Lu pakai krim apa sih? Kok jadi jelek gitu mukanya?

Eh, lu gendutan sekarang. Doyan makan banget, ya?

Jangan mimpi jadi model deh, lu. Tinggi aja mepet gitu…

Sekilas tak ada yang salah dengan pendapat yang orang lain sering lontarkan. Tujuan mereka pun kita tak pernah tahu, karena erat kaitannya dengan urusan kalbu. Tersinggung dan ingin tahu? Sudah pasti. Marah dan kesal karena tak bisa melawan? Sudah tentu. Lalu, bagaimana jika sudah begini?

Kenalkan lebih dulu, Aku. Gadis biasa yang jauh dari kategori sempurna sesuai kata orang-orang. Meski dengan begini, mereka telah mengotori pendapat Ibuku bahwa Aku adalah wanita tercantik di dunia.

Meski sekarang aku sendiri sadar, ‘cantik’ itu bukan sekadar pandai merias wajah dengan kuas-kuas bedak yang mirip pulasan cat itu. Pun dengan pewarna bibir yang kian banyak warnanya, persis seperti krayon favorit anak-anak TK. Intinya, cantik itu pilihan, bukan sebuah hal yang bertujuan untuk meraih pujian.

Wajah tak mulusku ini bukan kesengajaan. Kebetulan, Tuhan sedang menjajal kulitku dengan sebuah ‘ujian’

Tuhan sedang mengujiku via growingyourbaby.com

Advertisement

Aku pernah membaca beberapa artikel, dan mereka menyebutkan fakta ini; Meskipun jerawat dapat menghilang dengan sendirinya seiring pertumbuhan usia, namun pada sebagian kasus, masih ada yang mengalami masalah jerawat di pertengahan usia 20-an. Wanita usia 20-an tahun lima kali lebih berisiko mengalami hal tersebut dibandingkan pria usia 20-an tahun.

Kadang aku masih bersyukur karena wajah tak mulusku ini tak separah orang-orang. Hanya bentol-bentol merah seperti gigitan nyamuk, dan beberapa bercak hitam tanda bentolan itu sudah tinggal bekas. Di luar sana tak sedikit yang mengalami bentolan lebih besar, parah bahkan meradang. Ya, banyak yang menyebutnya sebagai bisul.

Tubuhku memang tak tinggi, apalagi seksi. Tapi, selagi aku tak pernah mengusik, mengapa kalian terus mencercaku dengan mem-bully?

aku memang tak seksi via keyword-suggestions.com

Panggilan semacam ‘cebol’, ‘pendek’, ‘hey bantet’ atau ‘ndut’ itu kejam, menurutku. Bukan karena pilihan katanya saja, tapi juga persoalan etika. Aku punya nama. Aku tegaskan sekali lagi, aku punya nama yang bisa kalian panggil dengan sewajarnya saja.

Meski sebetulnya aku melihat banyak pula kekurangan dalam diri kalian, apakah aku pernah sekalipun melontarkan ejekan? Apakah aku secara terang-terangan mengungkap seperti apa tampang kalian di mata orang lain? Oh tidak, tentu tidak.

Sekarang ini zaman ‘edan’. Jika kalian masih melihatku sebagai pribadi jelek yang penuh kekurangan, wajar saja kalau kalian aku sebut sebagai manusia ketinggalan zaman

kalian kuno! via p3health.net

Di saat orang lain sedang berlomba-lomba menjadi pribadi menawan dengan segudang kemampuan, kalian justru sibuk mencari-cari bahan baku untuk dijadikan bahan ejekan. Gedung-gedung pencakar langit di pusat kota juga sedang gencar merekrut manusia-manusia potensial dan berprestasi, bukan soal tampang yang bisa dipikirkan nanti-nanti.

Aku rasa kalian itu kuno. Kurang bisa membuka mata, hati dan pikiran bahwa fisik memang penting, tapi bukan penentu dari segalanya. Mulut kalian terlalu ‘nganggur’ kalau hanya sebatas mencela orang lain, tanpa mengenal bahkan berani melihat ke sisi yang lain. Ya, kalian sangat ketinggalan zaman. Maaf jika aku berlebihan, tapi inilah kenyataan.

Teruntuk kalian, maaf sekali lagi jika artikel ini kurang ajar. Pahamilah, bahwa aku hanya ingin hidup normal, tanpa celaan yang selalu kalian lontarkan.

Terima kasih, berkat kalian aku berhasil menjadi setegar dan setangguh ini.

Suka artikel ini? Yuk, follow Hipwee di mig.me!