Dewasa ini, traveling jadi salah satu kegiatan yang naik daun di antara anak muda Indonesia. Menyambangi tempat-tempat terbaru, mengeksplorasi setiap sudut tanah air demi memperkaya pengalaman hidup jadi hal yang membuat kita rela menabung demi membeli tiket.

Tentu bagus jika anak muda Indonesia berani mengeksplorasi tanah air dan berbagai tempat menarik lain di dunia. Tapi apakah hobi yang sedang naik daun ini berbanding lurus dengan kesadaran kita menjaga destinasi yang disambangi?

Sayangnya belum.

Gunung-gunung makin banyak sampahnya, Pulau Sempu yang seharusnya tak boleh dimasuki justru diinjak-injak. Pada kenyataannya, masih banyak dari kita yang belum sadar kalau kehadiran kita atas nama traveling itu berdampak pada alam. Sebagai langkah awal untuk menjadi traveler yang bertanggung jawab dan sadar lingkungan, ada baiknya kita memulai dari diri sendiri. Salah satunya, dengan melakukan hal-hal berikut ini saat kamu traveling.

1. Membuang sampah dari genggaman memang menggiurkan. Tapi kalau memang cinta lingkungan — kamu akan mengantungi dulu sampah yang kamu hasilkan.

Bawa pulang sampah itu ganteng, Bro! via instagram.com

Advertisement

Sebagai traveler yang cerdas, kita udah tahu permasalahan paling klasik pada setiap tempat wisata yang kita datangi: SAMPAH.Well, emang sih, sampah yang berserakan itu gak selalu datang dari wisatawan. Warga lokal juga nyatanya banyak yang buang sampah sembarangan, kok. Apalagi, masih banyak tempat wisata yang minim tempat sampah.

Gak bisa dipungkiri kalau buang sampah sembarangan adalah salah satu penyakit kronisnya orang Indonesia. Tapi, kita bisa memulai perubahan dari diri sendiri, kok. kantongi sampahmu sampai nemu tempat sampah. Kalau naik gunung atau traveling ke tempat yang masih alami, bawa pulang lagi sampahmu.

Tentu saja, ini adalah etika yang seharusnya udah dipahami dan dijalankan oleh traveler yang sadar lingkungan. Hanya karena kamu udah membayar sejumlah uang buat jalan-jalan, bukan berarti kamu bebas nyampah di sana.

2. Pejalan yang cinta lingkungan tak akan mudah tergoda. Walau ada tumpukan sampah di depan mata, kamu tidak mudah mengikuti kelakuan yang sama

Jangan tambah lagi dengan sampahmu! via nurulaneh.blogspot.com

Kalau kamu melihat tumpukan sampah di atas gunung atau di tempat-tempat lain yang notabene itu alam liar, JANGAN IKUT-IKUTAN MEMBUANG SAMPAHMU KE SANA! Bisa jadi, timbunan sampah itu awalnya adalah tempat yang bersih. Lalu, ada satu orang yang membuang di situ, lalu orang kedua, orang ketiga, dan seterusnya sampai akhirnya sampah menggunung di atas gunung.

Please, bawa pulang sampahmu, setidaknya sampai kamu menemukan tempat pembuangan sampah betulan yang dikelola oleh warga. Gak susah, ‘kan?

3. Di dalam tasmu selalu ada botol minum yang bisa diisi ulang. Kamu cukup peduli, plastik yang lama terurai bisa menyakiti bumi

Pakai ini nih biar greget via tikantikannada.blogspot.com

Salah satu cara mengurangi sampah yang kamu hasilkan selama traveling adalah dengan mengganti botol minum serta kantong yang bisa kamu gunakan berulang-ulang. Bawa botol minum sendiri dan isi ulang aja di tempat-tempat yang tersedia, daripada membeli air mineral yang botolnya langsung kamu buang.

Penggunaan kantong plastik juga sudah saatnya dikurangi. Bawa aja tas kanvas/totebag maupun kantong berbahan parasut yang mudah dilipat dan masukkan ke tempat yang mudah dijangkau di kerilmu selama traveling. Kalau kamu butuh kantong yang kedap air, drybag maupun kantong berbahan cordura bisa jadi pilihan. Jadi, perlahan kita bisa mengurangi sampah kantong plastik yang sangat mencemari lingkungan ini.

Oh iya, jangan mentang-mentang kantong plastik sekarang itu biodegradable, kamu jadi jor-joran pakai plastik. Soalnya, sekalipun biodegradable, mereka masih membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terurai.

4. Kakimu ringan soal urusan jalan kaki. Hitung-hitung menghemat ongkos dan mengurangi kadar emisi

Jalan kaki aja via deliciousa.wordpress.com

Jika memang tempat-tempat wisatanya berdekatan dan alat transportasi umumnya memadai, misalnya kayak di Singapura, gak perlulah sewa kendaraan di sana. Selain sehat, jalan kaki juga memberi kamu kesempatan untuk blusukan ke gang-gang yang gak ada di peta, siapa tahu kamu malah menemukan pengalaman menarik di sana? Lagian jalan kaki itu gratis bin ekonomis. Bro!

5. Transportasi umum jadi andalan setiap pergi. Kalaupun harus naik kendaraan pribadi, kamu akan mengajak teman agar bisa berbagi “dosa” emisi

Traveling dalam grup kecil via www.mastertvl.com

Selain lebih hemat, traveling berkelompok juga membantumu mengurangi sampah dan emisi yang kamu hasilkan. Misalnya, alih-alih naik motor sendiri-sendiri, kamu bisa berboncengan dengan temanmu dan menghemat uang bensin sampai setengahnya. Atau, kalian juga bisa memanfaatkan satu peta yang sama saat menjelajahi suatu tempat. Masak untuk beberapa orang juga lebih hemat energi dibanding masak sendiri-sendiri, ‘kan?

