Henna merupakan tumbuhan alami dengan nama latin Lawsonia inermis yang bagian daunnya ditumbuk dan telah digunakan sejak zaman Mesir Kuno. Awalnya, penggunaan henna dikenal di beberapa negara seperti Afrika, semenanjung Mediterania, Timur Tengah dan India untuk mempercantik kulit dan tubuh. Lalu henna mulai masuk ke Indonesia sebagai budaya yang dibawa oleh orang-orang Timur Tengah khususnya untuk melukis tangan sebagai adat pernikahan. Saat ini, tren penggunaan henna semakin meluas, nggak hanya untuk melukis tangan di hari istimewa, henna juga kerap digunakan untuk mewarnai kuku dan rambut, atau tato temporer untuk bergaya.

Meski banyak yang memercayai bahwa henna bersifat alami dan aman digunakan, sebaiknya kamu tetap berhati-hati sebelum menggunakan tato henna. Apalagi sempat ada penyataan dari American Academy of Dermatology bahwa tato henna bisa menyebabkan reaksi alergi, seperti yang dilansir dari laman nbcnews. Henna yang dimaksud telah dicampur dengan bahan kimia berbahaya.

Agar lebih waspada, Hipwee Tips punya panduan singkat untuk membedakan mana henna yang asli natural dan henna berbahaya dengan campuran bahan kimia. Simak baik-baik, ya!

1. Bentuk atau teksturnya; henna alami biasanya dikemas dalam bentuk bubuk, henna dalam bentuk cair lebih berisiko dicampur dengan bahan kimia

henna bubuk lebih aman, tapi bukan jaminan via www.morroccomethod.com

Biasanya, henna alami ini dikemas dalam bentuk bubuk yang dicairkan dengan sejumlah materi alami seperti teh pekat, air lemon bahkan sejenis cairan kayu putih untuk membantu menghasilkan warna yang kuat, pekat, dan hasil yang lebih tahan lama. Namun kini, makin banyak beredar henna dalam bentuk gel atau pasta yang dikemas dalam cone maupun wadah kecil siap pakai.

Advertisement

Waspadai henna berbentuk cairan yang nggak kental seperti pasta dan bisa langsung digunakan. Henna cair seperti ini lebih mudah dicampuri bahan kimia lain untuk menghasilkan warna yang lebih pekat. Karena bentuknya yang cair, teknik aplikasinya bukan lagi diukir melainkan dilukis.

2. Komposisi atau kandungannya; henna dengan kandungan Para-phenylenediamine (PPD) perlu diwaspadai penggunaannya

begini jadinya.. via www.goodhousekeeping.com

Henna alami dibuat dengan menggunakan bahan-bahan herbal seperti bubuk henna (Lawsonia inermis) yang diracik dengan air perasan jeruk lemon, essensial oil dan gula. Sedangkan henna yang berisiko alergi biasanya terdapat kandungan Para-phenylenediamine (PPD) yang biasa disebut tar batubara.

PPD sendiri sudah familiar digunakan pada campuran produk cat rambut. Senyawa ini akan memberi efek pewarnaan hitam pekat pada henna dengan tekstur yang lebih kental dan efeknya yang tahan lama. Bagi beberapa orang dengan kepekaan khusus, produk berbahan PPD ini akan menyebabkan alergi. Gejalanya bisa berupa ruam, gatal, peradangan, timbul keloid, kulit melepuh, hingga bekas luka yang membentuk relief di sekitar kulit. Efek yang paling berbahaya adalah gangguan pernapasan, hati, hingga penyakit kanker darah.

Nah, dalam membeli produk apapun, sempatkanlah untuk membaca komposisinya untuk melihat kandungan apa saja yang ada di dalamnya. Jangan hanya tergiur pada keunggulannya saja lantas kita lupa efek sampingnya.

3. Warna bahan berikut yang dihasilkannya; henna alami menghasilkan warna-warna cerah seperti oranye hingga merah kecokelatan. Sedangkan henna berwarna hitam kemungkinan besar mengandung PPD

perhatikan warnanya via newworldhenna.com

FYI, warna yang asli yang dihasilkan henna natural adalah reddish-brown atau oranye yang cenderung menuju merah kecokelatan. Setelah henna diaplikasikan, kering dan rontok, akan tersisa warna orange semi kuning di kulit, warna ini akan berubah semakin gelap (beroksidasi) menjadi cokelat kemerahan dalam waktu 48 jam. Warna akhir ini tergantung pada sifat kimia di kulit atau tubuh si pemakai, beda orang bisa beda level warnanya. Belum lagi jika terdapat perbedaan merek henna yang digunakan.

