Menjadi seorang “perawat” bagi ayah, ibu, pasangan, atau saudara yang sakit parah atau terkena musibah bukanlah hal yang mudah. Tak jarang, butuh waktu yang lama agar mereka bisa benar-benar sembuh. Beberapa bulan, bahkan beberapa tahun, bisa kamu habiskan untuk berada di samping mereka.

Statusmu sebagai “perawat” bisa menyita hidupmu, dan membuatmu rentan stres serta rasa frustasi. Sebenarnya, dalam kondisi seperti ini kamu juga harus merawat diri sendiri. Yuk, simak di bawah ini apa-apa yang bisa kamu lakukan untuk menanggulanginya…

1. Kamu Tidak Akan Bisa Melakukannya Sendirian. Jangan Segan Meminta Bantuan.

Meminta bantuan orang lain bukanlah hal yang haram. via erinharbert.wordpress.com

Kamu bisa saja sangat mencintai orang yang kamu rawat tersebut, sehingga ingin mengurus mereka sendirian. Jika kamu merawat orang tuamu, budaya Indonesia yang mewajibkan anak untuk berbakti akan membuatmu merasa wajib melakukan yang terbaik untuk mereka. Kamu ingin jadi orang pertama yang mereka lihat saat mereka bangun, dan orang terakhir yang ada di samping mereka sebelum mereka tidur. Kamu juga berusaha memastikan bahwa semua hal yang berkaitan dengan perawatan mereka berada di bawah pengawasanmu.

Sayangnya, kamu bukan robot atau komputer canggih. Kamu punya keterbatasan tenaga dan waktu. Kerjakanlah hal-hal yang menurutmu esensial, dan percayakan sisanya pada orang lain.

Advertisement

Kamu harus ingat bahwa selain kamu, banyak juga yang sayang pada orang yang kamu rawat itu. Biarkan seperti memandikan atau mengajak jalan-jalan bisa kamu percayakan pada anggota keluargamu yang lain. Jangan sungkan menerima bantuan dari orang lain, misalnya jika pamanmu ingin mengajak mereka jalan-jalan ke taman untuk beberapa jam.

2. Ingat: Rasa Frustasimu Valid.

Rasa frustasimu valid via www.npr.org

Ketika kamu menjadi seorang “perawat”, kamu akan merasa wajib mendahulukan kepentingan orang yang kamu rawat tersebut dibandingkan kebutuhan dirimu sendiri. Ini bisa membuatmu frustasi. Apalagi jika orang yang kamu rawat itu — entah karena penyakitnya atau kepribadiannya — tidak sepenuhnya menyadari betapa banyak kamu telah berkorban untuknya.

Kamu akan merasa jenuh, lelah, marah, dan ingin sendiri.

Kamu tidak egois hanya karena memiliki perasaan seperti ini. Kamu tidak lantas berhenti mencintai orang tuamu, suami atau istrimu, pasanganmu, atau saudaramu hanya karena harapan untuk sementara bisa sendirian melintasi kepalamu.

Ini hanyalah tanda bahwa kamu manusia. Jangan putus asa.

3. Berbagilah Pengalamanmu Dengan Orang Atau Organisasi Yang Bisa Mengerti

Gereja Kristen Indonesia – Pondok Indah mengunjungi Yayasan Doa Embun Kasih via gkipi.org

Depresi, kanker, Alzheimer, hingga kelumpuhan badan bisa menyerang siapa saja. Orang yang kamu rawat itu pasti bukan satu-satunya penderitanya; kamu juga bukan satu-satunya manusia yang berpengalaman merawat seseorang dengan penyakit tersebut.

Berbagilah pengalamanmu merawat dan mengasihi selama ini dengan mereka yang berada dalam keadaan serupa. Ini bisa membuatmu sadar bahwa kamu tidak sendirian. Selain itu, kamu akan punya tempat untuk sekedar berkeluh kesah atau berbagi informasi.

Misalnya, kalau kamu kebingungan menghadapi amukan ayahmu yang menderita Alzheimer, kamu bisa bertanya pada sesama “perawat” tentang apa yang harus kamu lakukan.

Cari juga organisasi atau lembaga di kotamu yang memiliki perhatian pada penyakit orang yang kamu rawat. Bersama organisasi ini, kamu bisa berpartisipasi menggalang kesadaran publik tentang penyakit tersebut. Misalnya, ketika organisasi itu ingin mengadakan lomba Run For Diabetes atau konser Rock Against Cancer di kotamu, kamu bisa membantu mereka menggalang dana. Tentu indah menjadi insan yang bermanfaat bagi sesama.

4. Jadikan Anggota Keluarga Yang Lain Atau Sahabatmu Sumber Kekuatanmu

Anggota keluargamu yang lain adalah sumber kekuatanmu. (Foto: Bitera) via likeitmatters.com

Ketika kamu merasa sudah hampir melampaui “ambang”-mu, tariklah napas dalam-dalam dan hembuskan. Hubungi anggota keluargamu yang lain, atau teman-teman terdekatmu. Ceritakan dengan jujur apa yang kamu rasakan, dan keluarkan hal-hal yang selama ini kamu pendam atau pertanyakan.

Kamu membutuhkan dukungan moril agar tetap kuat. Tetap terhubung dengan keluarga atau teman terdekat bisa sangat membantu usahamu.

5. Luangkan waktumu untuk “merawat” diri sendiri

Luangkan waktumu untuk sendirian via apartamento104.com

Menghabiskan sebagian besar waktumu untuk merawat orang lain tidak akan membuatmu mampu mengingkari kebutuhan dirimu sendiri.

Kamu tetap butuh istirahat yang cukup, tidur yang nyenyak, makan makanan bergizi, dan waktu untuk diri sendiri. Kamu tetap berhak menonton acara TV kesukaan, mendengar musik yang menyenangkan, dan pergi ke mall sekali waktu.

Ini sama sekali bukan kelakuan yang egois. Kalau kamu gagal menjaga kesehatan fisik dan mentalmu sendiri, kamu juga tidak akan mampu merawat orang yang kamu kasihi dengan maksimal.

6. Buatlah momen penuh kejutan dengan orang yang kamu rawat — bahkan jika tubuhnya sedang terbaring di atas bed rumah sakit.

Buat momen manis dengan mereka via www.red17.com

Jangan biarkan musibah yang menimpa orang yang kamu kasihi itu membuat kalian kehilangan kesempatan bersenang-senang. Kunjungan rutin ke rumah sakit, konsultasi wajib ke dokter, cuci darah, fisioterapi, obat antidepresan, antikecemasan, antipsikotik: semua itu tidak boleh merenggut hakmu maupun orang yang kamu rawat untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan.

Sekali-kali, bawalah orang tuamu makan di restoran enak. Ajak pacarmu selfie saat dia sedang terbaring di bed rumah sakit. Pasang musik keras-keras di kamar nenekmu, dan ajak beliau berkaraoke puluhan lagu. Ingatkan dirimu sendiri dan mereka bahwa selalu ada alasan untuk bahagia.

Merawat orang yang menderita musibah atau sakit parah tak akan bisa dilakukan tanpa merawat dirimu sendiri, serta rasa cintamu yang tulus pada orang tersebut. Semoga tips-tips di atas bisa meringankan bebanmu, ya. Segalanya selalu bisa baik-baik saja.