6. Hanya karena sudah membayar, kamu tidak langsung bertindak seenaknya. Air hotel yang jadi penyedot air tanah terbanyak selalu digunakan seperlunya saja

Hemat air saat mandi via www.huffingtonpost.com

Shower plus air panas yang tersedia di hotel emang bikin kita pengen mandi wajib berlama-lama. Tapi, ingat dulu ibu kita sering mengingatkan untuk menghemat air? Bukan karena tagihan airnya bakal mahal, tapi air itu bukan cuma milik kita sendiri. Apa jadinya kalau kita ada di tempat yang minim air. Apalagi, hotel adalah salah satu penyedot air tanah paling masif di kawasan permukiman.

Dalam otakmu tidak ada tuh mindset kekanak-kanakan seperti: “Ah, Gue udah bayar ini, suka-suka gue, dong!”

7. Saat tidak ingin menggunakan toiletries di hotel, kamu tidak akan membukanya. Selain mubazir, sisa sabun dan shampo yang terbuang bisa membuat alam tersiksa

Toiletries via www.ealuxe.com

Menyisakan perlengkapan mandi yang tersedia di kamar mandi hotel sama aja dengan mencemari lingkungan. Sisa pemakaian itu kemungkinan besar akan diambil, dibuang, lalu diganti dengan yang baru. Nah, kalau kamu gak berniat menggunakan toiletries ini sampai habis, mendingan gak usah dibuka sekalian, deh.

8. Saat naik gunung atau trekking, jalur resmi akan kamu pilih untuk didaki. Jalur baru cuma akan kamu buka di keadaan emergency

Lewati jalur resmi via blognyagoem.blogspot.com

Selain berbahaya—kamu bisa nyasar, hilang, dan hal-hal gak enak lainnya—membuka jalur baru juga berpotensi mengancam ekosistem kawasan yang kamu lalui. Sama kasusnya dengan sampah yang menumpuk di gunung, jika kamu membuka jalur baru di luar jalur resmi, orang-orang di belakangmu mungkin akan mengikuti jejak yang kamu buat. Gimana kalau di jalur yang kamu lewati ternyata ada flora atau fauna langka yang dilindungi?

9. Haram hukumnya bagimu masuk ke cagar alam tanpa SIMAKSI. Atau melakukan aktivitas yang bertentangan dengan kebiasaan warga lokal di destinasi

Pulau Sempu harusnya gak boleh dijadikan kegiatan wisata via www.tanpakendali.com

Selama traveling, tentunya ada tempat yang boleh kita datangi dan ada pulang yang gak boleh. Nah, tentu ada maksud tertentu jika kita gak boleh mengunjungi suatu tempat atau kawasan; bisa jadi dimaksudkan untuk melindungi kamu (daerah perang misalnya) atau bahkan kawasan itu sendiri.

Contoh paling gampang adalah Pulau Sempu yang udah Hipwee bahas di artikel tersendiri. Sebagaimana yang kita tahu, pulau ini adalah kawasan cagar alam yang steril dari segala kegiatan wisata; untuk mengunjunginya kamu wajib memiliki SIMAKSI, kok masih nekat?

“Orang lain boleh, kenapa saya enggak?” Kalau orang lain melanggar aturan, kamu gak perlu ikut-ikutan, ‘kan?

10. Saat bertemu hewan liar, kamu tak semudah itu memberi mereka makanan. Menyuapi mereka snack manusia sama jahatnya dengan memenjarakan mereka di kandang berteralis baja

Biarkan hewan liar hidup sebagaimana mestinya via www.flickr.com

Ya, memberi makan hewan liar yang kamu temui di alam gak akan mempermudah hidup mereka. Salah-salah, perilaku makan mereka di alam bebas bisa berubah. Kamu lebih memilih membaurkan dirimu dengan alam dan tidak membuat kegiatan yang mengganggu mereka. Sebagai sesama makhluk udah sepantaskan kita menghargai keberadaan satu sama lain.

11. Moto perjalananmu: “Jangan tinggalkan apapun kecuali jejak, jangan ambil apapun kecuali foto dan kisah manis, dan jangan bunuh apapun kecuali waktu dan kenangan sama mantan!”

Jangan tinggalkan apapun kecuali jejak via whatsnextph.org

Inilah etika paling dasar yang mesti dipahami tak cuma oleh pecinta alam, tapi juga seluruh traveler yang ingin menerapkan kegiatan traveling yang ramah lingkungan dan bertanggung jawab. Dengan melakukan tiga hal sederhana ini, kamu telah menjaga keberlangsungan tempat yang kamu datangi agar tetap bisa didatangi oleh anak-cucu kita kelak.

Tentunya, Hipwee gak bermaksud menggurui caramu traveling, karena itu adalah pengalaman personal bagi masing-masing orang. Tapi, saat traveling kita gak akan lepas dari alam dan masyarakat, sehingga udah sewajarnya kita menghargai apa yang sudah diberikan alam bagi kita dengan cara menjaganya.

Ingat, traveling itu bukan sekadar senang-senang dan hura-hura. Lagian, siapa bilang traveling sadar lingkungan itu gak menyenangkan?