Jika ada warna yang lain seperti hitam atau warna gelap lainnya, berarti henna tersebut hampir 100% mengandung zat pewarna rambut. Biasanya saat digunakan, henna akan tetap berwarna hitam, baik ketika diaplikasikan maupun setelah rontok atau beberapa waktu dibiarkan.

4. Jangka waktu henna mengering; henna alami membutuhkan waktu lebih lama untuk mengering, sedang henna dengan campuran kimia akan mengering lebih cepat

lihat prosesnya juga via www.paintitcool.com

Segala sesuatu yang alami memang butuh waktu untuk bereaksi, nggak seperti produk kimia yang bisa mengubah sesuatu secara instan atau super cepat. Serbuk dari tumbuhan henna tersebut umumnya berwarna hijau dan akan berubah warna menjadi merah kecokelatan ketika dicampur dengan air. Hingga sampai tahap ini, henna terbilang aman untuk digunakan. Setelah henna alami selesai diaplikasikan, proses pengeringan akan membutuhkan waktu sekitar 6 hingga 8 jam. Setelah kering, warnanya pun nggak spontan keluar, tetapi melalui proses sekitar 24 -48 jam. Warna henna akan semakin terang dan ketahanannya di kulit bisa mencapai 10 hari. Tentunya, tergantung dari cara peracikan masing-masing henna-nya.

Sedangkan henna berbahan kimia nggak membutuhkan waktu yang lama untuk mengering, warnanya pun akan langsung keluar hanya dalam hitungan menit. Hal ini lah yang membuatnya nggak aman untuk kulit, karena untuk mengeluarkan warna dengan cepat dan instan membutuhkan zat aditif atau bahan kimia campuran.

5. Baunya; henna alami berbau khas jamu atau tumbuhan kering, sedangkan henna abal-abal berbau zat kimia yang menyengat

bedakan baunya via groovygreenlivin.com

Selain dari tekstur, warna dan proses pengaplikasiannya, keaslian henna juga bisa dideteksi dari baunya. Jika baunya mirip-mirip herbal, jamu, potongan rumput atau sejenisnya, berarti henna tersebut asli natural. Namun jika baunya mirip bahan kimia yang menyengat dan nggak mengenakkan, maka segera jauhi saja.

6. Tes kepekaan kulit; henna alami nggak akan menimbulkan reaksi apapun di kulit selain perubahan warna, henna berbahan kimia akan menimbulkan reaksi alergi atau iritasi

tes kepekaan dulu via hipwee.com

Karena setiap orang memiliki jenis kulit yang berbeda-beda, ada baiknya kamu mengetes kepekaan kulit terlebih dahulu sebelum benar-benar menggunakannya.

Caranya, tempelkan sedikit tinta henna pada permukaan tangan atau kulit belakang telinga, tunggu sekitar 30 menit sampai kering atau rontok. Lihat reaksinya, jika nggak menimbulkan tanda-tanda masalah, lanjutkan pemakaian. Namun jika terjadi reaksi alergi atau iritasi seperti gatal-gatal, terasa panas atau kulit menjadi merah, segera hentikan. Artinya kulitmu intoleran terhadap kandungan dalam henna tersebut.

7. Terakhir, bedakan antara henna untuk mewarnai rambut dan henna yang khusus digunakan untuk melukis dan mewarnai kulit

lihat dulu peruntukannya via hennablogspot.com

Sesuai penjelasan di awal, sejauh ini henna kerap dimanfaatkan untuk mewarnai kulit, kuku, dan juga rambut. Namun, baiknya penggunaannya juga nggak asal-asalan. Perhatikan dulu spesifikasi dalam kemasannya, untuk kulit, kuku atau rambutkah? Jika nggak tertera atau justru tertulis bahwa henna tersebut nggak dikhususkan untuk bagian tubuh tertentu alias bisa dipakai baik di kulit, kuku, maupun rambut, usahakan mengetahui kandungan bahannya dengan membaca komposisi pada kemasan. Henna yang mengandung PPD biasanya diperuntukkan buat rambut, maka hindari kontak dengan kulit. Lagipula, tekstur rambut dan kulit kita berbeda. Jadi jangan menggunakan produk untuk rambut pada kulit, begitu pun sebaliknya.

Demikian ulasan singkat untuk mengetahui dan membedakan henna yang asli natural dengan henna yang berbahan kimia berbahaya. Satu lagi tips, sebaiknya hindari untuk menggunakan jasa melukis tato temporer yang kerap berkeliaran di tempat-tempat wisata, karena bisa jadi mereka menggunakan henna berwarna hitam yang berisiko alergi. Tato henna memang cantik, tapi kamu harus hati-hati memakainya. Jangan sampai keindahan goresan henna mengorbankan kesehatan kulit juga, ya!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya