bakal betah berlama-lama berkunjung.

5. Percaya atau nggak, keberadaan cermin dalam toko dipercaya dapat melipatgandakan pemasukan

Cermin dipercaya bisa menggandakan keberuntungan. via blog.urbanindo.com

Cermin yang ditaruh di dalam toko atau tempat usaha dipercaya bisa menggandakan nasib baik. Tak heran kalau banyak toko milik orang Tionghoa yang dipenuhi dengan cermin di dinding, etalase, atau bagian pilarnya. Hal tersebut agar seluruh produk yang dipajang bisa terlihat semua oleh pelanggan. Satu hal yang terpenting, jangan tempatkan cermin di hadapan pintu masuk. Untuk feng shui tentang cermin ini mungkin secara logikanya, kalau toko dipenuhi dengan cermin, maka ruangannya akan nampak lebih lapang dan seperti tadi yang sudah dibahas semua produk bisa terlihat dan kemungkinan untuk dilirik pelanggan lebih besar.

6. Ternyata, interior toko atau supermarket yang lorong-loronganya membingungkan bukanlah kesalahan desain. Hal ini disengaja berdasarkan feng shui juga

Sengaja dibuat bingung, supaya tak pikir panjang untuk membeli via mentalfloss.com

Salah satu toko yang mengadopsi feng shui ini adalah IKEA. Yup, meski pemiliknya bukan orang Tionghoa, nyatanya setiap cabang IKEA sengaja didesain dengan lorong-lorong yang bisa bikin pengunjungnya terperangkap kebingungan. Alhasil, karena udah kadung bingung, mereka pun membeli barang di sana dengan minim pertimbangan. Gimana nih, Guys? Setuju nggak dengan kepercayaan satu ini?

7. Menempatkan lemari pajangan atau etalase juga nggak bisa sembarangan. Dalam fengshui pantang punya furnitur yang tajam-tajam, takut halangi energi positif

Tak boleh ada ujung atau sudut yang keluar via thewoksoflife.com

Lemari pajangan atau etalase harus memiliki panjang yang sesuai dengan sudut tempat lemari tersebut berada. Jadi, letaknya harus sesuai dengan sudut ruangan. Nah, jangan pula menaruh etalase atau meja yang sisi tajamnya mengarah ke pintu masuk. Mungkin maksud dari feng shui ini supaya sisi tajam tersebut tidak mengganggu pelanggan yang datang. Kalau dilogika ya pastinya disamping memamerkan produk yang kamu jual, etalase juga merupakan item interior desain yang efektif buat ruang tidak terasa kosong.

8. Sebagian pengusaha masih percaya bahwa patung atau benda-benda tertentu bisa mendatangkan hoki. Misalkan, seperti patung katak berkaki tiga

Patung katak berkaki tiga via bukalapak.com

Kalau kamu coba mengamati, di toko atau supermarket yang pemiliknya orang Tionghoa, sering ditemukan adanya patung katak berkaki tiga. Patung katak ini biasanya di letakkan di dekat pintu masuk dan menghadap ke dalam. Selain itu, patung ini juga kerap sengaja ditaruh di bawah meja atau di dalam lemari. Tentang patung pembawa hoki ini, agak sukar dijelaskan dengan logika karena ini berkaitan dengan kepercayaan masing-masing orang. Bisa jadi, kenapa katak berkaki tiga, supaya tokonya cepat berkembang dan punya banyak cabang di mana-mana. Hmm, kalau gitu kenapa nggak patung laba-laba aja ya yang kakinya 8, biar cabangnya lebih banyak!

9. Bahkan dalam hal mendesain logo usaha pun sebagaian pengusaha yang masih percaya dengan falsafah tradisional, merancangnya berdasarkan feng shui

Contohnya gini via bandung.all.biz

Logo atau merek dagang juga ada feng shuinya. Karena logo atau merek dagang adalah doa, maka harus terdiri dari kata yang bermakna positif. Sebaiknya mengandung kata yang mencerminkan kesuksesan, seperti terang, jaya, makmur, maju, atau kata sukses itu sendiri. Pun, jika usahamu merambah sampai ke luar negeri, logo dan merek dagangmu harus dipastikan memiliki makna yang positif dalam bahasa negara tersebut.

Mengenai feng shui dalam bisnis ini kamu boleh percaya dan boleh nggak. Tergantung bagaimana kamu memaknainya saja. Tapi, jika dikaji ulang, masih ada beberapa aturan feng shui yang terbilang masuk akal, seperti pintu masuk harus menghadap ruang kosong, tentang jendela, dan keberadaan cermin dalam toko. Menurutmu gimana nih, Guys?